Gaung Rasa

Gaung Rasa
Mobil Pengangkut Barang


__ADS_3

Suara berisik dari luar rumah menyita atensi Ashqar. Pada awalnya pria itu tak mengambil pusing, jadi ia duduk di kursi dan menikmati sebatang rokok yang diam-diam disembunyikannya di salah satu sepatu agar tidak ketahuan Safira. Namun, semakin lama suara itu mulai mengganggu Ashqar, maka dengan rasa penasaran ia berjalan ke arah gerbang dan mengintip dari lubang yang ada disana.


Dari tempat terbatas Ashqar melihat sebuah mobil barang bak tertutup terparkir di depan rumah Hendra, ia juga mendengar percakapan lebih dari dua orang sekaligus. Seketika ruas tulang belakangnya terasa dingin, mengirim peringatan melalui syaraf menuju ke otak. Biar bagaimanapun Hendra adalah pelaku pembunuhan ibu dari istrinya. Meski Rafa bersaksi bahwa Hendra bukan pelakunya, tapi tak ada alasan bagi Ashqar untuk tidak merasa waspada. Jadi sebenarnya apa yang terjadi disana?


Seorang pria bertubuh tambun dengan kotak besar ditangan berjalan ke belakang mobil. “Ini kotak terakhir, pak?” katanya, yang didengar Ashqar samar-samar.


Pria itu menaruh kotak tersebut ke dalam bak mobil lalu menutup pintunya. Ashqar juga melihat pria itu menerima beberapa lembar uang dari seseorang yang hanya terlihat bagian tangannya, kemudian pria itu berjalan menuju bagian depan dan masuk ke dalam mobil.


Tak berapa lama suara deru mesin mobil memenuhi keheningan malam. Saat mobil pengangkut barang itu mulai berjalan, Ashqar bisa melihat keadaan teras rumah Hendra dan ia menyadari bahwa tanaman-tanaman di halamannya sudah tidak ada.


“Apa Pak Hendra jual semua tanamannya?” gumam Ashqar, menarik diri dari gerbang. “Tapi masa malem-malem gini?”


Ashqar termenung sejenak, batang rokok yang ia hisap sudah habis setengah. Dia merasa ada yang janggal dari apa yang baru saja ia lihat. Dan tentu saja hal itu membuat rasa penasaran dan kecurigaannya kian kuat. Sayangnya Ashqar tak bisa tiba-tiba datang dan mengetuk pintu rumah Hendra begitu saja, terlebih ini hampir mendekati tengah malam.


Hingga setelah beberapa hisapan dalam pada batang berisi tembakau ditangan, sebuah ide terlintas dibenaknya. Ashqar menaikan wajah dan membuang napas, bersamaan dengan itu, gumpalan asap putih bersatu dengan udara lalu perlahan menghilang. Dan setelahnya Ashqar membuka gerbang lalu keluar rumah seakan tak pernah melihat apapun tadi.


Ashqar terkejut saat melihat Hendra berdiri di luar pagar rumah pria itu dengan koper besar di sampingnya. Mungkin ini yang disebut kebetulan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan langkah ringan Ashqar berjalan menghampiri Hendra, kini ia benar-benar tak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Mas Ashqar?” panggil Hendra lebih dahulu. Pria itu tampak heran.


Ashqar mengamati wajah Hendra. Dia yakin telah melihat sedikit kegugupan dibalik senyum hangatnya. “Pak Hendra mau kemana malam-malam begini?” Ashqar menjatuhkan puntung rokok dan diinjaknya. “Saya juga tadi lihat ada mobil yang parkir di depan rumah bapak. Saya pikir bapak ngirim tanaman.”


Hendra tertawa kecil, terdengar sedikit canggung. “Itu mobil barang, mas. Saya mau pindahan.”


Ashqar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu bahkan sampai mundur satu langkah. Ashqar tidak menduga bahwa apa yang ia dengar jauh dari dugaannya.


“Pindah? Kenapa mendadak, pak?”

__ADS_1


“Nggak juga sebenarnya, mas. Cuma memang ada perubahan mendadak aja.”


Ashqar mengernyitkan kening. “Terus kenapa bapak pindahan malem-malem begini?”


“Saya rencananya mau pindah dua hari lagi, tapi jasa mobil pindahan yang saya sewa minta maju karena satu dan lain hal. Saya sendiri aja baru dikabari tadi sore, mas.”


Ashqar menjadi semakin tak mengerti. Alasan Hendra entah bagaimana tak logis dicerna oleh otaknya. “Bapak nggak pamitan sama warga sekitar?” tanya Ashqar, mencoba mendapatkan penjelasan lebih detail.


“Ya, mau gimana lagi, mas.” Hendra tersenyum tipis. “Ngomong-ngomong, saya nggak tahu kalau Mas Ashqar ngerokok.”


Ashqar melirik puntung rokok di samping kaki kanannya. “Jarang-jarang aja, pak,” katanya. “Kalau boleh tahu, kenapa bapak mau pindah? Padahal bapak disini belum begitu lama.”


Helaan napas Hendra terdengar berat dan Ashqar juga menyadari perubahan ekspresinya. Meski begitu, Hendra tetap mempertahankan senyum di wajahnya yang tampak lelah.


“Saya mau pulang kampung, mas. Pilih hidup di desa, bercocok tanam.”


Dia ingat bahwa saat perkenalan mereka pertama kali, Hendra mengaku jika kampung halamannya adalah Purwokerto. Namun, setelah ia mengetahui siapa Hendra sebenarnya maka itu jelas bukan alasan yang bisa Ashqar terima.


Hendra adalah anak Eyang Prapti, kampung halamannya tentu bukan daerah lain selain tempat dimana mereka hidup saat ini. Juga mengingat bahwa keluarga besar mertuanya tidak mengakui keberadaan pria itu, maka seharusnya tidak ada tempat kembali bagi Hendra didalam Keluarga Sumarno. Atau sebenarnya ada hal lain yang ia tak tahu?


Saat Ashqar sedang sibuk tenggelam dalam lamunannya, bersamaan dengan itu sebuah mobil melaju pelan kearahnya. Cahaya lampu dari mobil itu membuat Ashqar terkejut dan refleks mundur beberapa langkah. Satu tangannya terangkat di depan wajah, menghalau cahaya lampu yang menyilaukan mata.


Mobil dengan jenis sedan hitam itu melewati Ashqar dan berhenti dijarak lima atau tujuh langkah darinya. Memandangi mobil hitam dan Hendra bergantian, Ashqar kebingungan.


“Jemputan bapak?”


“Iya, mas.” Hendra tampak canggung. Apalagi saat supir turun dari mobil dan mengambil koper untuk dimasukan ke dalam bagasi.

__ADS_1


Ashqar sedang memperhatikan si supir yang berjalan kembali ke mobil setelah berbisik kepada Hendra, saat pria itu menepuk pundak Ashqar.


“Ada apa, pak?” sahut Ashqar, terkejut.


“Saya pamit ya, mas. Titip salam buat Mbak Safira, anak-anak dan keluarga. Semoga sehat selalu, rukun, bisa menyelesaikan segala masalah yang terjadi dengan dewasa dan hati-hati.”


Ashqar berkedip. “Oh. Iya, Pak Hendra. Mudah-mudahan bapak juga sehat terus.”


“Ya. Ya.” Suara Hendra terdengar lebih berat. Kemudian pria itu mengulurkan tangan dan mendapat sambutan dari Ashqar. Sambil berjabat tangan, Hendra berkata, “Rukun terus ya, mas. Saya doakan Mas Ashqar dan Mbak Fira langgeng sampai kakek-nenek. Saya pamit, kalau ada umur kapan-kapan ketemu lagi."


“Aamiin. Iya, Pak. Mudah-mudahan ada rezeki buat menyambung silaturahmi.”


Hendra tampak puas. Dia kemudian menepuk punggung tangan dan pundak Ashqar. “Jaga istri dan anak-anakmu sebaik mungkin, ya,” katanya, sambil berlalu.


Ashqar bahkan tak sempat membalas perkataan Hendra dan hanya bisa memandangi punggung pria tua itu yang masuk ke dalam mobil dan mulai melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan. Perkataan Hendra benar-benar seperti sebuah pesan perpisahan.


Namun, ada hal lain yang mengganggu pikiran Ashqar. Dia merasa kepergian Hendra yang tiba-tiba ini sungguh aneh, begitupun dengan orang yang menjemputnya. Seakan ia mengenali orang tersebut, tapi siapa?


.


.


.


✄................................................


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2