Gaung Rasa

Gaung Rasa
Lelah


__ADS_3

Malamnya, satu jam setelah adzan isya berkumandang, Ashqar berbaring di ranjang kecil—di samping ranjang Safira, sambil memeriksa ponselnya. Dia bertukar pesan dengan Rafa dan Rahma, mengurus pekerjaan dan memeriksa CCTV. Ashqar tak ingin mengeluh, tapi hari ini adalah salah satu akhir pekan terberat dalam hidupnya.


Manik Ashqar yang sudah sayu semakin terasa panas karena efek radiasi ponsel. Namun, ia tak bisa melepaskan benda berlayar 6 inci di tangannya begitu saja.


Layar ponselnya menampilkan video langsung dari teras dan garasi rumahnya. IP Camera CCTV yang Ashqar tempatkan di sudut teras menangkap dengan jelas banyak spot, sayangnya ia tidak bisa melihat rekaman di jam dimana Safira diserang kecuali ia harus mengambil memori dan melihatnya dari laptop.


Ashqar masih terus menatapi layar ponselnya meski tak ada yang mencurigakan, bahkan tidak ada yang melewati gerbang sama sekali. Akan tetapi ia masih was-was dan memilih bersikap waspada pada kemungkinan jika dua orang asing itu kembali ke rumahnya.


Ashqar sendiri masih belum tahu identitas kedua kriminal itu, panggilan yang menurutnya pantas, dan apa tujuan mereka datang ke rumah sampai berani menyakiti istrinya.


Kemudian satu lenguhan kecil dari Safira merusak seluruh atensi Ashqar. Dengan sedikit tergesa ia menaruh ponsel di atas ranjang lalu menghampiri ranjang istrinya.


“Ada yang sakit, Yang?” tanya Ashqar tergesa.


Kelopak mata Safira perlahan terbuka bersamaan dengan lenguhan yang kian terdengar jelas. Dan begitu netra kecoklatan itu terbuka, Ashqar dengan sigap berjalan ke arah dispenser air. Sementara Safira berusaha menyesuaikan pengelihatannya dan menegakkan tubuh untuk duduk bersandar.


“Mas, ini jam berapa?”


“Jam 20.15.” Ashqar menyodorkan segelas air putih ke hadapan Safira. “Minum dulu, Yang.”

__ADS_1


Safira berdengung, menerima gelas dan membiarkan tangan Ashqar merapihkan helaian rambutnya yang berantakan sementara ia menandaskan seperempat dari isi gelas. Diam-diam ia melirik pada wajah suaminya, tampan masih menjadi penghuni tetap berdampingan dengan binar hangat dari ekspresinya yang membuat hati Safira merasakan hal yang sama. Namun, ia bisa mengenali gurat lelah ada disana juga.


Safira mengulurkan tangan, membelai pipi Ashqar. “Mas capek, ya?”


Ashqar tersentak, sedikit menjauhkan wajahnya. Kemudian ia menyunggingkan senyum tipis sambil mengambil alih gelas dari tangan Safira. “Sedikit. Kalau kamu gimana? Udah merasa lebih baik? Pusing nggak?”


Safira mengulum bibir mendengar serentetan pertanyaan yang suaminya ajukan. “Aku baik-baik aja. Mas, anak-anak?”


“Anak-anak sama Bapak dan Ibu. Aku minta Rafa buat jemput mereka di rumah Mbak Rahma. Kamu nggak usah khawatir, ya.”


Safira merengut lalu terdiam. Sorot matanya redup dan sedikit berkaca-kaca.


“Sayang, jangan sedih begini. Kita bisa ketemu mereka lagi secepatnya.”


Saat ini istrinya sedang berbadan dua dan percaya tidak percaya, entah pengaruh hormon atau yang lainnya, sikap Safira yang seperti ini sering terjadi saat hamil Harsha dulu. Jadi satu-satunya yang bisa Ashqar lakukan hanya menuruti keinginan istrinya ini. Kemudian begitu Ashqar menyamankan diri, Safira langsung menyandarkan kepala di pundaknya.


“Ada apa?” tanya Ashqar lembut, meraih tangan kanan Safira dan menggenggamnya.


“Kangen anak-anak,” jawabnya lirih.

__ADS_1


Lalu suasana mendadak hening. Ashqar tak pandai menenangkan hati Safira disaat seperti ini, ia takut jika perkataannya akan menimbulkan efek lain dari yang diharapkan.


“Mas, kenapa aku dirawat segala? Aku udah nggak apa-apa, bisa nggak kalau kita pulang sekarang?”


“Maaf, Sayang. Tapi nggak bisa,” jawabnya, lalu mengecup kepala Safira. “Dokter perlu memeriksa kamu lebih lanjut besok, kalau hasilnya baik-baik aja nanti aku minta buat diizinkan pulang.”


Ashqar tak sepenuhnya berbohong. Dokter—dan dia, ingin Safira diperiksa lebih lanjut. Mengenai kemungkinan kehamilannya dan juga apakah ada cidera lain yang memerlukan perawatan khusus.


“Mas.”


“Ya, Sayang? Ada apa?”


“Siapa yang bawa aku ke rumah sakit?”


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Bersambung~


__ADS_2