Gaung Rasa

Gaung Rasa
Tengah Malam


__ADS_3

Suara langkah menapaki anak tangga satu per satu. Pelan, tetapi menimbulkan gema yang memenuhi rumah yang sudah sepi. Hampir tengah malam, keadaan penerangan sudah temaram hanya beberapa lampu yang dinyalakan atau diganti dengan yang watt yang lebih kecil.


Satu hembusan napas terdengar berat saat langkah kaki berhenti di anak tangga terakhir. Rafa setengah sadar melirik jam di pergelangan tangannya, pukul 23.57 WIB. Lalu hembusan napas terdengar lagi, lebih berat dan nyaring. Setengah hati Rafa menyeret langkah menuju ruang kerja Edi.


“Kalau bukan hal yang penting aku bakal langsung pulang,” ucapnya lesu bersamaan dengan langkahnya memasuki rungan.


Rafa hampir mendapatkan lelap, mungkin saja hampir bermimpi indah, saat bapaknya dengan tidak berperi kemanusiaan terus menghubunginya bahkan saat ia mengabaikan panggilan Edi yang lebih dari tujuh kali. Terlebih saat ia mengangkatnya dan Edi hanya mengatakan satu kalimat pendek lalu menutup sambungan telefon begitu saja. Ke ruangan kerja bapak sekarang.


Mengingat ucapan Edi membuat rasa kesal Rafa menjadi dua kali lipat. Untung saja dia masih sanggup untuk menyetir. Rafa hampir membuka mulut untuk mengomel saat menyadari ekspresi Edi yang terlihat tegang.


Edi melamun, tetapi terlihat ada hal yang mengganggu benaknya. Perlahan Rafa menghampiri Edi yang duduk di belakang meja kerja, rasa kantuknya mendadak sirna.


“Pak? Bapak baik-baik aja?”


“Hah?” seru Edi, terkejut dengan tepukan di pundaknya. Kemudian saat dia berhasil kembali dari lamunannya, Edi mendapati Rafa sudah duduk di hadapannya. “Kamu kapan dateng?”

__ADS_1


“Baru aja. Bapak ngelamunin apa? Kayaknya serius banget.”


Edi menatap Rafa lamat. “Bapak tahu sebelumnya bapak minta kamu buat menghentikan sementara penyelidikan Mas Teguh dan fokus sama persiapan pernikahan, tapi ….”


“Bapak dapat informasi apa?” sambar Rafa.


Edi memijit pangkal hidung, menutup kelopak mata saat pening kembali menyerangnya. “Informasi baru,” katanya, mendorong sebuah map ke hadapan Rafa.


Agak tidak sabaran, Rafa membuka map tersebut dan mulai menilik satu per satu lembaran kertas di dalamnya. Informasinya sama seperti yang pernah ia dapatkan, Teguh sempat tinggal di hotel selama seminggu setelah bebas dari lapas kemudian tinggal di kost selama beberapa minggu sebelum akhirnya menghilang.


“Ini … kecamatan yang sama dengan Safira?” Rafa menatap selembar ketas di tangannya dan Edi bergantian. “Artinya Pakde Teguh kemungkinan ada di sekitar Safira.”


“Belum tentu. Entah kebetulan atau memang hal ini bagian dari rencananya, tapi kalau benar dia berada di dekat Safira atau malah mungkin udah tahu dimana Safira tinggal maka itu bisa berbahaya.”


Edi memutar kursi lalu mengintip langit malam dari balik tirai. Kaca jendela ruang kerjanya berembun, mungkin karena di luar sudah mulai gerimis ditambah pendingin ruangan yang mencapai 19˚ celcius. Keadaan seperti ini mengingatkannya pada kejadian hari itu.

__ADS_1


“Bapak mau kamu lanjutkan lagi penyelidikan tentang ini, cari semua informasi lengkapnya dan usahakan jangan ada yang terlewat satupun.” Edi kembali menutup tirai dan memutar kursinya lagi. “Juga jangan sampai ada orang yang tahu tentang ini, sekarang-sekarang ini informasi kecil apapun tentang kita akan sangat berpengaruh besar.”


Rafa berdengung. Manik matanya masih fokus pada dua lembar foto yang diambil tiga haru lalu. “Pak, ini foto Pakde Teguh?” tanyanya, menyodorkan selembar foto ke arah Edi.


“Iya, sayangnya orang yang bapak suruh kehilangan jejak Mas Teguh setelah mengambil foto.” Edi meneguk kopi yang sudah dingin hingga tandas. “Orang yang bapak suruh cuma bisa mendapatkan informas kalau selama tiga bulan terakhir ini Mas Teguh rutin mengunjungi toko hewan setiap seminggu sekali dan beberapa kali mengunjungi sebuah toko di pasar kembang.”


.


.


.


✄................................................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2