Gaung Rasa

Gaung Rasa
Klarifikasi Ashqar


__ADS_3

Ashqar melirik Nita seklias. Mantan istrinya itu tidak terlihat baik-baik saja, gerak-geriknya menimbulkan pertanyaan lain bagi Ashqar. Namun, ia mengesampingkan itu dan kembali menatap lurus pada orang yang memberinya pertanyaan.


“Nggak ada orang tua yang dengan sengaja akan mengabaikan anak mereka. Setiap orang tua akan melakukan yang terbaik untuk darah dagingnya, bagaimanapun caranya, benar atau salah, itu adalah pilihan setiap orang.”


“Bagaimana dengan isu perselingkuhan?” ucap wartawan lainnya, menyela wartawan sebelumnya yang sudah membuka mulut untuk memberikan pertanyaan lain.


Rahang Ashqar seketika mengeras. “Apa pengertian dari kata isu?” kata Ashqar dingin. Sorot mata pria itu setajam ujung keris yang siap menembus jantung. “Kabar angin, desas-desus. Saya dan Nita memang pernah menikah, tapi saat ini kami memiliki kehidupan masing-masing dan isu perselingkuhan atau rujuk adalah hal yang tidak benar.”


Kemudian setelah ucapan Ashqar yang lugas, suasana berbuah riuh. Para wartawan dengan tidak sabaran mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan hampir secara bersamaan. Ada yang menyanyakan hubungannya dan Nita dimasa lalu, ada juga yang bertanya respon Safira dan keluarga mereka, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya bersifat pribadi.


Tiba-tiba saja keadaan menjadi tidak kondusif, pembicara konferensi pers sampai kewalahan bahkan Siska yang sedari tadi diam ikut turun tangan. Lalu tepat setelah salah satu petinggi Royal Entertaiment itu menenangkan keriushan pers dan hendak mengatakan sesuatu, Ashqar lebih dulu berbicara.


“Saya bisa memahami pertanyaan-pertanyaan anda semua dan saya akan menjawabnya sekaligus, jadi mohon untuk mencatat perkataan saya dengan baik dan ...,” Ashqar sengaja memberi jeda pada ucapannya, mememberikan kontak mata intens pada seluruh wartawan yang hadir. “tolong untuk tidak memotong-motong ucapan saya hanya untuk memberikan anda banyak judul untuk diterbitkan.”


Pembicara dan Siska saling bertukar pandang, jelas sekali jika wanita itu tidak senang dengan tindakan Ashqar. Namun, ia tak bisa melakukan banyak hal didepan wartawan dan kamera-kamera mereka, jadi dengan terpaksa ia memberikan isyarat untuk memimpin Ashqar.


Kemudian tanpa basa-basi Ashqar mulai menjawab satu per satu pertanyaan yang berhasil ia ingat dari keributan sesaat lalu. Dia memulai dengan mengulang dua jawaban sebelumnya disusul dengan jawaban-jawaban lain.


“Saya dan Nita pernah menikah dan kami memiliki seorang anak, hubungan kami juga baik semata-mata untuk putra kami. Hak asuh anak kami ada ditangan saya, dia berada dalam lingkungan yang sangat baik untuk tumbuh kembangnyanya, dia berada dalam pengawasan saya dan istri saya. Ya, saya sudah menikah.” Ashqar memamerkan cincin di jari manis tangan kanannya seraya berkata, “Jadi gosip-gosip mengenai perselingkuhan atau rujuk antara saya dan Nita, itu tidak benar. Semua gosip yang beredar belakangan sangat merugikan saya dan istri, keluarga kami belakangan menjadi sorotan dari orang-orang disekitar. Kami bukan publik figur, kami tidak butuh pemberitaan, jadi mohon untuk kalian semua, teman-teman pers tidak mengganggu privasi kamu.”


Seorang wartawan wanita berusia sekitar tiga puluhan yang duduk di ujung baris kedua mengangkat tangan dan menyela, “Maaf, Mas Ashqar. Mengganggu itu maksudnya bagaimana?"

__ADS_1


Ashqar terdiam sejenak, instingnya merasakan sesuatu yang janggal. Perttanyaan itu sekilas terdengar seperti sarkas, tapi nada bicara perempuan itu terasa sebaliknya. Namun, Ashqar tak ingin ambil pusing dan kehilangan momen.


“Pemberitaan-pemberitaan miring, gosip bahkan fitnah yang banyak beredar dimedia cetak, online atau televisi tanpa pernah mewawancarai saya sebagai narasumber, saya pikir itu jelas merupakan hal yang mengganggu. Bagaimana kalian bisa menulis sebuah berita atau artikel yang mencatut nama saya seakan saya-lah yang berbicara padahal anda nggak pernah mewawancarai saya?” Ashqar melemparkan senyum tipis penuh cemoohan saat beberapa orang berwajah pias. “Beberapa hari yang lalu rumah kami disatroni dua orang dengan identitas wartawan sebuah platform berita ibu kota, menerobos masuk tanpa izin saat rumah sepi dan hanya ada istri saya. Itu jelas lebih dari sekedar mengganggu, tapi sudah masuk kedalam tindak kriminal.”


Ashqar bisa merasakan seluruh mata tertuju padanya, tanpa terkecuali Nita. Dia bisa melihat dari ujung mata bagaimana mantan istrinya itu tampak terkejut. Itu sudah pasti, bahkan dirinya saja tak akan percaya bahwa masalah yang terlihat sepele bisa sampai begini serius sampai kejadian itu menimpa Safira.


“Apa anda yakin orang itu adalah wartawan? Mungkin aja anda salah tuduh,” celetuk seseorang dibagian tengah saat yang lain tengah berbisik-bisik.


Ashqar tertawa mencemooh dan menatap orang yang melemparkan pertanyaan itu. “Apa anda pikir saya bodoh? Menuduh seseorang tanpa bukti dihadapan banyak wartawan dan kamera yang mengambil gambar wajah saya?”


“Ini tuduhan yang serius. Apa anda sudah membuat laporan ke kepolisian dan dewan pers?” tanya yang lainnya.


Ashqar baru membuka mulut saat Robi menyenggol kakinya dan mencondongkan tubuh, membuatnya seketika mengurungkan niat.


“Apa ini perintah Rafa?” tanya Ashqar yang diamini Robi. “Apa ada lagi, Pak?”


“Pak Rafa minta anda segera meninggalkan aula. Ada hal mendesak yang harus segera ditangani.”


Rafa terbiasa membuat rencana matang dan untuk beberapa situasi tertentu dia akan membuat keputusan cepat dengan mempertimbangkan keuntungan terbesar. Setelah instruksi semena-mena terhadapnya, tiba-tiba iparnya itu ingin dia pergi begitu saja dari konferensi pers?


Ashqar terdiam sejenak dan membuat anlisa dengan cepat. Kemudian ia berdeham dan kembali menatap lurus kedepan. “Untuk hal itu, pengacara kami yang akan menjawab.” Ashqar mengenalkan Robi secara singkat kepada media kemudian dia berbisik pada Siska, memberitahu bahwa dia akan meninggalkan konferensi. Ashqar bahkan tak memberikan kesempatan wanita itu untuk membalas ucapannya dan kembali berkata kepada pers, “Dan untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai Nita yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya silahkan anda sekalian tanyakan langsung pada yang bersangkutan. Apa yang saya sampaikan rasanya sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan anda semua, jadi saya minta maaf, saya harus meninggalkan acara ini. Selanjutnya Pak Robi yang akan mewakili saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda yang lain.”

__ADS_1


Setelahnya Ashqar berdiri dan membuat gestur permintaan maaf pada wartawan lalu menghampiri Nita. “Hubungi aku begitu selesai,” bisiknya, lalu disusul dengan berjabat tangan.


Ashqar mengabaikan banyak pasang mata yang mengiringi langkahnya menuju pintu keluar. Sampai akhirnya ia berada diluar ruang konferensi, helaan napas lega terdengar nyaring. Saking tegangnya, Ashqar bahkan tak menyadari keberadaan Rafa yang sedari tadi berdiri menyandarkan punggu pada tembok.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Semoga chapter baru ini bisa nemenin waktu luang kalian disore hari, mau yang sedang berpuasa atau pun nggak berpuasa.


Pasti banyak sih yang ngikutin cerita ini ngerasa alurnya lamaaaa banget 🤧 tapi percayalah kawan, alurnya nggak lebih lama dari Ansu cuma akunya aja yang nggak rajin update 👉🏻👈🏻


Jadi supaya cerita ini terus berkembang dan mudah-mudahan cepet tamat, perchapter bakal lebih panjang dari sebelum-sebelumnya. Ada yang sadar? Nggak? Ya, wajar sih 😌


Udah gitu aja, happy weekend semuanya~

__ADS_1


Sehat selalu, lancar ibadahnya ~


__ADS_2