
“Kayaknya kemarin ibu pesen makanannya kebanyakan, ya?” ucap Harti, memasukan sayur dan bahan-bahan lain ke dalam mangkuk.
“Kemarin yang datang nggak sebanyak perkirakan, Bu.” Safira tertawa canggung menanggapi ucapan ibu mertuanya. Dia sudah tahu bahwa porsi yang Rahma dan Harti pesan lebih banyak dari yang ia perkirakan, tapi dia tidak sanggup untuk melawan keduanya.
“Ibu mikirnya daripada kurang mending lebih sekalian. ‘Kan, malu kalau sampai kurang.” Harti mengisi mangkuk-mangkuk dengan kuah sup yang baru ia panaskan. “Ini supnya dikasih ke tetangga sekita aja, ya? Sayang kalau nggak kemakan, mubadzir.”
“Iya, Bu. Nanti biar aku aja yang anter, Ibu istirahat aja. Dari sebelum subuh Ibu udah di dapur.” Safira menyusun piring-piring berisi lauk ke atas meja.
Sejak datang ke rumahnya, Harti tidak tinggal diam dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, Safira terlalu tak enak hati membiarkan ibu mertuanya mengerjakan pekerjaan kasar. Apalagi Harti bangun lebih pagi darinya dan membuat Safira merasa serba salah setiap kali dia melihat Harti berada di dapur untuk memasak.
“Ibu nggak capek, kok. Lagian cuma ini yang bisa ibu kerjakan disini, habisnya kamu sama Ashqar melarang ibu buat ngerjain ini dan itu. Jadi mending ibu di dapur,” ucap Harti, menghampiri meja makan dengan dua gelas susu di tangan.
“Itu karena aku nggak mau Ibu sampe kecapekan dan jatuh sakit.”
“Iya, iya, menantu ibu yang perngertian,” ucap Harti lalu mencubit pipi Safira. “Ibu mau lihat Alvin dan Zain dulu. Mumpung masih pagi, tolong supnya dianter sekrang aja biar bisa buat lauk sarapan.”
Setelah Harti menghilang di balik pintu kamar Alvin, Safira menuju dapur dan menyusun empat dari enam mangkuk ke atas nampan. Kemudian dia membagikan sup-sup itu ke tetangga terdekat.
Sebenarnya Safira jarang sekali mambagikan makanan ke lebih dari tiga tetangga, selain karena dia jarang berinteraksi dengan ibu-ibu kompleks, Safira juga merasa sungkan. Pengalaman bertetangga di rumah kontrakan sebelumnya menjadi hal yang menghalangi Safira untuk menebar ramah-tamah berlebih., takut kalau hal tak mengenakan menimpa dirinya atau malah berimbas kepada keluarga kecilnya.
“Sebenernya orang-orang di sini nggak julit kayak di sana, sih. Tapi tetap aj, mencegah lebih baik dari mengobati,” ucap Safira, ke luar dari rumah tetangganya.
Dia menatap satu mangkuk terakhir yang gagal diberikan kepada Bu Susi, tetangga di sebelah kanan rumahnya. Mungkin karena akhir pekan makanya rumah mereka kosong di pagi-pagi begini. Jadi Safira memutuskan untuk membawa kembali sup terakhir ke rumah sampai tiba-tiba ujung matanya menangkap sosok seorang pria paruh baya di rumah yang ia tahu sudah lama kosong.
__ADS_1
Agak ragu-ragu Safira mendekati pria tersebut, kebetulan mereka tidak sengaja bertemu pandang jadi rasanya tidak sopan kalau menyapa. “A-ah … pagi, Pak.”
Pria itu menoleh kemudian tersenyum tipis. “Pagi, Mbak Safira.”
“Bapak kenal saya?”
Senyum pria itu semakin lebar dan tertawa halus. “Saya dateng diacara semalem, Mbak.”
Safira membola. Wajahnya memerah karena malu, bagaimana bisa dia tidak tahu hal itu? Jangan-jangan ….
“Bapak baru pindah kesini?” tanya Safira ragu.
“Iya, baru lima hari.”
Lima hari! Astaga, kemana saja dia selama lima hari ini?
“Makasih, Mbak Safira.” Senyum pria itu semakin lebar. “Kebetulan saya belum sarapan.”
Kemudian percakapan mereka berlanjut selama lima menit. Safira yang pada dasarnya tidak pandai berbasa-basi dan memulai obrolan hanya bertanya seadanya, selebihnya justru seperti dia yang sedang diwawancarai tentang keluarga dan lingkungan kompleks.
Sementara itu di rumah besar Edi, Rafa bangun lebih pagi dari biasanya. Dengan secangkir kopi di tangan kanan dan ponsel di tangan kirinya, dia terlihat serius mendengar informasi yang di sampaikan.
“Terus selidiki.” Rafa mematikan sambungan lalu melirik Edi yang duduk tak jauh dari tempatnya. “Belum ada hasil.”
__ADS_1
“Udah tahu,” ucap Edi menyesap kopi hitam dan menaruh kembali gelas itu di meja. “Lebih baik kamu nggak bangunin bapak pagi-pagi buta kalau nggak ada hasilnya sama sekali.”
Rafa berdecih keras. “Kayak Bapak berhasil dapet informasi Pakde teguh aja.” Rafa kembali memeriksa ponselnya, sebuah foto seorang pria paruh baya dengan baju tahanan terpampang jelas di layar datar tersebut. “Kenapa Bapak bisa kecolongan hal sepenting ini?
“Kalau bapak tahu, kita nggak akan pusing kayak ini. Dasar,” Edi menyandarkan punggunya semakin dalam pada kepala sofa. “Biar bagaimanapun, kita harus segera menemukan lokasi Mas Teguh dan memastikan bahwa dia nggak membahayakan keselamatan Safira.”
“Iya, aku akan minta beberapa orang buat ngawasin Safira dari jauh. Tapi … apa nggak sebaiknya kita kasih tahu Ashqar, Pak?”
“Jangan dulu,” ucap Edi, menyesap kopinya dan setelahnya beranjak ke luar ruangan.
Selepas Edi pergi, Rafa termenung. Ingatannya kembali pada malam tragis bertahun-tahun yang lalu. Ibunya terbunuh dan adik perempuannya mengalami trauma berat atas kejadian itu. Lalu sekarang, orang yang bertanggungjawab atas kejadian itu telah ke luar dari penjara tanpa mereka ketahui apakah dia masih menyimpan niat untuk melukai Safira.
“Aku nggak akan pernah membiarkan tragedi itu terulang kembali.”
.
.
.
✄................................................
Nara Note :
__ADS_1
Tenang, konfliknya ringan kok 🌚
Bye\~ Bye\~