
Ashqar menyambut uluran tangan Zain yang berlari ke arahnya, menangkap tubuhnya dan mengangkat tinggi sebelum ia bawa ke dalam pelukan. Senyum lebar Zain menular.
“Zain senang main sama Mommy?” tanya Ashqar, berjalan menghampiri Alvin yang duduk tenang di sofa.
Senyum lebar Zain berubah garis tipis lalu anak itu mengangguk. “Tadi Zain sama Mas Alvin berenang terus makan makanan enak, terus Mommy beliin Zain es krim.”
“Udah bilang makasih sama Mommy?” tanya Ashqar. Zain menggeleng sebagai jawaban lalu menyembunyikan wajah di ceruk leher ayahnya. “Nanti bilang makasih, ya?”
Ashqar tidak lagi bertanya ketika Zain memilih diam dan menyamankan diri dalam pelukannya. Bermian selama beberapa jam dan bersenang-senang sepertinya cukup menguras tenaga Zain yang biasanya banyak bicara.
“Mommy kemana, Mas Alvin?” tanya Ashqar, mengambil duduk di samping Alvin sementara netranya tidak berhenti menyapu area lobi hotel untuk menemukan keberadaan Nita.
“Ambil barang yang ketinggalan di kamar.” Alvin menjawab dengan suara pelan.
Ashqar bergumam kemudian mengambil ponsel dari saku celana, mengirimkan pesan kepada Nita bahwa dia telah sampai di lobi untuk menjemput kedua putranya. Sebenarnya dia ingin langsung pulang mengingat Safira hanya berdua saja dengan Harsha di rumah, tapi rasanya tidak sopan jika pergi tanpa pamit. Biar bagaimanapun Nita sudah meluangkan waktu dan materi untuk bersama Alvin dan Zain, pun hal itu bukan contoh yang baik untuk putra-putranya.
Denting jam besar di sudut ruangan menarik perhatian Ashqar. Jam kayu kuno berukuran besar dengan lonceng emang di tengahnya ditutupi kaca dan ukiran antik ditiap badan kayu mengingatkan Ashqar dengan benda serupa milik mendiang ayahnya. Katanya jam itu pemberian seorang kerabat, saat Ashqar kecil dia sangat mengagumi barang mewah tersebut. Tak banyak yang memilikinya di jaman itu, tetapi ayahnya mendapatkannya.
Ayah Ashqar adalah seorang dokter bedah toraks dan kardiovaskuler, beliau adalah panutan Ashqar sejak kecil. Dan jam besar di rumahnya yang masih terawat sampai sekarang adalah bentuk terimakasih atas operasi besar yang beliau tangani, mengingat saat itu tak banyak dokter bedah yang bisa melakukannya.
Andai saja ia tidak melakukan kesalahan yang membuat cita-cita dan harapan orang tuanya hancur, mungkin saat ini dia sudah menyandang gelar dokter seperti ayah dan kakak perempuannya, Rahma. Dan tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Zain.
“Maaf. Nunggu lama, ya?” tanya Nita.
__ADS_1
Ashqar berkedip, seolah terbangun dari lamunan dalamnya, kemudian menoleh ke arah Nita. “Oh! Nggak, kok.” Ashqar sama sekali tidak menyadari kehadiran Nita. Sejak kapan perempuan itu sudah berdiri di dekatnya?
“Aku ambil barang dulu yang ketinggalan di kamar,” terang Nita, merasa tidak enak membuat Ashqar menunggu. Dia sangat tahu jika Ashqar tidak betah menunggu lama-lama.
“Iya, nggak apa-apa.” Ashqar mengecek apakah Zain tidur atau tidak lalu tiba Zain mengutarakan protes karena pergerakan Ashqar yang tiba-tiba.
“Zain baru mau tidur, Pah,” protesnya kemudian turun dari gendongan Ashqar. “Ayo pulang. Zain mau ketemu Mamah.”
Ashqar mengulum senyum. “Iya, iya. Diambil tas sama mainannya kalau gitu.”
Saat Ashqar berdiri dan membantu Zain memakaikan tas ke punggungnya, Nita diam-diam tersenyum kecut. Dia sadar jika sejak awal Zain merasa enggan untuk pergi berdua dengannya, makanya Nita harus terus memberikan bujukan agar Zain mau sedikit lebih lama menghabiskan waktu dengannya.
Itu juga sebabnya anak itu selalu meminta Alvin menemani disetiap kunjungannya. Walau dia menguatkan hati bahwa itu tidak masalah, tapi melihat betapa Zain begitu lengket dengan Safira membuat Nita sedikit merasa iri. Zain adalah putra kandungnya, tapi justru memperlakukannya seperti orang asing.
Buru-buru perempuan itu mengembangkan senyum. “Nggak apa-apa. Ada apa, Alvin?”
Alvin menunjuk Ashqar dan Zain yang hampir melewati pintu hotel. “Papah sama Zain udah ke luar. Tante nggak ikut? Bukannya mau balik ke Jakarta?”
“Ayo. Maaf, tante agak ngelamun tadi,” katanya meraih koper dan berjalan di samping Alvin.
Sepanjang langkah mereka, Alvin diam-diam mencuri pandang pada Nita yang tersenyum tipis memandang Ashqar dan Zain yang bergandengan tangan. Benak kanak-kanaknya tergelitik, ingin tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan di sampingnya ini. Namun, ia tidak cukup berani bertanya, takut nanti menjadi masalah.
Begitu mereka sampai di parkiran, Ashqar lebih dulu menyimpan tas kedua putranya ke dalam bagasi dan membantu Zain untuk duduk di kursi depan. Sementara Alvin menyusul di kursi belakang
__ADS_1
“Ashqar, tunggu sebentar!” cegah Nita, menghampiri Ashqar yang hampir masuk ke dalam mobil.
Ashqar mengurungkan niat. Dia kembali ke luar dan menutup pintu mobil. “Ada apa?” katanya, berhadapan dengan Nita.
“Itu … kalau nggak keberatan, boleh nggak anterin aku ke bandara?”
Ashqar menimbang-nimbang. Dia memeriksa sekitar apakah ada yang mengenali Nita atau tidak, minimal tidak ada orang mencurigakan di sekitar mereka. Popularitas Nita yang semakin menanjak membuat dirinya dan Safira jadi lebih hati-hati dalam bertindak, mereka tidak ingin Zain terpampang di acara gosip televisi.
“Ya udah, tapi aku anter cuma sampai depan,” katanya kemudian masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Nita.
Begitu Nita berada di kursi belakang, Ashqar segera tancap gas dan melajukan mobilnya menuju bandara. Tanpa mereka sadari, seorang paparazzi sudah mengawasi Nita sejak perempuan itu ke luar dari hotel bersama Alvin dengan kamera di tangan.
.
.
.
✄................................................
Bersambung…
Silahkan ditebak akan seperti apa jadinya kkk\~
__ADS_1