Gaung Rasa

Gaung Rasa
Akan Lebih Baik


__ADS_3

Setelah memergoki dirinya menguping, Ashqar kira Rafa akan mengintrogasi atau menghajarnya habis-habisan. Namun, iparnya itu justru bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Jelas saja hal itu Ashqar kebingungan sendiri, ingin bertanya takut memicu permusuhan.


Jadilah ia memutuskan untuk mengikuti keinginan Rafa. Hingga sampai saat ini, dimana ia dan Safira kembali ke rumah mereka, Rafa tak sekalipun mencoba untuk membahas soal itu dengannya.


Ashqar masih memperhatikan interaksi istrinya dengan Hendra. Dalam benaknya Ashqar bertanya-tanya, bagaimana jika Safira tahu jika orang yang sedang ia ajak bicara adalah tersangka dari kasus pembunuhan ibunya?


Tidak bisa Ashqar bayangkan sedikitpun bagaimana reaksi Safira atas itu, memikirkannya saja membuat tengkuknya meremang hebat. Sekalipun ucapan Rafa benar jika Hendra juga korban atas penjebakan si pelaku, tapi itu tak menyingkirkan fakta bahwa secara hukum Hendra sudah bersalah karena pengilangan nyawa ibu mertuanya.


Ashqar menghembuskan napas halus dan keluar dari persembunyiannya, bersikap seolah baru saja ke luar dari dalam rumah.


“Pantesan aku panggil-panggil nggak kedengeran, ternyata disini,” kata Ashqar, berjalan menghampiri Safira.


Safira berbalik. Sorot matanya membuat Ashqar merasa nyaman.


“Ada apa, Mas?”


Ashqar tak langsung menjawab. Dia menatap lekat wajah Safira sebentar kemudian menggeleng halus. “Memang lebih baik jika dia nggak tahu,” batin Ashqar. “Nggak apa-apa, Mah. Tadi nyari kopi, tapi udah ketemu kok.”


Safira mengerutkan kening, heran dengan kelakuan suaminya. “Kalau udah ketemu ngapain nyariin?”


“Kangen,” jawab Ashqar sekenanya, mengabaikan wajah merah Safira. Kemudian ia melirik pada Hendra yang ternyata juga sedang memperhatikannya. “Pak Hendra, apa kabar?”

__ADS_1


“Baik, Mas Ashqar. Jenengan?”¹


“Alhamdulillah. Sae, pak.”² Ashqar memperhatikan benda yang Hendra pegang. “Istri saya ganggu bapak siram bunga, ya?”


“Mas, kok gitu?” protes.


Hendra tertawa renyah. “Ganggu apa tho, mas. Saya cuma mengerjakan pekerjaan sepele aja. Justru karena ada Mbak Fira bunga-bunga saya jadi nggak layu.”


Safira melirik Ashqar dengan senyum puas untuk dipamerkan. “Tuh! Denger, mas.”


“Jangan sering-sering muji istri saya, pak.” Ashqar merangkul pundak Safira dan menariknya mendekat. “Bisa terbang dia nanti.”


Satu kalimat protes Safira layangkan kepada Ashqar bersama sebuah cubitan di pinggang suaminya. Yang kemudian Ashqar balas dengan cubitan di kedua pipi Safira. Mereka saling membalas tanpa menghiraukan Hendra yang memperhatikan mereka dan juga sekeliling.


Ashqar tersenyum geli melihat wajah merah merona istrinya. “Maaf, Pak Hendra. Istri saya suka nggak sadar tempat,” katanya, mengabaikan lirikan tajam Safira.


Hendra tersenyum maklum. “Nggak apa-apa, Mas Ashqar. Bagus kalau kalian selalu harmonis, cuma pesan saya lain kali jangan di depan tetangga lain. Takut dikira pamer kemesraan.”


Ashqar tertawa renyah. “Tuh, mah. Dengerin.”


Safira mencebik. Suaminya ini benar-benar nggak sadar diri. Meskipun menelan kekesalan seorang diri, Safira tak bisa membalas Ashqar. Paling tidak, tidak dilakukan didepan orang lain.

__ADS_1


“Saya permisi dulu, pak. Mau ngecek Harsha,” pamit Safira, lalu secepat kilat masuk ke dalam rumah. Dia tidak bisa lebih lama lagi disana atau ia akan menjadi objek keisengan suaminya.


Ashqar mengikuti pergerakan Safira dengan tatapan geli. Kemudian saat punggu Safira menghilang dibalik pagar, ia berbalik pada Hendra. “Sekali lagi saya minta maaf, pak.”


“Nggak apa-apa, mas. Mudah-mudahan kalian selalu harmonis sampai tua nanti.”


Ashqar tertegun. Dia bisa merasakan ketulusan dari ucapan Hendra, begitupun ekspresi di wajah tuanya. Ashqar yakin tak ada yang perlu diwaspadai dari Hendra dan ia bisa mempercayai ucapan Rafa.


“Kalau gitu saya juga permisi, pak. Mari,” katanya, berbalik menyusul Safira.


.


.


.


✄................................................


Pojok Bahasa :


¹Jenengan \= Kamu, Anda (ket halus/Bahasa Jawa)

__ADS_1


²Sae \= Bagus, Baik (Bahasa Jawa)


__ADS_2