Gaung Rasa

Gaung Rasa
Artis


__ADS_3

Safira masih ingat dengan jelas bagaimana cara nenek menasehatinya, singkat dan jelas. Nenek mengajarinya untuk tangguh dengan ucapan-ucapannya yang terus terang dan terkadang menusuk.


Namun, ibu mertuanya berbeda. Harti memperlakukannya seolah ia adalah seorang anak perempuan usia remaja tanggung, bahkan beberapa kali ia diperlakukan seperti seseorang yang baru menginjak usia dua puluh dan butuh pengawasan ekstra. Jelas Safira tidak familiar, tapi dengan senang hati ia menerima setiap masukan dan saran yang Harti utarakan dengan cara yang menyenangkan itu.


Harti tidak pernah menyudutkannya meski terkadang Safira begitu keras kepala tentang satu hal, dan tidak pernah benar-benar berpihak padanya sekalipun ia benar. Itu sebabnya Safira sangat merasa nyaman untuk mencurahkan osi hatinya pada ibu mertua.


“Eh! Eh! Koe reti ra? Jarene enek artis sing nginep ning kene.”¹


Safira tersentak. Dia kembali pada kesadaran penuh dan menjadi sedikit linglung setelah menyadari jika dirinya tengah melamun. Safira bahkan tidak aadar jika jumlah orang di dalam lift sudah bertambah, bahkan ia sendiri berada di sudut.


Sambil mengumpulkan kesadarannya yang masih belum utuh, Safira diam-diam memperhatikan sekeliling lalu melirik pada angka di atas pintu, hampir mencapai lantai 1.


Safira menaikan sedikit satu sudut bibirnya. Ucapan ibu mertuanya tidak salah, justru hampir selalu benar. Namun, ia sendiri tahu bahwa rasa ikhlas yang dicarinya masih setengah jalan. Hanya saja kali ini ia berhasil membuat langkah lain untuk mendapatkan ketenangan hati.


“Masa, sih? Kok, aku ndak reti yo?”²


“Sing mbok reti ki opo?”


“Ngertiku saiki aku meh sarapan.”⁴


Gadis bertubuh sintal berdecak. “Paling nggak tanya siapa artisnya, dasar.”


“Iya, iya. Siapa artisnya?” tanya temannya mengalah.


Bisik-bisik dari dua remaja di depannya sedikit menarik perhatian Safira dan tiga orang lain. Namun, ketika gadis berambut sebahu mengatakan nama artis yang dimaksud, Safira cukup terkejut.

__ADS_1


“Nita. Nita Putri. Artis yang main Film Berujung Rindu,” terang gadis berambut sebahu dengan antusias.


Kamudian bisik-bisik menjadi lebih riuh setelahnya, semua orang di dalam lift merasa penasaran dengan sosok Nita. Kecuali Safira.


Untuk alasan yang tidak diketahui dengan jelas, ia mulai merasa khawatir. Safira jadi penasaran, apakah Nita tahu bahwa dia dan Ashqar juga berada di hotel yang sama?


Denting pintu lift terdengar nyaring lalu tak lama setelahnya pintu terbuka dan satu per satu tamu keluar dari sana, termasuk Safira.


“Jangan mikir yang nggak nggak, Fi. Berhenti berpikir berlebihan. Itu cuma gosip,” batin Safira, memperingatkan dirinya sendiri.


Kemudian setelah menghela napas dalam dan memasang senyum tipis, Safira melangkah menuju restoran. Cukup terlambat untuk menikmati sarapan dengan menu lengkap, tapi paling tidak ia masih bisa mengisi perut.


Dari kejauhan Safira bisa melihat suami dan kedua putranya berada di meja yang sama, dengan Harti, Rahma dan juga Harsha yang terlihat tenang dalam dekapan kakak iparnya. Safira merasa lega mengetahui Harsha tidak rewel sama sekali.


Safira mempercepat langkah hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.


“Lain kali hati-hati,” kata laki-laki dengan kacamata hitam sambil berlalu.


Safira terpaku di tempat. Dia merutuki kecerobohannya yang lagi-lagi muncul karena terburu-buru.


Safira baru akan berbalik dan langsung mengurungkan niat saat laki-laki berkacamata itu terlihat merangkul seorang perempuan. Maniknya menatap penuh rasa penasaran pada perempuan berambut panjang yang mulai menjauh, Safira merasa tidak asing dengan perawakannya.


“Mbak Nita?” bisik Safira bersamaan dengan pundaknya yang ditepuk.


“Mah, ngapain disini?”

__ADS_1


Safira menoleh. “Mas?” Safira menatap Ashqar dan arah kepergian perempuan yang ia duga Nita bergantian.


Ashqar mengikuti arah pandang Safira. “Kamu ngeliatin apa, sih?”


“A-ah! Bukan apa-apa, Mas.” Safira menarik tangan Ashqar dan berjalan menuju meja mereka. “Laper bikin aku jadi l-ola.”⁵


Ashqar mengacak surai Safira. “Ada-ada aja sih, kamu.”


Safira hanya bisa menanggapi dengan tawa halus sambil sekali lagi melirik belakangnya. “Mungkin cuma perasaan,” batin Safira.


.


.


.


✄................................................


Pojok Diksi :


¹ Kamu tahu nggak? Katanya ada artis yang nginep disini.


² Kok, aku nggak ngerti (tahu), ya?


³ Kamu itu tahunya apa.

__ADS_1


⁴ Ngertiku sekarang aku mau sarapan.


⁵ Lola : loding lama


__ADS_2