Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ancaman


__ADS_3

Hampir tengah hari saat Rafa dan Ashqar meninggalkan kediaman Handoko. Mobil sedan hitam mereka berjalan lambat ditengah jalanan ibu kota yang padat, teriknya sinar matahari seakan melelehkan isi kepala meski belum berada pada puncaknya. Ashqar menatap keluar dari kaca mobil, pemotor memadati barisan depan pemberhentian lampu merah, sebagian dari mereka berusaha menyembunyikan diri dibalik bayang-bayang pohon tepi jalan sementara lainnya pasrah menjadi sasaran cambuk surya karena tak kebagian tempat.


Diantara barisan itu, Ashqar menemukan seorang anak seusia Zain dengan helm kebesaran yang duduk dibagian belakang motor, memeluk erat wanita didepannya. Dalam benaknya Ashqar merasa familiar hingga tanpa sadar sudut-sudut bibirnya tertarik naik. Dia rindu keluarga kecilnya.


Kemudian tiba-tiba saja ponselnya berdering dan membuyarkan lamunan Ashqar. Ketika ia melihat layar ponselnya, Ashqar tidak bisa menyembunyikan gurat bahagia. Sebuah kebetulan menyenangkan saat seseorang yang tengah dipikirkan seakan bisa merasakan kerinduan yang sama. Namun, kebahagiaan Ashqar seketika pudar kala menyadari jika panggilan dari Safira tidak benar-benar berasal dari orang yang sama.


Sambil menghembuskan napas, Ashqar menggeser ikon berwarna hijau. “Assalamu’alaikum, Bu. Ada apa?”


“Bu?”


Ashqar berjengit. Dia menjauhkan ponsel dari telinga dan menatap layar untuk beberapa saat. Sudah jelas jika ponsel Safira berada ditangan Sari, tapi kenapa suara istrinya yang ia dengar?


“Sa-fira?” tanya Ashqar ragu-ragu.


“Iya, emangnya siapa lagi?” ucap Safira galak. “Belum ada sehari udah lupa sama istrinya. Ngomong-ngomong, wa’alaikummussalam.”


Ashqar meringis dan tanpa sadar melirik Rafa yang tengah menatapnya. Lewat gerak bibir, Rafa bertanya apakah telfon yang ia terima dari Safira dan Ashqar mengangguk.

__ADS_1


“Kok, HP-nya ada di kamu?” tanya Ashqar hati-hati.


Dari seberang sambungan Safira terdengar menghembuskan napas kasar lalu dengan satu tarikan napas panjang perempuan itu mengomel tentang bagaimana ketidak pekaan Ashqar terhadap dirinya. Safira juga berkata bahwa tidak seharusnya Ashqar menyembunyikan ponselnya hanya karena takut jika ia akan melihat perkembangan gosip Nita.


“Aku tahu ide ini bukan sepenuhnya ide Mas, ‘kan? Kak Rafa juga pasti terlibat.”


“Kamu paling tahu gimana over protective-nya dia, Sayang.” Ashqar sengaja berkata demikian. Selain memang itu kenyataannya, tapi tentu saja ia tidak ingin menjadi satu-satunya yang disalahkan.


Setelah mendengar ucapan Ashqar, Safira tak lagi mengeluh tentang hal itu. Sesaat Ashqar bisa bernapas lega. Namun, begitu Safira mengatakan Alvin terkena masalah, kelegaan Ashqar luntur seketika.


“Alvin kenapa, Yang?” tanya Ashqar buru-buru.


“Biasanya Alvin selalu bisa mengendalikan diri. Dia pendiam, ngalah dan nggak suka sesuatu yang ribet, tapi hari ini dia mukul temennya gara-gara gosip ini. Aku takut nanti dia kelepasan lagi kalau ada temennya yang lain tanya-tanya tentang gosip di TV. Jadi aku pikir lebih baik kalau Alvin libur sekolah dulu. Gimana, Mas?”


Ashqar memijit pelipisnya, helaan napasnya terdengar dalam dan berat. Sambil melemparkan pandangan keluar, dia berkata, “Aku tahu kekhawatiran kamu, Yang. Tapi menurutku meliburkan sekolah Alvin bukan keputusan yang bijak. Dari ceritamu, Alvin seharusnya udah tahu kesalahannya jadi dia bakal lebih bisa menahan diri kedepannya.”


“Tapi, Mas ....”

__ADS_1


“Safira,” potong Ashqar dengan nada lembut yang langsung membuat Safira terdiam. “Alvin itu pendengar yang baik, apalagi kalau yang bicara kamu. Jadi biar dia sekolah kayak biasanya, biar dia menghadapi masalahnya. Ini persoalan anak-anak, Sayang. Jadi sebagai orang tua, kita nggak usah ikut campur berlebihan.”


“Aku khawatir kalau masalah ini berdampak semakin buruk buat anak-anak.”


“Kamu sendiri udah bilang sama Alvin kalau kita baik-baik aja, jadi kita juga harus menunjukan itu. Jangan terlalu khawatir, inysa’allah semuanya segera membaik.”


Sekali lagi Ashqar mengingatkan diri sendiri bahwa ia menikahi wanita keras kepala, membujuk Safira hampir sama sulitnya dengan berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak lima kali. Mungkin tercapai, tapi dengan kerja keras.


Ashqar sudah seperempat jalan menuju keberhasilan membujuk Safira, hanya sedikit lagi sampai akhirnya istrinya itu akan luluh. Namun, dengan kurang ajar Rafa justru merebut ponselnya dan menyiram bensin diatas arang yang hampir padam.


“Kamu kalau susah susah diatur malah tak kurung di rumah, Fi. Alvin sama Zain biar sekolah, keamanan mereka bakal diperketat. Terus kamu, jangan harap bisa nyusul Alvin dan Zain ke sekolah,” ucap Rafa. Setelahnya dia langsung mematikan sambungan telefon dan menyerahkan ponsel ke Ashqar.


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Bersambung..


__ADS_2