Gaung Rasa

Gaung Rasa
Pak Purnomo


__ADS_3

Rasa bersalah menyelimuti dada Safira, membuat sesak dan mendesak air mata untuk keluar. Namun, sekuat mungkin wanita tiga anak itu menahan diri dan mengulas senyum tipis. Dia tak bisa terlihat lemah dan berdaya di depan anak-anaknya, meski itu berarti ia harus menahan sakit dari pertanyaan polos Zain.


Anak itu jelas tak bersalah, keadaan mereka saat ini adalah buah dari popularitas Nita. Biar bagaimanapun semakin terkenal seorang publik figur maka semakin besar rasa ingin tahu publik dan beberapa pihak atas kehidupan pribadi orang tersebut. Karena itu semua disinilah mereka saat ini, masuk kedalam situasi sulit yang coba mereka hadapi. Namun, tetap saja, sebagai seorang ibu Safira ingin memastikan dunia putranya tetap baik-baik saja.


“Sama aja tho, Mas. Nanti papah juga kesini nyamperin kita,” ucap Safira, mencoba selogis mungkin membuat alasan.


Namun, Zain memang hampir seperti dirinya, keras kepala dan kritis dalam menanggapi ucapan lawan bicara.


“Beda, Mah. ‘Kan, Zain jadi nggak bisa duduk di atas koper.”


Safira kehilangan kata-kata. Kemudian senyum kakunya tergantikan tawa kecil lalu ia mulai terpingkal sendiri, apalagi ekspresi Zain yang jadi kebingungan. Mungkin tak menyangka dengan respon Safira.


“Mamah kenapa, sih?” tanya Alvin.


“Iya. Mamah kenapa, sih? Kok, tiba-tiba ketawa?” sahut Zain.


“Nggak. Nggak kenapa-kenapa,” jawab Safira disela-sela tawanya, mengibaskan tangan di depan wajah.


Sementara itu, Alvin dan Zain memilih untuk mengabaikan Safira. Kedua anak itu kompak menyibukan diri, Alvin yang memejamkan mata dan Zain dengan Nintendo Switch hadiah dari Rafa.


Untuk beberapa menit, suasana dalam mobil menjadi tenang. Semua orang sibuk dalam diam masing-masing hingga supir pribadi Edi memanggil Safira.

__ADS_1


“Pesawat Mas Rafa sama Mas Ashqar nggak delay ‘kan, Mbak?”


Seketika Safira mencium kejanggalan. “Nggak. Kenapa emangnya Pak Pur?” tanya Safira, penuh antisipasi.


Pak Pur menggeleng, senyumnya terlihat teduh dengan garis senyum yang dalam karena mulai dimakan usia. “Nggak apa-apa, Mbak. Tadi bapak pesen sama saya, katanya kalau pesawat Mas Rafa dan Mas Ashqar delay lebih dari satu jam, saya disuruh bawa mbak sama anak-anak pulang. Nggak usah nunggu.”


Safira berdecak keras sambil menurunkan sandaran kursi. Edi tetaplah Edi seperti yang Safira kenal selama ini, pria tua yang suka mengatur seenaknya sendiri. Lagi, meski hubungan mereka sudah jauh lebih baik saat ini, tapi sering kali Edi memutuskan beberapa hal sendiri atau dengan Rafa dan Ashqar tanpa melibatkan dirinya.


Terkadang Safira merasa lelah dijadikan anak bawang oleh pria-pria disekelilingnya. Dia mencoba segala cara meyakinkan mereka, termasuk suaminya sendiri, untuk melihatnya dari sisi yang berbeda. Namun, untuk beberapa hal, hal seperti ini tetap terjadi. Seringnya Safira menerima dengan berat hati, tapi dilain kesempatan wanita akan mencak-mencak sendiri jika mengetahui.


“Mbak Fira jangan marah sama bapak.”


Purnomo mengulum senyum. Dari nada suaranya, siapapun akan tahu jika anak dari majikannya itu sedang kesal. “Ya, syukur kalau mbak nggak marah. Takut nanti pulang-pulang mbak marah sama bapak, saya yang kena tegur.”


Kerutan di kening Safira memudar beberapa. “Loh? Apa hubungannya sama Pak Pur? ‘Kan, saya sewotnya sama bapak bukan sama Pak Pur. Emang bapak suka marah sama karyawannya gara-gara saya?”


“Mbak Fira salah paham. Bapak nggak pernah marah sama orang lain termasuk karyawan tanpa ada sebab, tapi kalau urusannya soal mbak ya, beda cerita. Mbak ini ‘kan, anak kesayangan bapak. Udah pasti bapak bakal marah kalau mbak sampai kenapa-napa.”


“Anak kesayangan? Siapa juga yang anak kesayangannya Pakde Edi,” batin Safira menggerutu.


“Bapak itu sebenernya sayang banget loh, sama Mbak Fira,” lanjut Purnomo dengan dialek jawa yang kental. “Cuma mungkin bapak susah buat terus terang sama, mbak. Dulu aja Mbak Fira sering tho, mergokin orang suruhannya bapak yang mata-matain mbak? Pak Pur yakin benar itu bentuk kasih sayang bapak buat Mbak Fira.”

__ADS_1


Safira berdecak keras. “Sayang opo tho, Pak Pur? Pak Pur sendiri juga tahu dulu keadaannya kayak gimana.”


Senyum di wajah Purnomo menjadi semakin dalam. Pria yang sudah bekerja dengan Edi selama bertahun-tahun itu memaklumi perkataan Safira.


“Pak Pur nggak bermaksud menggurui loh, Mbak Fira. Tapi kadang-kadang, dalam hidup ini banyak hal yang berjalan nggak seperti kita duga, ada hal-hal yang sengaja Tuhan tutupi dari kita supaya kita tetap baik-baik saja.”


Safira baru akan buka mulut saat tiba-tiba Zain berteriak dan menunjuk ke arah Rafa dan Ashqar yang berjalan ke arah mobil mereka.


“Pak Pur harap suatu hari nanti keraguan dihati Mbak Fira atas bapak bisa hilang,” gumam Purnomo sambil membuka pintu dan keluar ke bagian belakang mobil.


Namun, tanpa pria itu sadari sebenarnya Safira mendengar gumamannya dan itu membuat perasaan Safira menjadi campur aduk. Selama ini dia selalu berkata telah memaafkan dan melupakan apa yang terjadi dimasa lalu, tapi ia juga sering kali menampik perhatian dan kasih sayang Edi. Perkataan Purnomo membuat Safira bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu? Apakah dia sudah benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri?


.


.


.


✄................................................


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2