
Safira memejamkan mata kala tubuhnya mulai terasa limbung dengan lutut yang seperti agar-agar. Dia semakin mengeratkan pelukan di tubuh mungil Harhsa sambil terus berusaha mengendalikan diri. Kemudian saat tubuh bagian bawahnya hampir menyentuh lantai marmer, Harsha direbut dari pelukannya dan membuat ia tersentak.
“Harsha,” ucap Safira lirih.
“Mamah kenapa?”
Suara lembut Alvin meredam serangan panik Safira lebih dari setengahnya, membuat wanita itu jauh lebih mudah mengendalikan deru napas. Safira perlahan membuka kelopak mata lalu visual Alvin yang terlihat khawatir menyambutnya. Putra pertamanya itu berdiri terpaku bersama Harsha dalam dekapan.
“Mamah baik-baik aja? Apa mamah sakit?” tanya Alvin.
Bocah sebelas tahun itu tak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari kedua mata bulatnya. Kaki kecilnya segera melangkah menuju ranjang, menidurkan Harsha lalu kembali kehadapan Safira.
Alvin mengulurkan tangan, menyentuh lengan Safira untuk membantu ibunya berdiri. “Bangun, Mah. Nanti mamah sakit kalau duduk dibawah.”
Dan Safira, sebagai satu-satunya orang dewasa dalam ruang tidur itu, hanya bisa mengikuti ucapan Alvin. Dia membiarkan putranya menuntun dirinya menuju ranjang dan duduk di tepian.
“Mamah nggak apa-apa?” ulang Alvin.
Safira tersenyum tipis dengan mata sayu yang ia paksakan untuk terbuka. “Mamah nggak apa-apa, Mas. Sebentar ya, mamah ambil napas dulu,” jawabnya lirih, kembali memejamkan mata.
Sudah lama sekali sejak ia mengalami serangan panik, terakhir kali setelah insiden penculikan Alvin dan Zain. Rasa takut dan traumatis akan hal itu membuatnya beberapa kali tiba-tiba merasa cemas bahkan saat kedua putranya berada didekatnya. Namun, setelah mendapatkan terapi serangan panik itu berangsur hilang.
__ADS_1
Jadi saat Safira mendapatkannya lagi, ia tak siap. Untungnya ia ingat jika Harsha berada dalam dekapannya, juga dengan keberadaan Alvin yang tepat waktu. Entah bagaimana, jika diingat-ingat, anak itu beberapa kali selalu membantu disaat yang tepat.
Sentuhan lembut di pipi dan tangannya membuat Safira membuka kelopak mata sekali lagi, perlahan ujung matanya melihat Alvin yang tengah memandang wajahnya membuat Safira tanpa sadar menoleh.
“Mamah udah nggak apa-apa sekarang?” tanya anak itu, menarik tangan dari wajah Safira.
Safira menahan tangan Alvin agar tetap di pipinya. “Tangan Mas Alvin hangat.”
Alvin mengerutkan kening. “Mamah kenapa, sih?” protesnya, menarik tangan. Lalu saat Safira menggeleng, membuat anak rambutnya berantakan, ia dengan sigap menyampaikan helaian coklat itu ke belakang telinga Safira.
Sedangkan Safira tersentak dengan refleks putra pertamanya itu. “Ya ampun, Mas Alvin. Kamu manis banget, deh.”
Tanpa Alvin sadari, begitulah cara Safira menenangkan diri dari serangan paniknya yang mulai reda. Mungkin jika ada Ashqar disisinya saat ini, wanita itu akan memilih untuk menenggelamkan diri dalam pelukan hangat suaminya.
✿✿✿
Tepat ketika matahari hampir diatas kepala, menyingkirkan sisa-sisa air semalam dan hawa dingin pagi tadi, Safira sudah duduk manis di dalam mobil bersama Sari yang lelah mengomel. Ibu sambung Safira itu terkejut menerima telfon dari salah satu supir keluarga, mengatakan jika Safira menyusul dan sudah ada di depan sekolah Zain.
Memang tak ada yang bisa menandingi keras kepala Safira, meski sudah diberitahu bahwa untuk sementara Sari akan mengantar-jemput Alvin dan Zain, juga menunggu mereka sekolah. Namun, alih-alih duduk manis di rumah, Safira datang dengan mobil lain dan membawa Harsha bersamanya.
“Kamu pulang sekarang,” ucap Sari memecah keheningan.
__ADS_1
“Nggak, ah. Aku udah nyampe sini masa disuruh pulang.”
Sari menoleh, menatap lelah pada Safira. “Nggak ada yang nyuruh kamu kesini. Lagian tadi pagi bapak udah bilang, kamu diem di rumah. Kenapa masih bandel, sih? Kamu nggak inget kalau kamu itu lagi hamil.”
Safira tertunduk dan terdiam untuk beberapa saat. Melihat itu Sari sedikit merasa bersalah. Dia berpikir bahwa ia sedikit terlalu keras dengan Safira.
Sari baru saja mengulurkan tangan untuk membelai rambut Safira saat wanita itu tiba-tiba berbisik, “Aku takut kalau Zain sampai mengalami kejadian kayak kemarin, Bu.”
Tangannya yang tertahan di udara segera ia jatuhkan dengan lembut ke atas kepala Safira lalu membelai surai coklat panjang milik putrinya. Sebagai seorang wanita, Sari sangat memahami perasaan Safira.
Begitu banyak masalah yang terjadi dalam kehidupan anak dan menantunya secara bersaam, sudah pasti itu bukan hal yang mudah. Namun, sebagai seorang ibu, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Safira karena keras kepala wanita itu sendiri.
“Ibu ngerti perasaanmu, Fir. Tapi anakmu nggak cuma Zain, ada Harsha dan calon bayi kamu yang saat ini lebih perlu kamu prioritaskan. Soal Zain atau Alvin, biar ibu yang yang jaga.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1