Gaung Rasa

Gaung Rasa
Sate Kambing


__ADS_3

Lewat makan siang saat dua piring sate kambing tersaji di depan Ashqar, lengkap dengan nasi putih panas, segelas es jeruk dan es teh manis yang menggugah selera. Tepat saat aroma daging kambing bakar menyentuh indra penciumannya, anak konda di dalam perut Ashqar bergerak anarkis. Sayangnya, orang yang sedang ia tunggu tak kunjung datang.


Dimana?


Pesannya terkirim dan mendapat ceklis dua, tapi setelah lima menit berlalu tak ada balasan yang ia terima.


Ashqar menoleh ke belakang dan memperhatikan pintu masuk untuk beberapa saat, tapi tak ada siapapun kecuali tukang parkir warung makan. Dengan perasaan jengkel Ashqar menoleh kembali, fokus pada dua piring nasi dan lauk yang sudah menggoda untuk masuk kedalam sistem pencernaannya.


Mengabaikan orang yang sudah sejak tadi ditunggu, Ashqar mulai mengangkat sendok dan mulai menyuapkan nasi dan sepotong daging kedalam mulut. Rasa manis, gurih dan aroma asap memenuhi rongga mulut Ashqar dan memanjakan indra pengecapnya. Lalu saat Ashqar sedang mengunyah suapan kedua, pundaknya ditepuk dari belakang.


Ashqar tersedak. Untungnya ia bisa meraih gelas dan menghentikan batuk yang menusuk pangkal hidung.


“Wong edan!”¹ sungut Ashqar setelah berhasil menghabiskan setengah gelas es jeruk. “Untung aku nggak mati keselek.”


Siku-siku imajiner Ashqar semakin tebal melihat orang di depannya yang malah menahan tawa.


“Tapi nggak mati, ‘kan?” tanya Rafa kelewat santai. “Lagian bukannya nungguin malah makan duluan.”


Ingin rasanya Ashqar menampar kepala belakang Rafa. Iparnya ini tipe orang yang suka seenaknya sendiri dan cinderung tak tahu diri. “Udah telat masih nggak sadar diri lagi,” katanya, melanjutkan makan.


“Udah jangan marah marah.” Rafa mencolek dagu Ashqar. “Sensi banget kayak cewek PMS.”


Ashqar menatap Rafa jijik. “Nggak waras beneran ini orang.”


Rafa terpingkal, mengundang perhatian dari beberapa pengunjung lainnya. Pria itu terlihat puas menggoda Ashqar, responnya menjadi hiburan tersendiri bagi Rafa. “Emang udah dari tadi?” tanyanya, yang direspon gumaman kesal oleh Ashqar.

__ADS_1


Sepertinya ada yang masih kesal.


“Kar, tikar. Nggak usah pake ngambek-ngambekan kayak cewek,” kata Rafa, menggigit satu potong sate. “Pengen banget dibawain bunga sama dibujuk?”


“Najis,” ucap Ashqar sadis.


“Najis najis, tapi ngarep.” Rafa menelan sate dan siap memasukan potongan lainnya ke dalam mulut. “Tenang nanti aku minta mbaknya bawain lilin, biar kayak candle light dinner.”


Ashqar mengambil empat lembar tisu, meremasnya hingga menjadi gumpalan bulat lalu melemparkan tepat ke wajah Rafa. “Mulutnya. Makan aja yang bener, keselek tusuk sate tahu rasa nanti.”


Rafa mengangkat kedua tangan setinggi wajah, sudah saatnya untuk berhenti menggoda Ashqar. Kalau tidak mereka mungkin akan benar-benar berselisih di tempat umum.


“Ngomong-ngomong, kabar Fira sama anak-anak gimana?”


Ashqar melirik Rafa dengan tatapan skeptis. “Biasanya juga kamu gangguin Safira tiap jamnya.”


“Ya udah, tinggal kirim pesan aja ke Safira.”


“Diomelin.”


Ashqar menahan senyum. Dia merasa puas melihat tampang memelas Rafa. “Makanya, jadi kakak jangan posesif. Tiap jam gangguin mulu.”


Rafa mengibaskan tangan. “Jangan dibahas, bikin sedih kalau diomongin terus.”


Ashqar tak habis pikir, bagaimana bisa ada laki-laki seperti Rafa. Garang menghadapi orang lain, tapi lemah kalau sudah berurusan dengan Safira. Melihat tingkahnya selama ini, tak heran jika istrinya tak tahan dengan sikap Rafa.

__ADS_1


Meski harus diakui jika Rafa sangat memikirkan Safira bahkan setelah tidak lajar lagi, tapi jika harus mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sama hampir setiap hari, sudah pasti tidak akan ada orang yang tahan. Bahkan dengan Ranee―menurut pengakuan Safira, Rafa tidak sampai seperti itu.


“Jadi dimana kabar Safira? Udah tiga hari ini Whatsapp-ku diblokir Fira.”


Ashqar memutar bola mata. “Pantesan aja ini orang tiba-tiba ngajak ketumuan,” batinnya. “Kamu ngajak makan siang bareng cuma buat nanya itu doang?”


Rafa mengangguk. “Betul,” jawab Rafa mantap. “Jadi giaman?”


Alih-alih menjawab, Ashqar justru sibuk dengan ponselnya.


“Mau nelfon Safira langsung?” tanya Rafa, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


“Googling, nyari tutorial cuci otak instan.” Ashqar menaruh ponselnya di atas meja dengan gerakan cukup kasar, menimbulkan bunyi benturan antara permukaan meja dan punggu ponsel. “Kamu habis ngomelin Safira apa lagi?”


Jujur saja, Ashqar sama sekali tidak mengetahui pertengkaran antara Rafa dan Safira. Meski hal seperti ini sering sekali terjadi dan mereka tetap akan berdamai pada akhirnya, tapi biasanya Safira akan memberitahunya. Namun, kali ini tidak.


“Kapan aku ngomel? Aku cuma ngingetin dia supaya nggak usah anter jemput Alvin sama Zain pake motor, biar aku kirim orang buat anter jemput anak-anak itu.”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Pojok Bahasa :


¹“Wong edan!” \= “Orang gila!”


__ADS_2