Gaung Rasa

Gaung Rasa
Nostalgia


__ADS_3

Rafa menoleh tepat saat Safira kembali menengguk colanya, lalu tertawa dengan suara nyaring yang memekakan telinga. Safira bahkan hampir menyemburkan cola ke arah kakaknya, dengan niat sengaja yang tentu ia urungkan.


“Menurut kamu begitu?” tanya Rafa disela tawanya yang belum reda.


Safira menaikan bahu, menenggak kembali cola sambil berpindah ke kursi. Berdiri lima belas menit sama memelahkannya dengan lari jarak jauh terutama setelah perjalanan panjang dan rangkaian acara malam yang ketat. “Lebih banyak dari Mas Ashqar.”


“Oh! Kalau itu, sih, udah jelas.” Rafa menyombong. “Jadi kalau Akar nggak bisa kasih uang bulanan, bilang sama kakakmu yang ganteng ini. Oke?”


Safira mengerling. “Kakak nggak mau istirahat?” tanyanya, mencoba mengubah topik. Meladeni Rafa yang kadar kepercayaan dirinya kadang tak tahu malu hanya akan membuat Safira semakin merasa lelah. “Jangan bilang Kakak masih susah tidur.”


Tuduhan Safira membuat Rafa meringis. “Sedikit, nggak terlalu parah kayak seminggu kemarin.”


Rafa mengalami sulit tidur yang cukup parah. Kakak laki-lakinya itu mengeluh bahwa dia sangat gugup menjelang pernikahan, dan karenanya Rafa sering menyabotase jam pulang kerja Ashqar selama lebih dari seminggu belakangan.


Safira menghembuskan napas keras. “Tapi bukan berarti Kakak bisa ngajak aku begadang gini. Ayo, tidur aja.” Safira menghabiskan cola dan berdiri. “Besok masih harus bangun pagi, loh. Nggak lucu kalau Kakak sampai lupa nama Mbak Vera pas ijab.”


“Memang nggak lucu, tapi malu-maluin.” Rafa beranjak, menarik Safira untuk kembali duduk dan mengambil tempat di samping adiknya. “Lagian aku bukan kamu yang sampai sekarang panggil Ranee dengan nama Vera.”


Safira berdecih. Rafa adalah orang yang paling getol meyuruhnya memanggil Ranee dengan nama asli bahkan lebih dari si pemilik nama. “Yang punya nama aja nggak keberatan, tuh.”

__ADS_1


“Tapi, ‘kan ….” Rafa menelan kembali kalimat yang hampir terlontar. Benaknya teringat ucapan Ranee yang meminta Rafa untuk tidak lagi mempermasalahkan panggilan Safira kepada calon istrinya itu.


“Kenapa? Kok, nggak dilanjutin?”


Rafa terdiam, memandang Safira dengan tatapan yang sulit dibaca. Kemudian saat senyum tipisnya mengembang, dia mengacak surai Safira penuh semangat.


“Kakak!”


“Waktu kamu nikah dulu, gimana rasanya?” tanya Rafa, menoleh pada Safira.


Keduanya bertukar pandang. “Aku nggak yakin,” lirih Safira, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. “Sejujurnya, Kak. Aku menikah bukan karena aku mencintai Mas Ashqar. Mungkin ada perasaan, tapi jelas bukan sesuatu yang bisa mengarah kehubungan kamu saat ini.”


Dia pernah menduga hal ini, tapi tidak pernah berpikir bahwa adiknya yang tidak mempercayai pernikahan benar-benar melangkah kedalam hubungan karena seorang anak empat tahun. Tentu hal ini terdengar seperti sebuah pengorbanan atau lebih tepatnya disebut beunuh diri.


“Terus sekarang? Maksudnya kamu baik-baik aja, ‘kan?”


Safira menoleh. “Aku baik-baik aja. Aku bahagia sekarang, pernikahan udah nggak jadi hal menyeramkan lagi buatku. Dan aku harap buat Kakak juga.”


Seketika Rafa melirik tempat lain. “Aku … belum bisa seyakin kamu. Selama bertahun-tahun ini kakak melihat contoh yang nggak yakin apakah udah cukup baik sebagai kepala rumah tangga.” Senyum Rafa terlihat getir. “Meskipun setelah itu kakak mengetahui bahwa itu cara terbaik yang bisa Bapak lakukan, tapi … kamu ngerti, ‘kan?”

__ADS_1


Safira mengangguk ketika pandangan mereka kembali bertemu. Rambut-rambut halus di tengkuk dan lengan Safira seketika meremang. Rafa tiba-tiba menarik suasana ke arah yang tak terduga, nostalgia masih terasa manis-pahit untuk mereka.


Sambil meremas lengan kiri lalu menaikan pandangan pada langit yang tak segelap sebelumnya. “Aku ngerti, Kak. Biar bagaimanapun rasanya sulit buat menerima setelah sekian lama harus bertahan dan berjuang melawan kenyataan yang udah kita lalui.”


Safira sudah tahu bahwa dia bukan satu-satunya korban. Namun, membahas hal ini lagi dan dengan situasi dimana besok kehidupan kakaknya akan berubah membuat Safira merasa tenggelam.


Pernikahan mungkin pernah menjadi hal tabu yang tidak ingin keduanya jalani, tetapi pada akhirnya mereka kembali pada kodrat sebagai manusia. Berpasangan, menikah dan melanjutkan garis keturunan.


.


.


.


✄................................................


Bersambung


Nara Corner :

__ADS_1


Hi! Aku datang sekalian bawa pemberitahuan kecil. Berhubung minggu ini aku mau otw macem Rafa, jadi Gaung Rasa bakal libur sampai Hari Minggu. Mohon doa dan restunya ya gaes 👉🏻👈🏻


__ADS_2