Gaung Rasa

Gaung Rasa
Dimadu


__ADS_3

Ashqar tak menyangka jika Safira bisa terang-terangan mengatakan bahwa dirinya cemburu. Melihat wajah menggemaskan istrinya membuat Ashqar gemas, tetapi tak berani untuk langsung mencubit kedua pipi Safira. Dia tidak ingin jadi sasaran kekesalan Safira yang suasana hatinya mudah berubah-ubah.


Ashqar berdeham. “Tapi itu cuma komen netizen, Sayang.” Ashqar meraih tangan kiri Safira dan meremasnya. “Nggak usah diambil pusing.”


“Aku nggak pusing!” Safira menyentak tangan. “Tapi aku nggak suka mereka ninggalin komen gini soal mas. Mas itu nggak peka banget, sih.”


Safira menyodorkan ponsel ke depan wajah Ashqar. Cahaya radiasi menyilaukan manik mata Ashqar hingga ia harus memalingkan wajah. Pria itu sudah dua kali diminta melihat laman yang sama, sebuah postingan dengan banyak komentar yang menyebut namanya.


“Udahlah, Yang.” Ashqar mengambil ponsel Safira dan menyimpan di nakas. “Lagian sejak kapan kamu punya akun Instagram?”


Safira menatap wajah Ashqar lamat, manik matanya menyipit lalu ia mendengus kasar. “Au ah! Gelap!” serunya, menyembunyikan diri di balik selimut.


Ashqar menghembuskan napas pelan. Memang jarang melihat Safira terang-terangan mengekspresikan kecemburuannya, tapi jika harus menerima kekesalan istrinya entah untuk berapa lama―karena biasanya lama, Ashqar lebih memilih untuk mengalah. Meskipun memang sudah pasti ia akan berada diposisi itu meski tidak salah. Sudah menjadi hukum tak tertulis jika laki-laki menjadi pihak yang salah dan wanita berada dipihak yang selalu benar.


“Istriku yang cantik. Jangan ngambek-ngembek terus, dong. Suamimu ini ngaku salah karena udah nggak peka,” rayu Ashqar, mendekap tubuh Safira dari luar selimut.


Safira menggeliat dari dalam. “Apanya coba yang nggak peka?”


Ashqar diam-diam meringis. Beginilah kalau berurusan dengan istri yang ngambek, segala pertanyaan bisa terucap. Dia―mungkin juga banyak laki-laki diluar sana, bahkan tak tahu kesalahannya dimana.


Safira berdecak lalu menyibak selimut saat Ashqar tak kunjung memberikan jawaban. “Tuh, ‘kan! Mas gitu.”

__ADS_1


“Jujur aja, Yang. Aku nggak tahu salahnya dimana.” Ashqar mengeratkan pelukannya. “Lagian bukan salah aku, ‘kan?”


Safira mengerutkan kening lalu menoleh mendengar nada suara Ashqar yang dimanis-maniskan. “Nggak usah sok manis, mas.” Safira menatap Ashqar sinis. “Emang bukan salah mas, tapi mas itu nggak peka kalau istrinya sebel gara-gara baca komen netizen enam dua.”


“Lagian ngapain kamu baca-baca komen, Sayang?” kata Ashqar, mencium kening Safira. “Ya ... walaupun banyak komentarnya nggak buruk sih sebenernya.”


“Dih! Malah kesenengan, sih?” Safira mencubit lengan Ashqar hingga suaminya itu mengaduh. “Bisa-bisanya mas seneng dapet komen genit kayak gitu. Oh, jangan-jangan mas emang ada niat mau nikah lagi?”


Ashqar menatap istrinya waspada. Safira bisa sangat spontan apalagi jika dalam suasana hati yang buruk. Ini semua karena komentar-komentar netizen diakun-akun gosip Instagram. Mereka masih membahas soal Nita, banyak yang membelanya terkait urusan kehidupan pribadi, tapi juga memberikan kritikan pedas soal isu penelantaran anak.


Ashqar sendiri memang tidak ingin mengangkat soal itu dan membuatnya menjadi rahasia internal, makanya itu tetap menjadi isu. Sementara banyak sekali, mungkin hampir seluruh komentar, yang justru gagal fokus dari isi video konferensi pers. Video itu terus berseliweran di dunia maya, tapi yang dikomentari hanya dirinya.


“Mana ada, Sayang. Satu aja nggak habis-habis.” Ashqar mengulurkan tangan dan membelai perut Safira. “Udah ya, marah-marahnya? Kasihan yang disini, mah.”


“Itung-itung pembelasan,” kata Safira saat suaminya mengaduh. “Aku tuh sebel liat komen-komen, mas malah santai banget.”


“Terus aku harus gimana, Sayang? Aku juga nggak bisa ngontrol pikiran dan jari orang lain, segitu banyaknya lagi.”


Safira bangkit dari berbaring dan bersandar pada kepala ranjang. “Ya emang bukan salah mas, sih. Tapi tetep aja aku jengkel pas bacanya,” kata Safira, mengusap perut Ashqar yang tadi ia cubit.


“Iya, aku paham.”

__ADS_1


“Mas lihat komentar-komentarnya, ‘kan? Masa pada gagal fokus ke mas.”


“Aku lihat, Yang.”


Safira mengapit lengan Ashqar dan bersandar di pundak suaminya. “Masa ada yang bilang rela jadi istri kedua soalnya mas ganteng.”


Kenyataannya yang memberikan komentar seperti itu tidak sedikit. Banyak yang meninggalkan komentar bahwa rela menjadi istri kedua Ashqar karena ketampanan pria itu yang membuat perempuan-perempuan jagat baya heboh. Mungkin mereka yang meninggalkan komentar seperti itu rela menjadi madu, tapi Safira jelas tidak.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Weh ... maapkeun, gaes. Aku dari Jumat libur👉🏻👈🏻


Semua ini karena ketularan misua jadi ikut kena flu 🤧

__ADS_1


Jadi tolong jaga kesehatan semuanya~


Makasih selalu dukung aku (づ ̄ ³ ̄)づ


__ADS_2