
Ranee merasa sedikit bersalah telah mengangkat topik sensitif ditengah-tengah obrolannya bersama Safira. Namun, dia menyadari bahwa hal ini memang harus dibahas. Selain karena saat ini Sari adalah calon ibu mertuanya, Ranee juga berpikir bahwa hubungan Safira dan Sari harus segera diperbaiki. Terlebih saat ini dia merasa bahwa bisa lebih ikut campur.
Menyadari suasana yang berubah suram, Ranee memutar otak dan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka sekali lagi. Sampai akhirnya dia teringat dengan hal yang membuatnya tidak tenang dan terus kepikiran selama beberapa hari belakangan ini.
Ranee berdeham sambil mencuri pandang pada Safira. “Maaf kalau aku kayak maksa kamu buat memperbaiki hubungan sama Tante Sari.”
“Nggak apa-apa, Mbak.” Safira mengangkat wajah, menatap Ranee dan mengulas senyum tipis. “Aku akan berusaha buat bersikap baik kepada Tante Sari, tapi buat memaafkan apa yang udah dia perbuat … aku butuh waktu.”
“Aku ngerti,” ucap Ranee. Dia tidak bisa memaksa Safira dan tidak ingin melakukannya. “Oh, ya. Ada hal lain yang mau aku tanyain sama kamu.”
Safira terlihat penuh antisipasi. “Mau tanya apa, Mbak?”
“Aku mau tanya tentang …,” dengung Ranee. Dia tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “tentang malam pertama,” cicitnya.
Safira seketika menegakan tubuh, manik matanya membola dan menatap Ranee tidak percaya. “Ma … lam pertama?” tanyanya dengan wajah merah padam.
Pun dengan Ranee. “Iya. Gimana rasanya? Apa bener sakit?”
Safira tidak tahu bagaimana harus menjawab dan kalau harus menjelaskan rasanya sangat memalukan. Namun untungnya, bel rumah berbunyi disaat yang tepat.
“Bantar ya, Mbak.” Safira melenggang ke luar kamar menuju gerbang depan. Seperti diselamatkan, dia merasa lega dengan kehadiran Hendra di depan pagarnya hingga tanpa sadar menyunggingkan senyum lebar. “Ada apa, Pak Hendra?” tanya Safira, membuka gerbang.
“Saya mau ngembaliin kunci inggris, Mbak.” Hendra menyodorkan dua buah kunci inggris yang Safira tak paham betul kegunaannya. “Mas Ashqar kemana, Mbak?” tanyanya, melirik ke arah pintu rumah.
“Lagi jemput anak-anak, Pak. Paling satu jam lagi sampai, ada yang mau disampein?”
“Cuma mau tanya-tanya tentang mobil. Maklum mobil saya mobil tua, saya juga nggak begitu paham tentang mesin,” ucap Hendra, menatap Safira intens. “Kalau gitu saya permisi.”
__ADS_1
Selepas Hendra pergi dari hadapannya, Safira mengembalikan dua kunci inggris ke dalam tempat penyimpanan kemudian dia masuk ke dalam rumah. Akhir-akhir ini Safira merasa ada yang aneh dengan tatapan Hendra kepadanya. Tetangga baru depan rumahnya itu sering kedapatan memperhatikannya atau menatapnya lamat dan hal itu tentu saja membuat Safira menyimpan pikiran negatif.
“Mungkin perasaanku aja kali, ya,” batinnya, masuk ke dalam kamar.
“Siapa, Fi?”
“Tetangga depan rumah, Mbak. Ngembaliin kunci inggris,” katanya, mendekati ranjang dan saat itu juga Harsha menangis. Safira segera meraih Harhsa dan menyusuinya, berhadapan dengan Ranee yang melihatnya dengan tatapan aneh. “Kenapa, sih?”
Ranee menggeleng. “Nggak sakit.”
“Kadang, apalagi kalau pas lagi banjir tapi udah Harsha udah kenyang atau udah nggak bisa pompa lagi,” ucap Safira entang yang membuat Ranee merinding. “Atau pas dikagetin kakak-kakaknya pas nyusu, Harsha refleks gigit putingku. Sakit banget.”
Berbanding terbalik dengan Safira yang memasang ekspresi memelas, Ranee justru bergidik ngeri mendengar cerita Safira. “Jangan nakut-nakutin gitu, dong. Belum selesai nih masalah malam pertama.”
Pipinya panas. Safira meringis, kikuk. “Mbak kenapa penasaran sama malam pertama, sih?”
Safira terdiam. Ranee yang biasanya selalu tampil percaya diri dan serba bisa saat ini terlihat berbeda, ternyata ada juga hal pribadi yang membuatnya takut. Namun, Safira tidak yakin apakah benar untuk membeberkan hal pribadi seperti ini.
“Aku juga malu kalau harus ngejelasin, Mbak.”
“Nggak harus dijelasin, sih. Cuma kasih tahu aja sakit atau nggak.”
Wajah penasaran Ranee mendorong Safira untuk membantunya. “Kayaknya nggak apa-apa kalau cuma gitu,” batin Safira, mengingat-ingat pengalaman pertamanya. “Sebenernya aku udah nggak begitu ingat, Mbak. Kalau nggak salah, sih, sakit. Tapi nggak selebay yang orang-orang bilang, deh. Tergantung kesiapan kita juga sama gimana laki-lakinya, kayaknya.”
Safira agak merasa bersalah karena tidak yakin apa penjelasannya bisa membantu atau tidak. Perasaan saat itu hanya samar-samar dalam ingatannya, begitu banyak hal yang terjadi di hari itu bahkan Safira tidak yakin apa yang mendorongnya untuk yakin melepaskan status gadisnya pada Ashqar.
“Seingatku Mas Ashqar membuat aku nyaman dan melakukannya dengan lembut jadi … ya, begitulah,” sambung Safira menyembunyikan rasa malu di untaian rambutnya yang menutupi sisi wajah.
__ADS_1
Ranee menghembuskan napas, menengadahkan wajah lalu menjatuhkan diri ke atas kasur. “Bisa nggak ya, Rafa kayak Ashqar. Dia grasa-grusu gitu orangnya.”
Safira enggan menanyakan maksud Ranee, tapi dia sepertinya memiliki beberapa perkiraan di kepala. Jadi dia hanya bisa menenangkan Ranee dengan kata-kata, berharap itu cukup bekerja.
“Krucil-krucil masih lama datengnya, Fi?”
“Harusnya nggak nyampe sejam lagi sampai, Mbak. Tadi Mas Ashqar udah chat aku katanya udah sampai di lampu merah depan kampus.”
“Kamu tahu nggak kalau si Nita itu lagi jadi bahan gosip belakangan ini?”
“Pertanyaannya random banget, sih.” Safira memeriksa apakah Harsha sudah kenyang atau belum. Melihat bahwa putrinya masih lahap menyusu, Safira membiarkan Harsha untuk menuntaskan rasa hausnya.
“Katanya dia lagi pacaran sama seorang pengusaha.” Ranee memiringkan wajah ke arah Safira. “Bukan Ashqar, ‘kan?”
Wajah Safira berubah suram. “Ya bukanlah, Mbak. Jangan bicara yang aneh-aneh, deh. Mbak Nita sendiri juga udah cerita hal itu, makanya dia sekarang jauh lebih hati-hati setiap mau ketemu Zain supaya nggak jadi konsumsi wartawan.”
“Syukurlah,” kata Ranee, kembali menatap langit-langit. “Aku nggak mau dia ganggu rumah tangga kalian.”
“Nggak, Mbak. Insya’allah semuanya baik-baik aja. Aku dan Mas Ashqar nggak mikirin sampai segitunya, yang penting Zain nggak terpengaruh popularitas Mbak Nita aja.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1