
Aku sengaja kasih note diawal cerita dan cuma mau bilang, makasih buat kalian yang mau nungguin kelanjutan cerita ini. Sayang kalian semua banyak-banyak 🤗
Disarankan baca beberapa bab sebelumnya kalau lupa sama alur ceritanya. Soalnya aku juga gitu muehehee
Selamat membaca~
﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏
Keesokan harinya, Ashqar mendapatkan banyak notifikasi pesan WhatsApp dari Rahma. Salah satu pesan ia terima dijam empat pagi dan kini sudah lebih dari dua jam berlalu, tapi kakak perempuannya itu masih terus mengirimi tautan tautan dari beberapa situs portal berita yang memuat gosip terbaru mengenai dirinya, Nita dan Safira.
Dan dari sekian banyak tautan yang Rahma kirim hanya dua artikel yang ia baca. Dua artikel itu memuat narasi masa lalu ia dan Nita, dimana isi artikel itu sangat dipertanyakan kebenarannya. Juga artikel lainnya yang membuat dirinya geram.
Berhenti kirim tautan tautan gosip, Mbak. Kalau nggak aku blokir!
Pesan terkirim dan tak sampai setengah menit sudah mendapatkan ceklis dua berwarna biru, seakan-akan Rahma memang sejak tadi tak melepas ponsel dari tangannya dan menunggu balasan Ashqar. Rahma jelas ingin menekan dirinya atas permasalahan ini. Dia tak berharap lebih dari reaksi kakaknya itu, tapi memberondong ia dengan banyak tautan gosip cukup membuat jengkel. Seakan-akan Rahma ingin memukul Ashqar secara tidak langsung.
Blokir aja. Kamu pikir mbak nggak bisa pake nomer lain.
Satu pesan balasan Ashqar terima lalu disusul pesan lainnya.
Siku-siku imajiner tergambar di pelipis Ashqar. “Astaga. Dulu ibu nyidam apaan sih, sampe bisa punya anak kayak Mbak Rahma gini,” batin Ashqar.
Cepet selesein masalah ini, kasihan Safira kalau harus kepikiran terus disaat kondisi hamil kayak gini.
__ADS_1
Kening Ashqar berkerut saat membaca Rahma. Kejadian belakangan ini seperti rentetan gerbong kereta api hingga membuat fokus Ashqar compang-camping. Dia sampai lupa memberitahukan kehamilan Safira pada keluarganya, jadi bagaimana Rahma tahu mengenai hal ini? Namun, belum sempat otak Ashqar memproses, satu pesan dari Rahma kembali masuk.
Jaga diri. Hati-hati jangan sampe ada masalah baru lagi. Kabarin mbak kalau ada perkembangan, ibu khawatir.
Membaca kata ibu membuat Ashqar seketika teringat obrolan panjangnya dengan istri tercinta kemarin malam. Itu bukan obrolan romantis ala-ala pasangan LDR kebanyakan, jelas karena mereka baru berpisah kurang dari satu hari dan lagi pula, Safira menelepon dirinya dalam keadaan sesenggukan alih-alih menyapa dan bertanya kabar yang membuatnya kelabakan.
“Mas, aku sedih. Aku kecewa.” Adalah kalimat pertama yang Ashqar dengar begitu ponsel menyentuh daun telinga.
Kontan ia panik, menodong Safira dengan banyak pertanyaan. Namun, tak ada satupun kata yang terlontar kecuali tangisan istrinya. Jadi Ashqar menarik diri sejenak, sampai akhirnya Safira tenang dan menjelaskan.
Entah kabar baik atau sebaliknya, satu-satunya alasan Safira menangis dan terpikir menghubunginya adalah karena wanita itu baru saja menonton sebuah web series. Ashqar sempat kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Kemudian setelah curhatan penuh air mata, Safira menceritakan seluruh kejadian satu hari kemarin.
Dimulai dengan Zain, reaksi Rahma dan ibunya mengenai gosip yang sedang ramai dan kabar kehamilan Safira, juga saat istri dan mertuanya membuat laporan ke Polresta Surakarta. Ashqar cukup terkejut dengan hal itu, karena setahunya Ranee yang akan menemani Safira. Namun, setelah mendengar alasan Safira—selain karena Ranee mendapat panggilan darurat, Ashqar hanya bisa menggelengkan kepala, tak tahu harus bagaimana menanggapi candaan sarkas Safira.
Jari-jari Ashqar terus bergerak di atas layar sentuh, menimbulkan bunyi cukup bising yang mengisi seluruh mobil. Hal itu tentu saja menarik perhatian Rafa dari kesibukannya sendiri. Pria itu bahkan sampai mengurungkan niat untuk mengetik pesan balasan.
“Suara keyboard-nya bisa dimatiin?”
Pertanyaan bernada sarkas dari Rafa menahan pergerakan jari Ashqar untuk beberapa saat dan alih-alih menanggapi permintaan Rafa, Ashqar justru cuek bebek dengan tetap melanjutkan kegiatannya.
Melihat respon Ashqar yang tak sesuai harapan, Rafa kembali berbicara, “Jangan bilang kamu chating sama Fira.”
Ashqar menunjukkan layar ponselnya kedepan wajah Rafa. “Suudzhon terus!”
__ADS_1
Rafa menaikan bahu, acuh tak acuh, lalu melanjutkan urusannya. Hubungan “akrab” kedua ipar itu sudah menjadi rahasia internal, tapi lain hal dengan supir yang mengemudikan mobil. Pria pertengahan tiga puluhan itu terus memasang ekspresi bingung yang sebisa mungkin disembunyikan. Majikannya sangat jarang berkunjung ke Jakarta dengan ditemani orang lain selain Edi, jadi sangat mengherankan saat Rafa memperkenalkan pria di sampingnya itu sebagai adik ipar.
Akan tetapi, sebagai bawahan yang bekerja hanya saat tuannya datang, selain menjaga kebersihan rumah pribadi Rafa, dia tidak berani banyak bertanya kecuali untuk hal-hal yang menyangkut pekerjaan.
“Pak, kita ke rumah Pak Handoko yang di daerah mana?”
Rafa menaikan wajah dari ponsel. “Anggrek,” jawabnya singkat yang mendapat anggukan mantap dari supir.
Ashqar sudah menyimpan rasa penasaran sendiri sejak subuh tadi saat Rafa memintanya bersiap dan sekarang semakin penasaran dengan obrolan singkat atasan dan bawahan ini.
“Sebenernya kita mau ketemu siapa?” tanya Ashqar.
“Orang yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat.”
.
.
.
✄................................................
Bersambung...
__ADS_1