Gaung Rasa

Gaung Rasa
Tragedi Terulang?


__ADS_3

Mendengar ucapan Rafa membuat Ashqar seakan tersedot masuk ke dalam dimensi lain, terjebak didalamnya dan sulit untuk kembali. Mulutnya yang terbuka dan tertutup beberapa kali tak dapat mengeluarkan suara. Dia terlalu terkejut.


Dan apa yang dikatakan Edi juga Rafa setelahnya membuat Ashqar kehilangan daya. Keduanya memberitahu dirinya tentang kronologi sepuluh tahun lalu juga dengan pasca tragedi mengenaskan itu. Karena terkejut dan cerita yang sangat kompleks, Ashqar sampai-sampai harus berusaha mengingat apa yang dulu pernah Edi sampaikan sebelum pernikahannya dengan Safira.


“Sebentar, Pak.” Ashqar menjeda ucapan Edi. “Maaf, tapi aku agak bingung. Jadi tragedi ini berhubungan dengan apa? Apa motifnya? Kalau aku nggak salah, seingat aku Bapak pernah bercerita tentang ketidaksukaan mendiang Eyang Prapti kepada ibunya Safira, ‘kan? Jadi aku pikir tragedi itu ada hubungannya dengan beliau.”


Sementara Edi mengusap wajahnya, Rafa menghela napas panjang. Hal itu mengundang rasa penasaran Ashqar.


“Ini cukup kompleks, Ashqar. Anak Eyang Prapti jelas nggak ada hubungannya dengan tragedi itu karena dia meninggal berbulan-bulan sebelumnya. Dan motif pembunuhan itu karena pertengkaran Bapak dan ... Pakde Teguh atau Hendra tiga hari sebelum hari itu, sakit hati,” terang Rafa.


Edi menatap Ashqar serius. “Dan sebenarnya Mas Teguh adalah anak pertama Bude Prapti. Dia anak yang tidak diakui dalam keluarga besar. Sebelum menikah dengan suaminya, Bude memilih kabur dari rumah, menolak perjodohan dan pergi bersama laki-laki idamannya yang berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan. Satu atau dua tahun berlalu, laki-laki pilihan Bude Prapti justru pergi begitu aja dengan perempuan lain. Singkat cerita, Bude akhirnya kembali ke keluarga dan menikah dengan jodoh yang sudah dipilihkan oleh keluarga, dengan syarat; selain keluarga, nggak ada yang boleh tahu tentang status Mas Teguh. Dia diasingkan dan dianggap nggak ada.”


“Seperti Safira,” batin Ashqar, menyahut ucapan Edi.

__ADS_1


Kini Ashqar sedikit mengerti mengapa Eyang Prapti begitu tidak menyukai Safira. Kemungkinan adalah karena secara fisik Safira sangat mirip dengan mendiang ibu mertuanya, mengingat anak laki-laki kesayangan Eyang Prapti sempat menyebut jika ibu Safira adalah wanita yang dicintainya. Ditambah juga mungkin karena Eyang Prapti melihat gambaran dirinya pada Edi yang memilih menikahi seseorang dengan latar belakang yang jauh berbeda dan berpikir bahwa nasib Edi yang saat itu menjadi tanggungjawabnya akan seperti dirinya dimasa lalu.


“Setelah kejadian itu, Safira selalu merasa ketakutan. Dia bahkan tidak mau keluar dari kolong tempat tidur atau meja. Saat itu bapak nggak tega melihat keadaan Safira yang sangat memprihatikan, sampai akhirnya setelah berhari-hari dia jatuh pingsan dan setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kalau sebagian ingatan Safira hilang. Ingatan yang hilang juga sangat acak, tapi yang pasti bahwa ingatan tentang hari tragedi itu juga hilang.”


Penjelasan panjang Edi, entah bagaimana, terngiang dengan jelas dalam benak Ashqar. “Ya Allah, beri hamba-Mu ini kekuatan dan petunjuk.”


Kemudian dia menegakan tubuh dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Setelah membasuh muka, yang membuat sebagian kausnya basah, Ashqar kembali ke ruang keluarga.


Safira untungnya tidak keberatan ditemani Mbak Jum sehingga ia bisa ke rumah untuk mandi, menyiapkan baju ganti dan kebutuhan anak-anak juga dirinya, dan yang paling penting adalah memeriksa rekaman CCTV.


Melihat hal itu, Ashqar tanpa sadar menahan napas. Namun, saat tak ada yang terjadi dan Safira kembali masuk, Ashqar bernapas lega. Sayangnya perasaan itu tak bertahan lama kala manik matanya lagi-lagi menangkap bayangan seseorang di balik pagar rumah.


Ashqar menjeda video rekaman. “Apa selama ini aku dimata-matai? Karena kalau Pak Hendra pelakunya, rasanya agak janggal. Selama ini begitu banyak momen dimana Safira sendirian di rumah, tapi Pak Hendra nggak melakukan apapun. Tapi bisa juga kalau dia memang menunggu momen yang pas seperti kata Bapak dan meminta orang lain buat menjadi eksekutor sementara dia mendapatkan alibu,” monolog Ashqar, kembali memutar video. “Tapi ... Safira bila—”

__ADS_1


Ucapan Ashqar tak rampung. Rahangnya mendadak kaku saat melihat seseorang dengan jas hujan masuk kedalam rumahnya dan tak lama Safira ke luar rumah, berhadapan langsung dengan orang asing tersebut.


.


.


.


✄................................................


Ada yang bingung?


Chapter ini dan mungkin beberapa chapter kedepan bakal ngajak temen-temen semua buat inget-inget lagi sama cerita Ansu atau clue clue di chapter sebelum-sebelumnya dari Gaung Rasa.

__ADS_1


Dan alurnya aku pake campuran, bakal ada yang maju-mundur. Jadi buat temen-temen semua tolong baca pelan-pelan aja. Kalau cepet-cepet takut nabrak 🤭


ps. hari ini update 1 chapter aja, soalnya laptopku minta perawatan. Manja emang 🤧


__ADS_2