
“Mau ketemu Harsha,” katanya, menyelipkan telunjuk pada tangan Harsha yang mengepal. “Tapi kalau bisa serapan sekalian kenapa nggak.”
Safira mendengus sembari mengeluarkan menu sarapan dari dari dalam kulkas. “Dasar, modus. Memangnya Kakak nggak ke perkebunan?” tanya Safira.
Rafa melepaskan atensi dari Harsha dan mengalihkannya pada Safira yang sepertinya tengah memansakan sesuatu di atas kompor. “Nanti siang.”
“Oh.”Nada suara Safira terdengar jelas tidak tertarik.
Dia sudah biasa dengan ketidak jelasan perilaku Rafa. Berbanding terbalik dengannya, Rafa terkadang sering melakukan sesuatu yang membuatnya mempertanyakan hubungan darah mereka.
Seperti tiba-tiba muncul di depan pintu dalam keadaan basah kuyup, beralasan ingin bertemu Alvin dan Zain, tapi mobilnya mogok di depan gang dan terpaksa harus jalan kaki di tengah hujan. Padahal kakak laki-lakinya itu bisa meminta Ashqar atau dirinya datang untuk menjemput, setidaknya memberinya paying.
Atau menculik Alvin dari sekolah dan mengajaknya ke perkebunan tanpa mengabari terlebih dahulu hingga membuatnya kebingungan setengah mati. Kenangan buruk tentang penculikan membuat Safira hampir melaporkan hal itu ke kantor polisi.
“Kayaknya Kakak dulu nggak kayak gini, deh,” bisik Safira.
Karena suasana yang hening, Rafa masih bisa mendengarnya. Semua yang telah mereka lalui, perpisahan dan tragedi membuatnya berubah. Dia kehilangan adik perempuannya yang manis dan ceria, lalu ia juga kehilangan dirinya sendiri saat Safira dikirim pergi. Hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah dan ketidak berdayaan menelan Rafa dan menjadikannya berbeda.
Sekarang kehidupan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya, meskipun ada hal lain yang masih mengganjal pikiran. Bahwa masa lalu tidak pernah bisa sepenuhnya dikubur dan menghilang begitu saja.
Dengungan Harsha mengembalikan Rafa dari lamunannya. Lalu saat melihat wajah terlelap keponakannya itu, Rafa berkata, “Kayaknya aku juga harus punya anak perempuan.”
“Nikah dulu, baru mikir punya anak.”
Mendengar nada ketus dari Safira, Rafa beranjak menghampiri. Sepanci kecil sayur asam sedang dipanaskan, juga dengan penggorengan yang terisi setengah penuh minyak goreng berada di atas kompor yang menyala.
“Kamu itu, ya. Nggak berubah. Masih aja ketus.”
Safira menoleh, memperhatikan Rafa yang bersandar di pintu kulkas. Hanya sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi. “Kakak juga sama, masih suka seenaknya sendiri.”
__ADS_1
“Kapan aku suka seenaknya sendiri?”
Siku imajiner bertengger di pelipis Safira. Sambil memasukan ayam bumbu bacem ke dalam minyak panas, dia melirik tajam Rafa yang justru dengan santai mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.
“Dasar nggak sadar diri,” batin Safira. “Aku masih penasaran, Kakak ke sini beneran cuma mau numpang sarapan doang?”
“Aku ada pertemuan di Hotel Arin satu jam lagi,” jelasnya setelah meneguk habis air mineral 330 ml. “Kenapa? Kayaknya nggak suka aku ke sini, ya?”
Safira merasa iritasi melihat tampang Rafa yang dibuat-buat, sama sekali tidak cocok. “Kalau gitu, kenapa Kakak nggak sarapan di hotel aja?” tanyanya, mundur selangkah saat minyar panas mengalami reaksi kimia. “Makanan di hotel pasti lebih enak daripada masakan buatanku.”
Rafa tersedak ludah. “Hah? Kamu masak sendiri?”
“Kenapa kaget gitu, sih? Kayak nggak pernah makan masakanku aja.” Safira mengangkat ayam goreng dan mematikan kompor. Kemudian dia menyiapkan makanan ke atas piring lalu menatanya di meja makan.
Sementara itu Rafa justru sudah berpindah tempat, menunggu makanan tertata. “Bukan gitu. ‘Kan, kamu udah punya ART, jadi harusnya yang masak Mbak Jum.”
“Kenapa?”
“Anaknya lagi sakit makanya aku suruh pulang.” Safira mengambil duduk di depan Rafa setelah makanan sudah tertata di meja makan, memperhatikan Rafa yang mulai makan dengan lahap. “Dia ini belum sarapan atau malah belum makan dari kemarin malam, sih?” batin Safira.
“Masakan ini kamu belajar dari siapa?”
“Dari nenek. Kenapa? Apa nggak enak?”
Rafa menggeleng. Kepalanya tertunduk dalam sambil terus memasukan sendok demi sendok nasik dan lauk ke dalam mulut. “Enak. Rasanya kayak masakan Ibu.”
Ucapan Rafa yang lirih membuat Safira tertegun. Dia tidak ingat bagaimana rasa masakan mendiang ibunya, tapi Rafa justru mengingatnya?
“Rasanya sama?”
__ADS_1
“Persis,” lirih Rafa mengangat wajah. Kemudian saat ia menarik kedua sudut bbirnya, manik Safira berkaca-kaca. “Sayur asem makanan kesukaan Ibu, ayam goreng bacem kesukaan Bapak.”
“Bapak suka ayam goreng?” tanyanya setengah tidak yakin. Safira tidak tahu jika kesukaannya dan Edi ternyata sama.
“Sama kayak kamu, ‘kan? Kalau belum berubah.”
Safira hanya terdiam, merasa tidak yakin harus bagaimana menanggapinya. Sekelebat ingatan di sore hari saat hujan menghampiri Safira. Saat itu dia dan ibunya menunggu kepulangan Edi dan Rafa.
Keadaan di luar rumah sedang hujan deras, petir dan keliat saling bersahutan. Safira merasa khawatir, tapi ibunya dengan penuh pengertian menenangkannya, berkata bahwa petir dan kilat adalah fenomena alam dan tidak akan berlangsung lama. Lalu ingatan itu berubah abstrak, hujan, seseorang yang masuk ke dalam rumah, ibunya menjerit, suara keras lalu tiba-tiba gelap.
“Fi! Safira!”
Tubuh Safira terhuyung kemudian hampir jatuh ke lantai jika saja tidak cepat menangkap tubuhnya. Setengah sadar, Safira bisa mendengar suara Rafa yang kian tenggelam.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Silahkan main tebak-tebakan lagi dan sampai ketemu besok kkk\~
Btw, makasih buat dukungan kalian
Peluk online satu-satu 🤗🖤
__ADS_1