Gaung Rasa

Gaung Rasa
Minggu Pagi dan Secangkir Kopi


__ADS_3

Keesokan harinya, Ashqar menikmati paginya terlampau santai. Minggu pagi yang damai ditemani segelas kopi instan dan sepiring pisang goreng hangat buatan istri tercinta.


“Ah! Nikmat mana lagi yang aku dustakan,” celetuk Ashqar, merentangkan kedua lengannya di sepanjang kepala sofa.


Kelopak matanya terpejam dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Ashqar hampir lupa dengan hari libur seperti ini. Sejak menikah, Minggu paginya dipenuhi dengan kegiatan pagi yang padat.


Biasanya Zain akan meminta untuk ditemani jalan-jalan pagi di sekeliling kompleks sebelum akhirnya dilanjutkan dengan bermain di rumah. Namun, kali ini rutinitasnya berbeda. Meski bukan pertama kalinya, tapi hal seperti ini jarang sekali terjadi dimana Alvin dan Zain tidak ada di rumah sejak pagi-pagi sekali.


Edi dan Sari datang sekitar pukul setengah enam, bersama Rafa dan Ranee yang juga ambil bagian dalam acara piknik keluarga untuk menjemput kedua putranya yang bahkan sudah siap-siap sejak subuh. Padahal biasanya Zain sangat susah untuk bangun pagi bahkan Safira dibuat heran dengan hal itu.


Menolak ajakan Safira untuk sarapan lebih dahulu, Edi langsung membawa kedua cucunya pergi tak lama setelah datang. Dan Rafa, pemilik ide acara, tanpa basa-basi sama sekali tidak menawarkan Ashqar dan Safira untuk ikut bergbung. Selamat berduaan, begitu yang laki-laki itu katakana.


Entah Rafa melupakan fakta bahwa Harsha bersama mereka atau itu sebenarnya sebuah ejekan lain yang diarahkan pada Ashqar, tapi dia cukup berterimakasih kepada iparnya itu atas waktu yang sudah mulai jarang ia dan Safira dapatkan.


Perlahan Ashqar membuka kembali kelopak mata lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah terasa sepi dan sepertinya Safira masih di kamar bersama Harsha.


“Kalau nggak ada sepi, kalau ada kadang bikin pusing,” ucap Ashqar, meraih remot dan menyalakan televisi.


Beberapa kali dia mengganti saluran, tapi tidak ada yang benar-benar menarik untuk ditonton. Sampai akhirnya dia memilih sebuah saluran yang sedang menayangkan iklan mie instan. Kemudian setelah beberapa iklan yang ditonton, saluran itu memuat acara gosip dan tengah meliput konferensi pers peluncuran sebuah film.

__ADS_1


Ashqar tidak memperhatikan sampai sebuah nama disebut dan menarik atensinya dari ponsel yang baru ia pegang.


“Saya merasa terhormat banget sama semua pemain, terutama sama dua aktor dan aktris yang memerankan tokoh utama dari novel saya. Buat Kak Nita dan Kak Daren, makasih banyak,” tutur seorang perempuan berhijab dengan perawakan gempal. Lesung pipinya terukir manis saat senyum menghiasi wajahnya, mengakhiri kalimat yang dilontarkan.


Kemudian saat Nita meraih mikrofon dari tangan seorang pria di sampingnya, lawan mainnya, Ashqar terpaku.


“Saya setuju sama Daren, yang harusnya berterima kasih justru kami para pemain Film Lantunan Cinta karena dikasih kepercayaan dan kesempatan luar biasa ini,” ucap Nita, melayangkan senyuman kea rah kamera. “Terutama saya yang dipercaya untuk memerankan tokoh utamanya, Cyntia. Gadis tangguh yang menghadapi kerasnya ibu kota.”


Seorang wartawan dari barisan depan terlihat mengangkat tangan lalu setelah dipersilahkan, wartawan tersebut menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat seisi ruangan memberikan respon yang berbeda-beda.


“Saya mau bertanya ke Kak Nita. Apakah benar bahwa anda menerima peran ini berkat dukungan dari kekasih anda yang kabarnya seorang pengusaha?”


“Kayaknya cuma aku yang inget, ya?” tukas Nita, ada getir di nada suaranya.


Ashqar berdeham. “Itu udah lama banget, wajar aja kalau aku udah lupa,” ucap Ashqar begitu mendapatkan pengendalian dirinya lagi. “Lagupula, seharusnya kamu nggak perlu mengingat-ingat hal yang udah berlalu. Bukannya sekarang kamu juga udah punya seseorang istimewa? Seharusnya kamu membuat banyak kenangan dengan orang itu.”


Nita menaikan satu sudut bibirnya, ia melirik Ashqar lewat sudut mata. “Kamu jadi bener-bener balik ke Ashqar si kulkas berjalan, ya?” katanya, diselingi tawa kecil. Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan kota, Nita berkata, “Aku cuma bernostalgia, Ashqar. Nggak ada maksud lain. Lagian kita berdua udah terlalu terlambat buat CLBK.”


Ashqar menyadari hal itu hingga dia kembali tak bisa membalas ucapan Nita. Menyadari bahwa mereka tak bisa bersama setelah jauh sebelumnya dia sendiri pernah begitu berharap bahwa takdir akan sedikit berbaik hati padanya, menyatukan kembali ikatan yang terputus dan menjalinnya lebih kuat membuat Ashqar menyadari jika ia telah banyak berubah.

__ADS_1


Jika hal itu terjadi jauh sebelum ia bertemu Safira maka Ashqar sudah tentu akan merasa seperti diberkahi bintang jatuh. Namun, saat ini bahagiannya bukan lagi Nita. Harapannya sudah berbeda bahkan cinta untuk perempuan itu telah sirna.


“Nggak ada lagi harapan untuk masa yang nggak bisa diulang,” bisik Ashqar, meraih remot dan hendak memindah saluran. Namun, tiba-tiba sebuah suara menyentaknya.


“Kenapa diganti, Mas?”


Ashqar menoleh, tak sepenuhnya berhasil menyembunyikan rasa kaget. Dia hanya berharapa Safira tak mendengar ucapannya atau istrinya mungkin saja akan salah paham.


.


.


.


✄................................................


Who’s miss me?


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, karena komentar kalian mood booster terbaikku. Maaf kalau nggak dibales, next time aku balesin satu-satu atau like yaaa

__ADS_1


__ADS_2