
Zain tidak paham konsep waktu ataupun jam, yang anak itu rasakan adalah bahwa satu jam itu sangat lama. Ashqar menjanjikan akan segera sampai, tapi segera yang ayahnya maksudkan berbeda dari persepsinya.
Bibirnya mengerucut lucu, kaki mungil berbalut sepatu navy pemberian Rafa menendang-nenda udara sementara jemarinya menggenggam erat robot kesayangan. “Papah mana, sih? Kok, nggak dateng dateng.”
“Papah masih di jalan. Kamu yang sabar, nanti juga Papah dateng,” ucap Alvin yang duduk di sampingnya.
Zain merengut, melempar pandang ke arah berlainan dari Alvin. Pot-pot kecil berisi tanaman kaktus di atas meja besar menarik perhatiannya. “Tapi Papah lama, padahal tadi bilangnya sebentar,” katanya, menghampiri meja dan memainkan daun-daun tajam tanaman kaktus.
Alvin menghembuskan napas, bergaya seperti orang dewasa. Kemudian dia melirik pada Nita yang tengah mengobrol dengan seorang perempuan berseragam hitam. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, tapi mungkin sepertinya sesuatu yang penting karena Nita cukup lama berada di sana.
Lalu Alvin kembali pada Zain. “Nggak usah kayak anak kecil, Papah juga nanti dateng. Terus jangan main duri kaktus kayak gitu, nanti kena tangan nangis.”
“Zain emang masih kecil, Mas Alvin juga.” Zain melirik sinis Alvin lalu kembali membuang muka. “Zain kangen Mamah,” cicitnya, tanpa mengindahkan ucapan Alvin.
Alvin baru saja akan membuka mulut saat tiba-tiba Nita memanggil nama mereka.
“Kalian tunggu di sini sebentar, ya? Mommy mau ambil barang yang ketinggalan di kamar,” kata Nita, melirik kedua anak laki-laki beda usia di depannya.
Alvin melirik Zain yang masih cemberut dan terlihat tidak ingin menimpali ucapan Nita. “Iya, Tante,” ucap Alvin pada akhirnya.
Nita memaksakan senyum. Dia telah beberapa kali meminta Alvin untuk memanggil dirinya sama seperti yang Zain lakukan, tapi sepertinya putra pertama Ashqar dan Safira ini agak keras kepala.
“Alvin jaga Zain dulu, ya? Sebentar lagi papah kalian sampai, kok,” ucap Nita.
__ADS_1
Begitu Nita beranjak dari hadapan mereka, mengikuti pegawai hotel, Alvin bertanya, “Zain, kenapa kamu nggak jawab Tante Nita tadi?” Namun, Zain tetap diam dan masih berkutat pada duri-duri kaktus. “Kalau ada yang tanya itu dijawab, jangan diem aja. Zain tahu, ‘kan, kalau kayak gitu nggak sopan namanya?”
“Tahu. Tapi aku nggak mau jawab,” balas Zain ketus.
“Kenapa? Masih marah sama Tante Nita?”
Zain kembali diam. Dia memilih larut dalam dunia kecil dimana robot merahnya adalah seorang pahlawan super yang sedang bertarung dengan monter kaktus jahat. Bahkan anak itu membuat suara-suara seperti di film-film pahlawan kesukaannya.
Sementara itu, Alvin juga memilih diam dan tidak bertanya lagi. Antara sebal karena tidak direspon dan malas untuk menanyakan hal yang sama dua kali. Namun, dia sendiri bisa mengira-ngira jika Zain sebenarnya masih kesal dengan Nira karena tidak menuruti keinginannya.
Zain memang sangat senang ketika Nita membawanya ke kolam renang hotel yang besar dan membiarkan dirinya menaiki ban berbentuk burung berwarna merah muda yang sebenarnya tidak terlihat keren. Alvin dan Zain bahkan diperbolehkan memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan untuk dimakan di tepi kolam renang.
Namun, walaupun makanan yang dipesan sangat enak, tapi yang Zain inginkan setelah berenang adalah pulang dan bertemu Safira. Jadi ketika ia dan Alvin selesai berganti pakaian, Zain merengek untuk diantar pulang. Akan tetapi Nita menolak permintaan Zain, mengatakan jika ayah mereka akan menjemput dan sebagai gantinya akan dibelikan es krim.
“Zain nggak marah sama Mommy,” cicit Zain. Permainan pahlawan dan monster sepertinya sudah tidak menarik lagi. Anak itu beranjak ke samping Alvin. “Zain cuma pengen cepet-cepet ketemu sama Mamah.”
“Mamah nggak akan kemana-mana, Mamah sekarang pasti lagi di rumah sama Harsha. Kamu cuma nggak mau pergi sama Tante Nita aja, ‘kan? Kamu nggak suka sama Tante Nita?”
Zain merengut, wajahnya tertunduk menatap kepala robot yang hampir copot gara-gara sering ia coba lepaskan. “Zain maunya sama Mamah, tapi nanti Mamah jadi sedih kalau Zain nggak pergi sama Mommy. Padahalkan mamahnya Zain cuma satu, tapi Mommy juga mau dipanggil mamah. Aneh ya, Mas?” tanyanya, mengangkat kepala.
Alvin tak langsung menjawab. Dia mencoba memproses maksud perkataan Zain lalu sekatika ia teringat tentang permintaan Nita yang ingin dipanggil mamah oleh Zain. Namun, hal itu ditolak keras dan pada akhirnya Safira meminta Zain untuk memanggilnya mommy.
“Soalnya Tante Nita itu mamah kandungnya Zain. Kalau aku bilang gitu boleh nggak, ya?” batin Alvin, galau bagaimana harus menjawab pertanyaan adiknya.
__ADS_1
“Papah!”
Seruan Zain menyentak Alvin. Dia melihat adiknya sudah berlari ke arah pintu, tepat dimana Ashqar berjalan masuk dan hendak menghampiri mereka.
“Nanti aku tanya sama Papah dulu aja, deh,” bisik Alvin pada dirinya sendiri kemudian tetap di tempat dan kembali sibuk dengan mainan di kedua tangannya.
.
.
.
✄................................................
Hi! Ada yang kangen aku? 😂
Jadi dua-tiga hari kemaren itu aku harus isolasi mandiri dan harus ngurusin bocil 5 tahun berdua doang di rumah karena keluarga dia serumah reaktif covid-19. Dan ngurus anak-anak itu ternyata luar biasa 😵💫
Biasanya aku cuma make imajinasi buat bikin karakter anak-anak, tapi sekarang ini bener-bener ngadepin sendiri. So, salut banget buat kalian ibu-ibu muda yang multi tasking. Aku baru belajar ngasuh padahal nikah aja belum ye kan 🤧
Maapkan ya jadi curhat, but buat semuanya tolong tetap jaga kesehatan dan patuhi protocol yang ada yaaa…
Luv!🖤🥰
__ADS_1