Gaung Rasa

Gaung Rasa
Panik Bersama


__ADS_3

Ashqar tidak mengangkat panggilan Safira yang ketiga kalinya tepat ketika mobil berputar di perempatan besar, kemudian melaju di sepanjang jalan utama menuju ke rumah sakit. Dia menduga jika suaminya itu mematikan nada dering atau menyimpan ponselnya di tempat lain.


Safira hampir diserang kepanikan, tapi untungnya supir taxi mencoba memberikan saran logis di tengah situasi seperti ini.


“Anu … Mbak kalau suaminya nggak bisa dihubungi mungkin coba telefon saudara atau orang tua aja. Terus nggak usah panik Mbak, atur napasnya,” katanya, melirik Safira dari spion tengah.


“Kok, Bapak tahu saya telfon suami saya?”


“Dulu istri saya juga gitu, Mbak.”


“Oh.” Safira mengangguk mafhum kemudian mengikuti saran si supir.


Sambil mengatur napas, dia menimbang-imbang siapa yang paling cepat untuk dimintai bantuan. Vera. Satu nama itu terlintas di benaknya, tetapi teman baik sekaligus calon iparnya itu tidak berada di Solo. Lalu nama lain mampir sebagai alternatif yang paling memungkinkan untuk Safira mintai bantuan. Dengan cepat dia mencari kontak Rafa dan menghubunginya.


Safira harap-harap cemas, dia berharap bahwa Rafa tidak sama sibuknya seperti Ashqar. Dan tidak seperti dugaannya, Rafa langsung mengangkat panggilannya di nada dering yang pertama.


“Ada, Fi?” tanya Rafa tanpa basa-basi. Terdengar banyak suara di sekitar Rafa, dari yang bisa Safira tangkap sepertinya Rafa tengah berada di tengah-tengah perkebunan.


“Kakak sibuk?”

__ADS_1


“Nggak begitu. Ada apa? Kalau kamu butuh sesuatu bilang aja.”


Safira melirik Zain yang masih mengusap perutnya, hal itu membuat dadanya terasa hangat kemudian dia menyadari bahwa nyeri di perutnya sudah mereda. “Anu … kayaknya ini aku mau lahiran, Kak. Aku minta tolong Kakak anter tas di kamarku yang di rumah Bapak, isinya perlengkapan bayi.”


“Oh, itu aj— Eh! Kamu mau lahiran?” pekik Rafa. Safira menjauhkan ponselnya dari telinga. Lalu saat dia mendekatkannya kembali, Rafa sudah memberondonginya dengan pertanyaan. “Ini kamu di rumah, ‘kan? Aku jemput sekarang, tunggu sebentar. Lima belas menit lagi sampai.”


Safira bisa mendengar suara gaduh dari seberang sambungan. Lima belas menit? Apa kakak laki-lakinya itu punya kekuatan super? Bahkan dengan kecepatan 80km/jam saja, sebuah mobil memerlukan waktu kurang lebih satu jam dari perkebunan hingga sampai ke rumahnya.


“Kakak dengar dulu!” seru Safira, menghentikan ocehan Rafa. “Aku ini udah sampai rumah sakit, jadi Kakak tinggal ambil tasnya terus ke sini aja. Sama minta tolong jemput Mas Ashqar sekalian. Dia ada rapat terus telfonku nggak diangkat sama sekali.”


Safira melirik dari jendela, plakat besar bertuliskan R.S Ibu dan Anak terlihat jelas. Begitu Rafa mendapatkan kembali pengendalian dirinya dan menyanggupi permintaan Safira, sambungan telefon terputus.


Dibantu supir, Safira berhasil sampai dengan selamat. Tentu saja urusan si supir dan dirinya sudah selesai lengkap beserta pembayaran yang sengaja dilebihkan. Untungnya dia bertemu supir yang cukup handal, kalau tidak mungkin Safira sudah melahirkan di dalam mobil karena panik.


***


Ashqar sedang berada di tengah-tengah diskusi serius tentang kerjasama bisnis dengan perwakilan dari perusahaan suplaier obat dan pakan ternak, PT. Bio Pratama, saat Rafa menerobos masuk ruang rapat. Tidak cukup dengan ketidak sopanannya, Rafa juga menyela diskusi dan meminta rapat itu ditunda sementara.


Hanya sebuah kebetulan, yang untungnya, Rafa mengenal perwakilan perusahaan tersebut dan secara sepihak meminta rapat untuk dijadwalkan ulang kembali. Dan yang membuat Ashqar tidak habis pikir adalah ide sembrono Rafa diterima begitu saja oleh perwakilan PT tersebut.

__ADS_1


“Kamu harus punya alasan masuk akal buat semua ini, Rafa?” geram Ashqar saat ruangan rapat hanya tersisa mereka berdua. “Dan bagaimana bisa mereka menyetujui kamu gitu aja?”


“Penjelasannya nanti aja, kamu ikut aku sekarang.”


Ashqar mengangkat telapak tangan dan mundur dua langkah. “Nggak bisa, jelasin dulu. Kamu nggak bisa seenaknya kayak gini hanya karena koneksimu lebih lebar.”


“Safira mau melahirkan, dia udah di rumah sakit,” kata Rafa, pada akhirnya. Meski sebenarnya ia ingin menyeret Ashqar sekarang juga atau paling tidak menonjok rahangnya.


Ashqar menatapnya dengan mata lebar dan penuh keterkejutan. “Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?”


Kening Rafa berkerut, matanya menyipit dan menatap Ashqar tak percaya. Bahkan saat Ashqar meninggalkan ruangan, dia masih termangu di tempat. “Dasar ipar sialan,” desisnya, menyusul Ashqar.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Hari ini update satu chapter, soalnya aku masih kejar tayang kerjaan kantor. Tapi semoga bisa jadi hiburan buat kalian semua yang nungguin kelanjutan cerita ini


__ADS_2