Gaung Rasa

Gaung Rasa
Sarapan


__ADS_3

Mobil sedan yang mereka tumpangi melewati pagar besar setinggi tiga meter setelah menunggu kurang dari lima menit untuk keamanan mengkonfirmasi pada tuan rumah, kemudian melaju semakin dalam melewati taman yang tak pernah Ashqar lihat sebelumnya di halaman rumah siapapun yang pernah ia kunjungi. Dihiasi bunga, tanaman hias dan beberapa pohon, halaman depan itu jauh lebih mewah dari halaman depan rumah pada umumnya. Bahkan dari balik kaca mobil, Ashqar bisa melihat betapa terawat dan hijau rumput taman.


Ashqar termenung, bayangan Alvin dan Zain bermain di atas rumput hijau itu memenuhi pikiran. Terbayang dibenaknya jika duo krucil kesayangan akan betah bermain di halaman luas, mungkin Safira atau dirinya akan kesulitan meneriaki keduanya untuk istirahat dan menyudahi permainan. Sayangnya, lamunan Ashqar bubar jalan saat mobil berhenti perlahan dan supir turun dari kursi. Dia memperhatikan bagaimana pria berkulit kuning itu memutari mobil dan membuka pintu belakang dimana Rafa duduk.


“Kamu mau sampai kapan duduk didalem?” ucap Rafa yang menarik atensi Ashqar. “Jangan bilang kamu berharap Fikri bukain kamu pintu?”


Ashqar berdecak alih-alih menanggapi iparnya. Kemudian dia mengambil tempat di samping Rafa sambil terus memperhatikan sekeliling. Ashqar tak tahu siapa sosok “orang yang bisa menyelesaikan masalah” ini, tapi yang jelas ia menyadari bahwa orang itu bukanlah orang biasa. Dan lebih dari rasa penasarannya akan hal itu, Ashqar jauh lebih tertarik dengan berapa banyak hal yang tak ia ketahui mengenai Rafa.


“Pak Aditya.” Sapa seorang laki-laki berperawakan pendek yang berjalan dari dalam rumah. “Silahkan ikut saya. Bapak sedang di halaman belakang,”


Rafa dan Ashqar mengikuti laki-laki itu, berjalan memutari rumah mewah bergaya eropa klasik melewati jalanan setapak yang terbuat dari batu alam hingga sampai di teras belakang. Dari kejauhan Ashqar bisa melihat seorang laki-laki paruh baya, mungkin seusia mertuanya, tengah fokus dengan koran yang ditaruh di atas meja.


Setelah laki-laki yang mengantar mereka mendekati si tuan rumah, mereka dipanggil mendekat. Rafa dan pria itu saling berjabat tangan, menanyakan kabar dan setelahnya Rafa memperkenalkan Ashqar. Menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahui apapun ditengah obrolan selancar aliran air membuat Ashqar memilih diam dan bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya mereka lakukan disini?


“Jadi bantuan apa yang kamu butuhkan?”

__ADS_1


Rafa menghembuskan napas halus, meremas jari-jarinya di atas meja. “Saya sebenarnya malu mengganggu Pak Han sepagi ini.”


Handoko tertawa renyah hingga matanya menyipit. “Anak nakal.” Handoko melemparkan tatapan jahil. “Kamu pikir saya nggak kenal kamu. Saya udah bilang, kamu butuh apa kasih tahu saya.”


Rafa menaikan satu sudut bibirnya yang membuat Ashqar bergidik, aura iparnya itu berubah secepat hembusan angin. “Saya yakin bantuan yang saya minta akan sangat mudah dilakukan oleh Pak Han.” Rafa mengulurkan tangan, meraih cangkir teh dihadapannya. “Ngomong-ngomong, gimana bisnis Pak Handoko? Lancar?” tanyanya, lalu menyeruput teh.


Handoko, pria paruh baya salah satu pebisnis terkaya di Indonesia dengan aset kekayaan milyaran rupiah, seseorang yang sudah lama bergelut dalam bisnis batu bara dan mineral alam. Dia sudah bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter dan sifat, tetapi hanya Rafa yang membuatnya merasa segan.


“Bisnis yang mana?” tanya Handoko diselingi tawa. “Batu bara aman, walaupun kemarin sempat kendala yang ya kamu tahu sendiri. Bisnis lain lancar lancar aja.”


Dengan cepat ekspresi Handoko berubah serius dan ia menegakkan tubuh. “Apa ada masalah yang saya nggak tahu, Dit?”


Saat Rafa tertawa kecil, seluruh atensi tertuju padanya. Bahkan Ashqar semakin tidak paham dengan situasi saat ini.


“Saya nggak tahu apa Pak Handoko mengetahui hal ini atau tidak.”

__ADS_1


“Aditya, tolong jangan berbelit-belit.”


Atmosfer diantara kedua pria beda usia itu mendadak tinggi. Namun, sesaat kemudian tensi perlahan menurun saat Rafa menyodorkan ponselnya kehadapan Handoko.


“Saya mau gosip mengenai perempuan ini, yang sengaja manajemen anda buat segera dihentikan.”


.


.


.


✄................................................


Novel ini nggak hiatus, maap juga updatenya nggak jelas 😢

__ADS_1


aku nggak mau kasih jadwal update dan janji update setiap hari, takut nggak bisa jaga janji. Soalnya sekarang lagi persiapan audit dari BPK, gaes. Jadi mohon maaf 🙏🏻


__ADS_2