Gaung Rasa

Gaung Rasa
Zain Tenggelam


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Safira berjalan cepat menyusuri koridor tempatnya menginap. Benaknya berputar pada segala hal yang disampaikan Rahma, bahwa Ashqar panik karena Zain tenggelam. Demi Tuhan! Bagaimana bisa suami dan anaknya berada di kolam renang? Sementara pesta pernikahan masih berlangsung.


Safira sangat terkejut saat Rahma tergopoh menghampirinya sambil menggendong Harsha. Dia sempat berpikir bahwa sesuatu telah terjadi pada putri bungsunya itu, mungkin Harsha haus atau terjatuh saat bermain. Namun, begitu Rahma menyebut nama Zain dengan suara putus-putus, napas Safira mendadak berat.


“Fi! Za-Zain!” ucap Rahma disela napasnya yang satu-dua.


Safira mendekat, bising suara tamu yang mengobrol dan alunan musik akustik mengganggu indra pendengaran. “Ada apa sama Zain, Mbak?”


“Ke kamar kamu sekarang! Ashqar bilang Zain tenggelam.”


Safira merasa seperti disambar petir. Zain terbilang handal dalam urusan olahraga air untuk anak seusianya. Bahkan pelatih renang di tempat kursus kedua putranya mengatakan jika Zain memiliki bakat untuk menjadi atlet dikemudian hari jika terus mengasah kemampuannya. Jadi Safira sangat terkejut mendengar Zain tenggelam.


“Aduh! Kalau jalan itu hati-hati, Mbak.”


Safira berkedip. “Ma-maaf, Pak.” Safira membungkuk beberapa kali pada laki-laki paruh baya yang tidak sengaja ditabraknya.


“Lain kali hati-hati,” omelnya ketus, lalu berlalu sambil mengibaskan tangan pada bagian lengan dari jas hitam yang dikenakannya. Jika dilihat-lihat sepertinya laki-laki itu mungkin salah satu tamu undangan Rafa dan Ranee.


Setelah laki-laki paruh baya itu pergi, Safira mengatur napas, mengumpulkan fokusnya meski tak sepenuhnya. Kemudian Safira melepas sepatu hak tinggi hitam dari kakinya dan menentengnya di tangan.

__ADS_1


Dia tidak mengurangi kecepatan, tapi dia berusaha untuk lebih berhati-hati agar tidak lagi menabarak orang lain atau bahkan tersandung kakinya sendiri. Karena saat ini pikirannya masih terbagi antara mengatur langkah dan mengkhawatirkan kondisi Zain.


Namun, langkah Safira kembali terhenti, bukan karena hal yang ia antisipasi melainkan ponselnya yang bordering. Sebuah nama tertera pada layar ponselnya, Mbak Rahma.


“Fi, gimana? Zain baik-baik aja, ‘kan? Nggak parah, ‘kan? Nggak harus ke rumah sakit, ‘kan?” berondong Rahma setelah keduanya saling bertukar salam.


“Aku masih di koridor, Mbak.” Safira kembali melangkah. “Mbak nggak bilang sama Ibu, ‘kan?”


Safira dan Rahma sepakat jika mereka tidak akan memberitahukan hal ini pada orang lain terutama Harti. Kesehatan Harti sempat menurun satu bulan yang lalu, beliau dirawat di rumah sakit umum Surabaya karena mengalami serangan jantung ringan. Namun, Harti memaksa untuk hadir karena sempat berjanji pada Rafa untuk menyaksikan kakak dari menantu kesayangannya itu ijab qabul. Perlu diketahui jika hubungan keduanya cukup dekat. Tentu saja hal itu berkat mulut manis Rafa yang sudah melebihi seorang sales.


“Nggak. Ini Ibu lagi sama Harsha di ruang anak. Terus keadaan Zain gimana?”


Pertanyaan Rahma yang sarat akan rasa cemas membuat Safira kalang kabut hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari. Biarlah jika pegawai hotel atau orang lain menegurnya yang terpenting dia harus segera menemui Zain.


Dan begitu pintu kamar tempatnya menginap berada di depan mata, Safira segera mengulurkan tangan, meraih gagang pintu dan mendorongnya.


“Mas! Zain! Zain!” seru Safira, pandangannya menyapu ruangan.


Grand Deluxe Queen adalah kamar yang Rafa pesankan khusus untuk keluarga kecil Safira dengan memikirkan kenyamanan ketiga keponakan kesayangannya. Meskipun sebenarnya dia ingin memesankan President Room. Namun, gagasan itu langsung menimbulkan protes keras dari Safira yang merasa kakaknya itu sangat berlebihan.

__ADS_1


“Sayang, ada apa? Zain lagi tidur,” bisik Ashqar yang entah sejak kapan berada di hadapan Safira.


Dengan cepat Safira menepis tangan Ashqar di pundaknya. “Zain tidur?” tanyanya tercekat.


Pikiran buruk seketika berjejalan dalam benak Safira, membuat setiap jengkal dari saraf ditubuhnya berubah menjadi agar-agar. Safira lemas dan jatuh terduduk di atas karpet coklat, air mukanya terlihat keruh dan satu per satu bulir air mata jatuh di pipinya.


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


Gaung Rasa update setiap Senin, Rabu sama Jum’at, ya gaes (. ❛ ᴗ ❛.)


Inysa’allah aku lagi nyicil cerita lain, tapi berhubung jam terbangku masih sedikit dan nggak segila Elara Sukoco kalau nulis bisa 5rb kata dalam 4-6 jam, jadi ya mau nggak mau harus atur waktu buat nabung bab. Aku harap kalian bisa memaklumi dan makasih selalu nunggu cerita ini. Luv

__ADS_1


__ADS_2