Gaung Rasa

Gaung Rasa
The Power of Safira


__ADS_3

Nita menghembuskan napas berat. Suara benda terjatuh disusul dengan teriakan nyaring menanyakan tiket pesawat membuat perhatian Nita teralihkan untuk sesaat.


“Justru aku takut Safira salah paham kalau aku yang bicara. Aku nggak mau kalau dia berpikir bahwa aku nggak serius buat memperbaiki hubungan dengan Zain.” Nita melempar pandangan pada foto dirinya bersama Safira dan Zain di sebuah restoran yang terbingkai di atas meja, hasil jepretan beberapa bulan lalu. “Hubunganku dan Zain jauh lebih baik berkat Safira, sekarang Zain bahkan mau memanggil aku, mommy. Jadi aku nggak mau kalau dia sampai kepikiran, apalagi sekarang mendekati persalinan. Safira itu … walau kelihatan nggak peduli, tapi sebenarnya paling nggak tegaan.”


Tentu Ashqar paling tahu hal itu. Bagaimana Safira terus berusaha untuk mendekatkan Nita dengan Zain, bahkan istrinya itu sampai menyusun rencana dan membuat agenda rutin agar mereka bisa berkumpul bersama.


“Baiklah,” ucap Ashqar, menghembuskan napas perlahan. “Nanti aku sampaikan ke Safira. Tapi kemungkinan setelah itu dia pasti akan tetap menghubungi kamu, jadi tolong jelasin pelan-pelan.”


“Iya, aku ngerti. Makasih sebelumnya. Asslamu’alaikum.”


“Wa’alaikummusalam.”


Kemudian panggilan itu terputus. Sambil menyimpan kembali ponselnya, Ashqar masih memperhatikan Alvin dan Zain yang kini bergelayut di masing-masing lengan Rafa. Ashqar mengurungkan niat untuk menyudahi kesenangan kedua putranya, mungkin beberapa menit lagi tidak masalah. Sekalian memberi waktu untuk dirinya sendiri menyusun kalimat yang tepat pada Safira nanti.


Sedikitnya Ashqar juga merasa menyesal sempat berpikiran buruk tentang Nita, tetapi ia rasa hal itu manusiawi. Mengingat bagaimana dulu perangai mantan istrinya itu yang egois, tak ayal membuat Ashqar merasa harus waspada terhadapnya.


Namun jika diingat kembali, belakangan setelah Safira ikut campur dalam hubungan Zain dan Nita, Ashqar merasa jika mantan istrinya itu sedikit berubah. Tetimbang sebelumnya, Nita jadi jauh lebih memikirkan Zain. Meskipun sejujurnya Ashqar sempat menolak ide Safira agar Nita dan Zain harus memiliki waktu tertentu untuk bertemu, tapi berkat bujukan maut istrinya itu akhirnya dia luluh.


“Mas nggak boleh memisahkan Zain dari ibu kandungnya. Bukannya waktu itu kita setuju buat kasih Mbak Nita kesempatan buat dekat sama Zain?” Begitu yang Safira ucapkan saat dia merasa ragu untuk menyetujui saran Safira.


“Mas nggak ikut gabung?”

__ADS_1


Ashqar tersentak kemudian menoleh. “Udah selesai perawatannya?” tanya Ashqar, menuntun Safira untuk duduk di kursi yang ia tempati sebelumnya.


Safira duduk perlahan dan membiarkan Ashqar menyusun bantalan sofa yang ia ambil dari dalam rumah ke atas kursi. “Udah, Mas. Anak-anak dari tadi main airnya?”


“Iya. Mau aku suruh mereka ke luar sekarang?”


Safira menggeleng. “Sepuluh menit lagi, habis itu minta mereka ke luar. Takut kedinginan nanti malah masuk angin.”


Gumaman Ashqar terdengar halus. Sambil duduk di atas lantai, dia mengusap perut buncit Safira. “Jagoan papah apa kabar?”


“Baik, Pah,” jawab Safira dengan suara yang dibuat-buat, lalu dia tergelak sendiri karenanya. “Tadi waktu aku perawatan, dia nendang-nendang, Mas.”


“Tapi kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Suara Ashqar terdengar khawatri dan hal itu disambut dengan tawa halus Safira.


Ashqar merengut. “Kamu ini jadi persis seperti Rafa. Senangnya godain orang terus.”


“Memangnya Mas nggak begitu? ‘Lah, kalian itu sama aja.”


Sedikit sulit bagi Ashqar untuk menahan lengkungan di bibirnya. Dia memilih sibuk mengusap perut Safira ketimbang menanggapi candaan istrinya itu. Sejak perut Safira semakin besar, calon anak mereka adalah magnet yang paling kuat untuk Ashqar.


Bukan hanya untuknya, tapi bagi Alvin dan Zain, juga Rafa dan Edi. Safira seakan-akan berubah menjadi medan magnet kuat yang menarik seluruh atensi lelaki dalam keluarga mereka untuk terus memberikan perhatian lebih pada Safira. Bahkan Zain selalu mengunjungi kamar Safira dan memberikan ciuman untuk calon adiknya.

__ADS_1


“Kata Mas Alvin, sekarang Mamah nggak usah ke kamar Mas Alvin sama Zain lagi. Kasihan nanti adik bayinya capek, jadi setiap malam Zain sama Mas Alvin yang ke kamar Mamah.” Begitu yang Zain ucapkan ketika Safira bertanya tentang rutinitas malam mereka yang berubah.


“Mas, anak-anak.”


Ashqar berkedip, kemudian mengalihkan pandangan ke arah kolam renang. “Alvin! Zain! Ayo, ke luar. Udahan main airnya.”


Alvin adalah yang pertama ke luar dari dalam kolam. Namun, lain halnya dengan Zain yang sepertinya pura-pura tidak mendengar ucapan Ashqar. Dari tempatnya, Ashqar bisa mendengar Alvin tengah membujuk Zain yang merajuk dan tidak ingin ke luar dari dalam kolam.


“Yang, kayaknya perlu kamu sendiri yang bilang, deh.”


Safira menghembuskan napas kasar. “Zaini Yudistira,” panggil Safira lembut dengan suara yang cukup lantang. Lalu benar saja, Zain yang awalnya terlihat enggan untuk ke luar dari kolam seketika langsung meraih tangan Alvin dan mengekorinya.


“Masih jadi misteri, kenapa kalau kamu yang panggil anak-anak, mereka pasti langsung kayak bebek ketemu gembalanya?”


“Kalau mereka bebek dan aku gembalanya, terus Mas apa?” tanya Safira usil.


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Chapter terakhir hari ini\~


__ADS_2