Gaung Rasa

Gaung Rasa
Epilog : Tiga


__ADS_3

Katanya, cinta pertama anak perempuan adalah ayah mereka sementara cinta pertama anak laki-laki adalah ibu mereka. Safira tak ingin besar kepala, tapi sepertinya ungkapan itu ada benarnya juga.


Momen yang langka ketika ia dan Alvin bisa menghabiskan waktu berdua di rumah, tanpa celetukan Zain atau pertanyaan random Harsha yang mengganggu obrolan mereka. Mereka bisa leluasa untuk berbicara dari hati ke hati, mulai dari pertanyaan umum orang tua seputar sekolah sampai pertanyaan yang cukup pribadi. Setidaknya itu yang Safira harapkan.


Lagi pula, Alvin sendiri memilih untuk tinggal di rumah bersama dengannya menikmati cemilan siap saji dan acara televisi di Minggu pagi, ketimbang tawaran menggiurkan Ashqar untuk ikut bergabung bersama Zain ke kolam renang, atau tawaran lain dari kedua kakek-nenek yang membawa Harsha ke pusat perbelanjaan terdekat.


“Jadi ... Mas Alvin punya temen perempuan yang buat Mas Alvin tertarik nggak?” tanya Safira hati-hati.


Alvin yang sedang mengunyah potongan kentang goreng seketika berhenti dan menoleh pada Safira, menatap heran pada wanita kecintaannya.


“Tertarik itu apa, Mah?”


“Suka maksudnya, Mas. Ada nggak yang disuka?”


Alvin berdengung, memasang wajah berpikir dan itu membuat Safira menjadi antusias, seolah-olah peti harta karun akan terbuka di depan wajahnya. “Ada nggak?” ulang Safira.


“Nggak,” jawab Alvin singkat lalu kembali pada layar televisi.


Safira mendengus sebal. “Masa nggak ada, sih?”

__ADS_1


“Nggak ada, Mah.”


Safira mencodongkan wajahnya mendekat ke arah Alvin lalu menusuk-nusuk pipi anak itu. “Yang bener? Kan, temen SMP Mas Alvin banyak yang cantik-cantik.”


“Mah.”


“Apa sama Fara? Temen Mas Alvin waktu SD?”


“Mamah,” protes Alvin. “Bisa nggak tanyanya yang lain aja.”


Safira semakin merengut dan semakin penasaran. Alvin sudah bukan anak kecil manis lagi seperti dua tahun lalu, anak sulungnya itu kini sudah duduk di kelas satu SMP, memiliki kesibukan yang lebih padat dan―seharusnya, sudah mulai memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.


Pengalaman remajanya di masa lalu membuat Safira bertekad untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan bersosial putra-putrinya, hal yang sudah ia dan Ashqar sepakati bersama. Terutama saat dunia semakin maju dengan perkembangan teknologinya terutama sosial media yang dimana ia memiliki keterbatasan untuk mengawasi.


Mengenyampingkan rasa penasaran, Safira memutuskan untuk berbaring di samping Alvin. Dia menyamankan punggung di atas karpet berbulu baru hadiah ulang tahun pernikahannya dari Rafa. Sementara Alvin masih asik, duduk manis menikmati cemilan di tangan.


Keheningan yang cukup lama menarik atensi Alvin dari layar kaca, diam-diam anak itu melirik Safira dan senyum tipisnya tersungging melihat bagaimana ibunya diam dengan bibir sedikit maju. Safira memang mirip dengan Zain, mungkin sebaliknya.


“Mamah marah, ya?” tanya Alvin, tapi Safira diam saja. Jadi ia memanggil Safira sekali lagi, dan Safira tetap diam.

__ADS_1


Alvin menaruh piring di atas meja, membersihkan tangan dan mulutnya dengan tisu kemudian ikut berbaring di samping Safira. Lalu tanpa aba-aba Alvin memeluk tubuh Safira erat dan mulai menggelitik pinggangnya hingga membuat Safira terpingkal-pingkal. Setelah Safira melambaikan tangan dan mendeklarasikan kekalahan, Alvin baru melepaskan pelukan dan berhenti menggelitik pinggang ibunya.


“Mamah udah nggak marah?”


Safira melambaikan tangan sambil terus mengatur napas. “Mamah emang nggak marah, kok. Mas Alvin niat banget ngelitikinnya,” katanya, merubah posisi dari berbaring jadi duduk.


Ekspresi Alvin seketika berubah―senyum jenakanya berganti kerutan khawatir, setelah melihat bagaimana Safira kesulitan mengatur napas. “Mamah nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa,” jawab Safira diantara napasnya yang putus-putus. Ternyata, terlalu banyak tertawa itu tidak baik.


Namun, jawaban itu tak membuat kekhawatiran Alvin menghilang. Bocah berusia dua belas tahun itu segera duduk dari berbaring dan mendekatkan diri dengan Safira. “Yang bener, Mah? Aku ambilin minum, ya? Atau aku telfon papah aja suruh pulang sekarang?”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Sampai jumpa besok 👋🏻🖤


__ADS_2