
Rafa yang menyadari perubahan pada nada suara Ashqar langsung menghentikan kegiatan makan siangnya dan menegakan punggung. Namun, ekspresi santai masih Rafa pertahankan.
“Jangan mulai, Kar.” Rafa melirik sekeliling lalu mengacungkan sendok ke depan wajah Ashqar. “Kamu itu sensitifan banget. Nggak ada yang namanya mata-mata, kamu kebanyakan nonton film action.”
Ashqar menatap Rafa sinis. “Nggak usah berkelit. Udah jelas kamu memata-matai kami. Kejadian kemarin nggak ada satu orang pun yang tahu, apalagi Ranee.” Kemudian tiba-tiba saja Ashqar teringat sesuatu yang menjadi beban pikirannya sejak semalam. “Jangan-jangan kepindahan Pak Hendra ada kaitannya dengan kamu.”
Raut wajah Rafa seketika berubah, ketenangan seketika sirna dari wajah tampannya. Hal itu membuat dugaan Ashqar semakin kuat bahwa Rafa adalah dalang dibalik kepindahan Hendra yang tiba-tiba, juga tentang mata-mata yang baru saja ia dapatkan secara tak sengaja.
“Nggak bisa jawab, kan?” tanya Ashqar sinis.
Rafa menyimpan kembali sendok di atas piring. Sorot matanya tajam dan serius menatap Ashqar. “Oke. Aku akui kalau aku memang menyuruh orang buat mengawasi pergerakan Fira, itu semata-mata karena aku khawatir kalau tiba-tiba aja ada wartawan yang masih nekat mencari berita kemarin.”
Ashqar tampak tak percaya. Namun, ia tak memiliki kalimat untuk memotong ucapan Rafa dan memilih untuk mendengarkan penjelasannya.
“Dan soal Pak Hendra, itu bukan urusanku.”
Kening Ashqar berkerut. “Bukan urusan kamu? Itu berarti ... bapak?”
“Nah, itu udah tahu.” Rafa menaikan kedua bahunya dan kembali asyik dengan makan siang yang tertunda. “Lagian nggak usah sok polos, Kar. Kamu udah banyak denger dari percakapan aku dan bapak waktu itu.”
Ashqar tersedak ludah sendiri. Dengan buru-buru ia meraih gelas dan menyedot lebih dari setengahnya dan begitu perih di pangkal hidung mereda, Ashqar melotot pada Rafa.
“Aku pikir kamu nggak lihat.”
Rafa berdecak. “Badan segede gaban masa nggak kelihatan,” katanya. “Jadi soal Pak Hendra itu keputusan bapak.”
__ADS_1
Ashqar sudah membuka mulut dan hampir melemparkan kalimat saat ujung matanya menangkap visual beberapa anggota kepolisian masuk ke dalam rumah makan dan duduk tak jauh dari tempat mereka. Untung saja ia tidak keceplosan mengungkap identitas Hendra dan tindakan bapak mertuanya, atau bisa saja orang-orang berseragam coklat tua yang duduk di sampingnya akan curiga.
Ashqar berdeham. “Kenapa kamu biasa aja? Maksudnya, biasanya kamu ngajak adu pukul kalau tahu itu aku.”
“Buat apa? Buang-buang tenaga. Lagian yang kamu dengar adalah fakta sebenarnya.”
“Tapi darimana kamu tahu? Sementara kejadian itu udah bertahun-tahun yang lalu.”
Rafa menatap Ashqar sekilas. “Kamu pikir aku diem aja selama ini?” katanya, lalu berdecih. “Darimana dan bagaimana aku tahu, itu bukan urusanmu.”
Seklias Ashqar bisa melihat sesuatu yang berbeda dari sorot mata Rafa, sesuatu yang tak bisa dijelaskan dan ia pun tak bisa mengartikan itu apa. Namun, satu hal yang jelas bahwa Rafa bersungguh-sungguh dan Ashqar bisa melihat itu disana. Jadi tak ada lagi alasan untuknya ragu.
Dan ini artinya, Edi-lah yang menjadi satu-satunya alasan kepindahan Hendra. Ashqar sendiri tak keberatan dengan keberadaan Hendra disekitar Safira, selama tidak membahayakan dan membuat istrinya mengingat kembali trauma masa lalu. Akan tetapi, sepertinya tidak demikian untuk ayah mertuanya dan Ashqar tentu saja memahami hal itu.
“Oke. Itu memang bukan urusanku, tapi Safira udah jelas urusan dan tanggungjawabku, kan?”
Ashqar mengakhiri makan siangnya yang tersisa tiga-empat suap, perut yang kosong melompong mendadak terisi penuh meski sebelumnya terbersit dipikiran untuk menambah seporsi komplit sate kambing lagi.
Dia menarik napas panjang. Otaknya bekerja keras menyusun daftar pertanyaan yang ingin ia ajukan pada Rafa, karena tidak dua kali laki-laki di hadapannya ini akan begitu terbuka meladeni ucapannya.
“Apa alasan Safira sampai masuk rumah sakit jiwa?” tanya Ashqar getir.
“Aku yakin kamu udah bisa menduga alasannya,” kata Rafa, air mukanya menjadi muram. Dia juga menutup sendok, mengakhiri makan siang. “Trauma atas kejadian itu mengguncang kejiwaan Safira yang masih sepuluh tahun karena dia satu-satunya saksi kejadian itu. Ada kemungkinan dia melihat bagaimana ....”
Rafa menahan napas dan menatap langit-langit. Pria itu mengambil beberapa detik untuk menanangkan diri. Meski sudah lebih dari dua belas tahun berlalu, tapi setiap kali mengingat bagaimana hancurnya Safira selalu membuat Rafa tertekan.
__ADS_1
“Safira mengalami depresi berat sampai dia harus mendapatkan penanganan dokter selama beberapa bulan.”
“Dan hilang ingatannya Safira akibat dari depresinya?”
Rafa tersenyum getir. “Iya, tapi juga efek terapi yang dijalani Safira.”
“Satu lagi, kalau bukan Pak Hendra pelakunya, terus siapa?” tanya Ashqar sambil berbisik.
“Entahlah,” kata Rafa sambil menghembuskan napas. “Anggap aja dia korban salah tangkap yang harus dipersekusi karena kejehatan orang lain.”
Ashqar terdiam, membayangkan istrinya yang masih sepuluh tahun harus mengalami kejadian yang sangat mengerikan hingga kejiwaannya terguncang. Dia kehilangan kata-kata, semua pertanyaan didalam benaknya seketika mendapatkan jawaban hanya dengan cerita singkat dari Rafa.
Terlepas dari kenyataan bahwa Hendra bukanlah pelaku sebenarnya, tapi Ashqar bisa mengerti jika Edi tak ingin pria itu berada dekat dengan Safira. Biar bagaimanapun apa yang sudah Edi lalui selama lebih dari sebelas tahun ini bukanlah hal yang mudah.
“Nggak perlu bahas masalah ini lagi, Kar. Kita tutup buku aja dan hidup dengan damai. Aku nggak mau kalau Safira sampai mendapatkan kembali ingatan mengerikan itu.”
Ashqar mengangguk setuju. “Aku ngerti.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Selamat malam minggu epribadeeeeeh (づ ̄ ³ ̄)づ
Besok libur yak, ketemu lagi Hari Senin 👋🏻