Gaung Rasa

Gaung Rasa
Serangan Akhir


__ADS_3

“Kenapa mbak diem aja?”


“Fi,” panggil Rafa. Namun, Safira mengabaikannya.


“Mbak bener baik-baik aja?” ulang Safira, menekan Nita.


“Safira,” panggil Rafa sekali lagi dengan nada rendah.


Lagi-lagi Safira mengabaikan Rafa. Dia tahu jika kakaknya sedang memberikan peringatan dan jujur saja ia akan menciut kalau Ashqar yang melakukannya. Namun, melihat suaminya duduk tenang memangku Harsha, Safira menjadi tenang.


“Iya. Aku baik-baik aja.”


Jelas tidak. Safira bahkan bisa mendengar getaran pada suara Nita.


“Bagus kalau mbak baik-baik aja. Jadi apa yang mbak mau dari pertemuan ini?” tanya Safira terus terang.


Safira tidak ingin berbasa-basi meski sebenarnya ada kata yang ingin ia dengar langsung dari mulut Nita. Sayangnya, wanita itu masih membisu dengan kepala tertunduk. Hingga akhirnya, Nita mengangkat wajah dan menatap balik Safira meski sesekali melepaskan kontak mata mereka.


“Aku nggak tahu harus mulai darimana. Aku sendiri nggak yakin apa yang harus aku katakan. Tapi mengingat ini bisa aja pertemuan terakhir kita makanya aku mau ketemua kalian, terutama dengan Zain.” Nita tersenyum miris sambil melirik Ashqar yang masih enggan buka suara. Kemudian ia kembali pada Safira dan berkata, “Tapi nggak apa. Mas Rafa udah kasih tahu tentang Zain dan kondisinya.”

__ADS_1


Sesuatu mencubit Safira tepat di dada mendengar ucapan Nita, ada kesedihan yang kentara disana. “Aku minta maaf karena nggak bisa mengajak Zain, mbak.”


Nita menggeleng. “Nggak. Aku yang harus minta maaf. Karena masalah ini ... kalian harus ....”


Nita membuang muka, kalimatnya tak rampung dan samar-samar wanita itu terisak. Dua kali Nita mencoba merampungkan kalimatnya, tapi terus saja gagal. Wajah Nita perlahan menjadi merah begitu juga dengan kedua bola matanya, lalu air mata mulai turun membasahi pipinya.


Melihat keadaan Nita, Safira berdiri dan beranjak menuju wanita itu. Dia bahkan mengusir Rafa dan menempati kursi yang sebelumnya Rafa tempati. Kemudian setelah ia menyamankan diri disana, Safira memeluk tubuh Nita tanpa mengatakan apapun.


Tepat setelah Safira memeluk tubuh Nita, pintu terbuka dari luar disusul dengan langkah seseorang yang masuk ke dalam ruangan yang membuat atensi Rafa dan Ashqar teralihkan.


Visual seorang pria dengan tinggi badan 180 cm berjalan masuk dan mendekati Rafa, tetapi tatapannya tak lepas pada Safira dan Nita yang masih berpelukan.


“Ada apa?” bisiknya, setelah duduk di samping Rafa.


Rafa sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi saat ini antara Nita dan Safira. Adiknya itu langsung memberikan serangan setelah bertemu, tapi sekarang situasi berubah 180 derajat. Bahkan Rafa sempat berpikir bahwa Safira akan mencecar dan menyudutkan Nita.


Rafa menggeleng lalu melirik seberang meja saat merasa seakan-akan sedang diperhatikan. Dan benar saja, Ashqar tengah menatap tajam kearahnya, lebih tepatnya pada seseorang yang duduk di sampingnya.


Berbeda dengan Nita dan Safira yang tak bisa ia pahami, Rafa bisa memahmi tatapan Ashqar. Rasa ingin tahu dan kecemburuan jelas tergambar dalam tatapannya dan itu membuat jiwa usil Rafa bergetar. Namun, belum juga Rafa sempat menggoda Ashqar, Nita dan Safira lebih dulu mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


“Mbak nggak baik-baik aja ‘kan, sebenernya?” tanya Safira, menyeka air mata yang membasahi pipi. Pada akhirnya, ia pun berbagi beban melalui pelukan.


Nita tertawa sumbang. “Mana bisa aku bilang gitu sementara kamu dan Ashqar dapat banyak kesulitan gara-gara aku.” Nita memandang Safira tepat di netranya. “Aku minta maaf sama kamu dan Ashqar, aku minta maaf sama kalian semua atas masalah kemarin. Mas Rafa udah kasih tahu aku semuanya dan aku benar-benar merasa bersalah, aku nggak tahu harus bagaimana.”


Safira mengambil kedua tangan Nita dan menggenggamnya erat. Ucapan Nita membuat beban dan prasangka di dada Safira seketika lenyap, terutama saat ia bisa merasakan ketulusan dari kata-kata yang diucapan wanita di hadapannya ini. Safira tidak menampik jika ia sempat marah dan kecewa karena Nita sulit dihubungi hingga membuatnya berpikiran jelek tentang wanita itu. Namun, sekarang semua itu telah hilang tanpa sisa.


“Kita semua melalui masalah yang berat, mbak. Tapi sekarang kita udah melewati semua itu,” ucap Safira. “Mbak nggak perlu khawatir sekarang.”


Dia merasa iba dengan keadaan mantan istri suaminya ini, wajahnya terlihat tirus dengan lingkaran hitam di bawah mata. Safira yakin jika Nita mengalami penurunan berat badan yang lumayan banyak apalagi dengan banyaknya komentar kebencian yang diarahkan banyak orang kepadanya.


“Kalian udah selesai, nona-nona?” sela Rafa.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


ps. berhubung ternyata chapter terakhir lebih dari yang aku kira, jadi dilanjut besok. Dan besok Gaung Rasa officially tamat 🤧


__ADS_2