
“Mah.” Ashqar memanggil Safira dengan suara lembut, memberi peringatan. “Maaf, Bu Mira. Tolong dikasih tahu kenapa anak-anak kami bisa sampai bertengkar.”
Wali kelas Alvin langsung menjelaskan kronologi pertengkaran Alvin dan Aldi sebelum kembali diinterupsi oleh Ajeng. Dia mengatakan pertengkaran itu bermula dari saling ejek hingga berujung dengan saling pukul.
“Saya sempat bertanya pada Alvin dan Aldi tentang apa yang mereka ributkan sebelumnya. Mereka mengakui jika itu bermula dari ...,” ucap Mira tak yakin, menatap wajah Ashqar dan Safira beberapa saat. Lalu setelahnya ia melanjutkan, “persoalan keluarga.”
“Pasti gara-gara gosip di televisi,” ucap Ajeng sinis. “Ya, bukan salah anak saya kalau dia bertanya. Secara itu berita nasional.”
“Bu Ajeng, tolong jangan berkomentar yang tidak perlu,” tegur kepala sekolah.
“Loh? Itu kenyataan loh, bu. Keluarga mereka ini nggak jelas asal usulnya. Yang satu bawaan bapaknya terus yang ini ....” Ajeng melirik Alvin lamat, menatap dari bawah keatas. “Udah jadi bahan obrolan ibu-ibu. Jadi nggak salah kalau anak saya penasaran, anak mereka aja yang attitude-nya buruk.”
Suasana seketika menjadi hening. Baik Ashqar dan Safira ataupun dua pengajar kehilangan kata-kata mendengar ucapan Ajeng yang seakan tidak kenal tempat. Wanita itu bahkan masih mengoceh hingga Mira, wali kelas Alvin, harus menenangkan secara langsung dan memperingatkannya.
Sedangkan Ashqar sudah sejak tadi membelai pundak Safira agar tetap tenang. Pria itu tak ingin istrinya lepas kendali dan membalas Ajeng secara verbal atau fisik. Meski Ashqar yakin jika terus menahan Safira maka ia lah yang akan menjadi tumbal nanti saat di rumah.
__ADS_1
“Disini nggak ada yang salah atau yang benar, dua-duanya tetap salah,” ucap kepala sekolah. “Tapi pihak sekolah ingin bapak-ibu mengetahui hal ini sebagai bentuk tanggungjawab bersama dalam mendidik anak-anak ini, karena sejatinya mendidik anak-anak bukan hanya tugas guru di sekolah.”
“Nggak bisa dong, bu.” Ajeng menyela. Dia menarik dagu anaknya menghadap pada kepala sekolah lalu wali kelas. “Muka anak saya lebam begini, loh. Masa nggak ada yang tanggungjawab?” katanya, melirik Safira sinis.
Safira berdecih. Kemudian wajah masamnya berubah langsung dihiasi senyum tipis. Sambil menatap teman sekelas Alvin, ia berkata, “Nak, besok kalau besar jangan berlebihan kayak bunda kamu, ya? Malu-maluin.”
Astaga. Ashqar ingin sekali mencubit bibir julid Safira, tapi menyadari situasi yang sedang dihadapi tak mungkin untuknya melakukan hal itu. Jadi pria itu hanya bisa menggelengkan kepala, tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Sementara itu, Ajeng langsung berdiri sambil berkacak pinggang. “Heh!”
“Nggak usah, hah-heh-hah-heh.” Safira ikut berdiri. “Dasar ibu-ibu rempong. Makanya dulu kalau sekolah otaknya jangan ditinggal di rumah. Bego ‘kan, sekarang?”
Ajeng baru membuka mulut, entah apa yang ingin dikatakan, tapi Safira jauh lebih cepat memanfaatkan momen. Dengan masih mempertahankan senyum manis di wajahnya, Safira menyematkan rambut di belakang telinga lalu menenteng tas hitam kesayangannya.
“Ibu kepala sekolah dan Bu Mira, saya mohon izin buat undur diri. Masalah ini biar suami saya yang bicara. Terimaksih.” Safira menjabat dua orang pengajar di ruangan itu lalu berbisik di telinga Alvin. “Jangan takut kalau kamu nggak salah.”
__ADS_1
Setelahnya Safira berjalan ke luar ruangan dan begitu ia sudah melewati pintu ruangan, senyuman manis di wajahnya seketika luntur. “Dasar ibu-ibu kampret,” gerutunya, menendang udara.
Kemudian dengan langkah yang dihentakkan, Safira menuju mobil yang terparkir di luar sekolah. Saat ia melewati area parkiran tanpa sengaja ujung matanya melihat sepeda motor yang tak asing. Safira menghentikan langkah, menoleh secara dramatis lalu seketika satu ujung bibirnya tertarik begitu menyadari siapa pemilik motor berwarna hitam di hadapannya.
Safira mendekat, memperhatikan setiap sisi motor. “Ya Allah, saya bukannya nggak percaya keadilan-Mu. Cuma ciptaan-Mu yang satu itu emang ngeselin banget, jadi biar saya duluan aja yang bales,” bisiknya.
Safira berjongkok di depan ban belakang sepeda motor, mencari dimana pe’ntil ban. Lalu setelah menemukannya, Safira dengan cepat dan hati-hati mengosongkan sedikit isi ban motor. Tidak hanya satu, tapi kedua ban kendaraan roda dua itu Safira kerjai.
Dengan perasaan bangga, sambil menepuk kedua telapak tangannya, Safira menatap hasil pekerjaannya. Kedua ban itu tidak terlihat kempis, bahkan saat dikemudikan yang mengendarainya tidak akan sadar sampai nanti tiba-tiba bannya bisa bocor saat perjalanan, apalagi permukaan ban-ban itu sudah halus.
.
.
.
__ADS_1
✄................................................
Bersambung~