Gaung Rasa

Gaung Rasa
Dunia Masih Baik-Baik Saja


__ADS_3

Zain tak melepaskan pelukannya dari tubuh hangat Safira. Aroma parfum yang selalu mamahnya gunakan menjadi salah satu aroma kesukaan anak itu. Bagian dari memeluk Safira yang Zain suka, selain hangat, adalah saat kepalanya dibelai dengan sayang dan sesekali diberikan kecupan disana.


“Mamah wanginya enak,” komentar Zain.


Safira mengulum senyum tipis dan mengeratkan dekapan di tubuh Zain. “Emang wangi apa?”


Zain berdengung. “Nggak tahu. Tapi kayak manis-manis gitu.”


“Kayak Mas Zain,” kata Safira sambil mencubit pipi Zain.


“Nggak. Zain nggak manis, tapi keren.”


“Iya, deh. Anak mamah satu ini keren banget.” Safira mengulurkan satu tangannya untuk membelai surai Zain. “Ngomong-ngomong, Mas Zain udah nggak marah sama mamah?”


“Siapa yang marah?” Zain balik bertanya sambil menaikan pandangan.


“Mas Zain. Bukannya tadi pagi waktu mamah sama papah nganter berangkat ke sekolah Mas Zain lagi marah, ya? Makanya mamah didiemin terus sepanjang jalan.”


“Oh ...,” jawab Zain, seperti diingatkan tentang paginya yang menyebalkan bagi anak itu. “Udah nggak, kok. Zain nggak marah, sih. Cuma sebel soalnya mamah sama papah kasih tahunya ke Mas Alvin aja.”

__ADS_1


Yang tak Safira dan Ashqar tahu, Zain diam-diam bertanya pada Alvin tentang alasan rencana pengawalan Safira menuju meja makan pagi tadi. Pada awalnya anak itu tak begitu mengerti, sampai suasana sarapan berubah riuh dan Edi menyebutkan adik Harsha, saat itulah Zain paham yang dimaksud adik baru bukanlah Harsha melainkan adiknya yang lain yang masih berada di dalam perut.


“Jadi Mas Zain nggak marah karena bakal punya adik bayi lagi?”


Zain berdengung. “Nggak kayaknya. Asal ... mamah sama papah masih sayang sama Zain.”


Safira tak dapat menahan senyum yang merekah di wajahnya. Dia bahkan semakin erat memeluk Zain. Satu ikatan dipunggung mengendur, Safira sedikit merasa lega. Namun sayangnya, itu tak berlangsung lama saat ingatan mengenai Zain yang ditodong pertanyaan kembali mampir dibenak Safira.


Dengkuran halus menarik atensi Safira, ia menunduk dan mendapati Zain sudah tertidur. Wajah damai putranya bagai malaikat. Benar, Zain adalah putranya terlepas darah siapa yang mengalir di dalam tubuh anak itu atau siapa yang sudah melahirkannya ke dunia. Jadi apapun yang akan terjadi, Safira tidak akan membiarkan Zain dilukai oleh orang lain.


Safira melemparkan pandangan ke luar jendela, lalu ia menyadari bahwa dunia di luar mobil yang ia kendarai masih baik-baik saja. Awan masih berarak, pedagang masih menjajakan dagangannya, orang-orang masih beraktivitas, bahkan mungkin banyak orang yang tak ia kenal sedang merasakan bahagia disaat ia mengalami sebaliknya.


Safira berjengit. Ingatan dari ucapan Chega, teman lamanya, membawa Safira kembali pada kenyataan. Dia memperhatikan sekeliling dan tak sengaja melihat sebuah mobil sedan dari spion tengah sedang membututi mobil yang ia tumpangi.


“Pak, kita dibuntuti,” ucap Safira pada supir, pelukannya mengerat.


Bukannya tancap gas, si supir justru tersenyum. “Iya, Mbak Fira. Itu bodyguard yang bapak kirim buat mengawasi Mas Zain sama Mas Alvin.”


“Alvin juga?”

__ADS_1


“Iya, Mbak. Satu mobil berada di sekolah Mas Alvin.”


Safira menghembuskan napas panjang. Kemudian dia merogoh tas dan mengambil ponselnya, Safira membuka aplikasi WhatsApp lalu mencari kontak dengan nama Kakung Kangkung. Nama kontak itu tak lain adalah kontak Edi. Meski sudah berbaikan, tapi keusilan Safira dan Edi tetap tidak hilang.


Besok lagi kalau mau kasih pengawalan bilang dulu, kung


Setelah pesannya mendapatkan ceklis dua, Safira kembali mengirim pesan kepada kakak iparnya. Keluarga suaminya sudah heboh sejak Ashqar memberitahu di grup keluarga mengenai keadaan Safira dan masalah yang sedang mereka hadapi.


“Pak, kita ke rumah saya dulu, ya. Sekalian nunggu Alvin pulang sekolah.”


.


.


.


✄................................................


Sesuai janji~

__ADS_1


Sampai jumpa dichapter berikutnya 👋🏻😘


__ADS_2