Gaung Rasa

Gaung Rasa
On The Way


__ADS_3

“Kakung makannya jangan lama-lama, ya?” ucap Zain, memasukan sesendok besar nasi goreng seafood ke dalam mulutnya.


“Zain nggak boleh gitu,” tegur Alvin yang duduk di sebelahnya. Sesuap telur goreng berhasil Alvin jejalkan ke dalam mulut, menyusul nasi dan lauknya yang lain. “Kalau makan jangan buru-buru. Buru-buru itu nggak baik.”


Zain merengut. “Mas Alvin kalo makan jangan ngomong nanti keselek.”


“Lah? Kamu juga sama,” sungut Alvin, tak mau kalah. “Nggak sopan tahu nyuruh orang tua kayak gitu. ‘Kan, Zain udah dikasih tahu sama Bu Guru kalau harus hormat sama orang yang lebih tua.”


“Zain hormat, kok.”


“Terus kenapa nyuruh Kakung buat makan cepet-cepet?”


“Zain nggak nyuruh, Mas.” Kejengkelan Zain tergambar jelas di bibirnya. “Zain minta tolong.”


“Oh, minta tolong?” Alvin menaruh peralatan makan dan melipat kedua tangannya di dada. “Kalau minta tolong, kok, nggak bilang ‘tolong’ tadi?”


Perdebatan Alvin dan Zain sungguh lucu untuk dihentikan, tapi Edi merasa bahwa sudah waktunya dia ikut campur. “Udah, udah. Alvin, lanjutin lagi makannya. Jangan terlalu keras sama Zain.” Edi mengalihkan pandangannya pada Zain. “Zain kenapa buru-buru? Makannya pelan-pelan aja.”

__ADS_1


Zain menggeleng. “Zain mau temenin Mamah, Kung. Jadi harus makan cepet-cepet.”


Edi mengulum senyum kemudian menjelaskan bahwa Zain masih bisa menemani Safira meskipun makan dengan perlahan. Namun, Zain benar-benar mirip dengan Safira untuk urusan keras kepala. Anak itu tidak bisa dibujuk dan alhasil Edi harus berusaha mengulur waktu.


Selain karena Alvin dan Zain yang memang belum mengisi perut sedangkan jam makan siang sudah lewat, Edi mengajak kedua cucunya untuk makan di restoran di luar area rumah sakit agar mereka tidak harus merasakan ketegangan proses persalinan Safira. Meskipun sepertinya Alvin cukup bisa mengikuti alur yang Edi buat, tapi lain halnya dengan Zain.


Suasana retoran yang mulai sepi ditinggalkan pengunjung membuat bunyi peralatan makan yang Alvin dan Zain gunakan terdengar nyaring. Hal itu menyulut kegugupan Edi tatkala wajah Safira yang berlumuran peluh terbayang kembali di ingatan.


“Bapak baik-baik aja?” tanya Sari saat tangan Edi terhenti di udara sambil menggenggam sendok.


Edi menoleh. Suara Sari yang halus menarik kembali atensinya. Sambil menarik kedua sudut bibirnya, mencoba terlihat baik-baik saja meskipun kenyataannya tidak demikian, Edi mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


“Bapak mikirin Safira, ya?” bisik Sari. “Setelah ini Bapak balik aja ke rumah sakit bareng Alvin dan Zain, nanti aku langsung pulang aja.”


“Jangan gitu, kamu ikut juga ke rumah sakit.”


Sari menggeleng, meletakan peralatan makan dan mendorong menjauh piring kosong di hadapannya. “Nggak enak, Pak. Nanti aja satu-dua hari aku jenguk Safira.”

__ADS_1


Edi sebenarnya ingin memaksa, tapi kali ini dia memilih untuk mengalah. Hubungannya dengan Sari sendiri tidaklah mudah dan semakin sensitif saat harus melibatkan Safira di tengah-tengah mereka. Yang bisa Edi lakukan adalah membiarkan waktu melakukan tugasnya, sedangkan dia hanya perlu berusaha menjadi ayah yang baik bagi Safira.


Sementara itu di luar ruang persalinan, Ashqar tengah menunggu persiapan persalinan Safira. Entah apa yang tim medis lakukan terhadap istrinya, tapi yang jelas saat ini ia merasa bahwa jantungnya bisa saja lepas dan turun hingga ke lambung.


Tak berapa setelah kedatangannya, Rahma dan Harti datang bersama Alvin yang masih mengenakan seragam sekolah. Namun, hanya berselang sepuluh menit Rahma pamit undur diri karena tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaan. Kemudian, setelahnya Edi dan Sari.


Ashqar duduk dengan gelisah. Badannya terbungkuk sambil menautkan kedua tangan dan meremasnya, bibirnya tak henti merapal doa untuk Safira dan dirinya sendiri.


Bayangan wajah kesakitan Safira yang penuh peluh menghantui Ashqar bagaikan mimpi buruk. Dia bahkan terus membujuk Safira agar melakukan oprasi saja daripada harus menahan sakit sampai bukaannya sempurna. Namun sampai sebelum masuk ruang persalinan, dengan alasan ingin merasakan melahirkan secara normal, Safira terus bersikeras menolak bujukan Ashqar.


“Ini, ‘kan, bukan yang pertama nemenin istri lahiran. Kok, masih tegang aja?” ucap Harti, menepuk pundak putra bungsunya itu.


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Jadi … Ashqar junior atau Safira junior ini menurut prediksi tante-tante online sekalian? 🤭


__ADS_2