Gaung Rasa

Gaung Rasa
Macet


__ADS_3

Sudah menjadi rahasia umum nasional jika jam sibuk ibu kota berbanding lurus dengan volume kepadatan lalu lintasnya. Berbagai merk kendaraan roda empat dan roda dua tumpah ruah di setiap sudut jalanan utama, mengantri untuk sampai ke tempat tujuan secepat mungkin walau kenyataannya hal itu tidak mungkin. Bersama dengan karyawan swasta, buruh pabrik, publik figur atau mungkin pejabat negara, Rafa dan Ashqar pun menjadi salah satu dari sekain banyak orang yang terjebak dalam kemacetan.


Supir yang membawa mobil mereka duduk dengan gelisah. Dia tahu bahwa majikannya akan menghadiri acara penting, tapi keadaan tidak mendukung harapannya agar bisa membawa mobil dengan lancar. Apa yang dirasakan si supir ternyata tak jauh berbeda dengan apa yang sedang Ashqar rasakan. Pria itu tak berhenti bergerak-gerak gelisah, seakan-akan ia sedang duduk diatas pecahan kaca.


“Bisa duduk anteng nggak?” ucap Rafa ketus. Dia risih dengan tingkah Ashqar yang tidak beda jauh dengan keponakannya.


Ashqar menoleh, memandang Rafa dengan tatapan yang membuat pria itu merinding.


Rafa menjulurkan tangan dan medorong wajah Ashqar, tepat dipipi. “Nggilani.”¹ Dia mendengus keras, hampir menyumpah lebih lanjut atas kelakuan iparnya yang absurd. “Jangan bilang kamu grogi?”


“Fa, kamu beneran nggak ikut ngadepin pers? Kalau aku sampe salah ngomong gimana?” cerocos Ashqar, tanpa sadar logat jawanya keluar dan semakin kental.


“Resiko ditanggung sendiri. Lagian, kamu ini ‘kan pernah jadi calon dokter, pinter dong harusnya.”


“Apa hubungannya. Dasar,” bisik Ashqar menggerutu.


Bagus sekali. Rafa membuatnya harus menghadapi puluhan pertanyaan, kamera dan banyak orang sementara dia akan berdiri dibelakang layar seperti bagaimana seorang produser seharusnya bekerja. Meski gosip ini memang menyangkut dirinya, tapi bukan berarti Ashqar siap menghadapi belasan pertanyaan dalam waktu yang bersamaan. Salah-salah ia bisa keliru menjawab pertanyaan.

__ADS_1


Ashqar mengatur napas, semakin dipikikan semakin ia tertekan. Namun, ia sadar tak bisa terus-terusan merasa demikian. Jadi Ashqar mencoba mengendalikan diri sebaik maungkin, memanfaatkan waktu yang ada untuk mendapatkan fokus. Anggaplah saat ini ia akan ditugaskan di Unit Gawat Darurat, tempat dimana banyak pasien yang akan terus berdatangan dengan masalah kesehatan berbeda dan kondisi medis yang berbeda pula. Meskipun hal itu harus dibayangkan dengan susah payah juga.


Sementara itu, Rafa yang sedang sibuk dengan ponselnya hanya melirik Ashqar yang sudah memejamkan mata, membiarkan suadara iparnya mengistirahatkan diri juga pikiran. Menghadapi masalah beruntun dan masih harus berhadapan dengan banyak orang karena masalah yang disebabkan orang lain pasti bukan hal yang mudah, selain karena Ashqar bukan seorang publik figur, juga karena masalah ini adalah masalah pribadi yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik.


Sampai beberapa menit berlalu, kepadatan mulai sedikit terurai dan pedal gas menjadi lebih sering diinjak. Mobil mereka hanya berjarak kurang dari satu kilometer kedepan dari tempat dimana mereka akan mengadakan konferensi pers.


“Udah nyampe?” tanya Ashqar dengan suara serak, kelopak matanya berkedip beberapa kali.


“Ilernya dilap dulu, tuh.”


Ashqar merengut, memilih tak menanggapi ucapan Rafa. Dia melirik jam di pergelangan tangannya lalu memperhatikan sekeliling diluar jendela mobil. “Kita masih belum sampai?”


Kening Ashqar berkerut. “Apa ada masalah?” tanya Ashqar penuh antisipasi.


“Harusnya nggak ada.”


Ashqar dengan cepat mengesampingkan rasa heran. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Nita. Namun, setelah lebih dari lima menit pesan yang Ashqar kirim tak kunjung mendapatkan ceklis dua hingga membuat ia kembali mengirimkan pesan yang sama beberapa kali. Sayangnya hal yang sama yang Ashqar terima.

__ADS_1


“Masih ceklis satu?” tanya Rafa. Ashqar mengangguk, membuat Rafa menggeram tertahan. “Coba kamu telfon aja.”


Keduanya mendadak sibuk dengan ponsel masing-masing dan ekspresi keduanya pun sama-sama menunjukan ketidakpuasan yang kentara. Ashqar adalah orang pertama yang mematikan ponsel. Nomor Nita sama sekali tak bisa dihubungi, bahkan hanya ada keterangan memanggil dari aplikasi Whatsapp beberapa kali. Ini bisa berati beberapa hal, ponselnya sengaja dimatikan, kehabisan kuota atau baterai ponselnya habis. Namun, apapun alasannya, hal itu membuat Ashqar menjadi tak tenang.


“Fa, Nita nggak―”


“Fikri, berapa lama lagi kita sampai?” tanya Rafa pada supirnya dan memotong ucapan Ashqar.


“Kalau seperti ini terus kemungkinan lima belas menit, Pak.”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Pojok Diksi :


¹Nggilani \= Jijik


__ADS_2