
Safira tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Rasanya dia masih tertawa beberapa saat lalu karena berhasil menggoda Ahsqar, tapi saat ini dia justru sudah dihimpit suaminya itu di atas sofa.
“Ma-Mas?” Safira tergagap, tak bisa bergerak karena kedua tangannya dicekal Ashqar di atas kepala.
“Apa?” katanya dengan suara rendah, membuat tubuh Safira meremang. “Kamu sendiri yang mulai, loh.”
“Tapi … ini masih pagi,” bisik Safira, menghindari tatapan Ashqar yang seakan bisa membakarnya.
“Memangnya kenapa kalau pagi?” Ashqar menyelipkan tangannya yang lain ke punggung Safira dari balik baju tidurnya. “Bukannya kamu sendiri yang mulai?”
Safira terkesiap saat Ashqar melepaskan pengait branya dengan sekali sentak hingga membuatnya refleks menoleh kembali. Ketika pandangan mereka bertemu, Safira menyadari ada yang berbeda di sana. Cara Ashqar menatapnya masihlah sama, penuh cinta seperti biasanya. Namun, dia juga bisa melihat sekelebat gairah yang membuat setiap sendi di tubuhnya berubah seperti agar-agar.
“Aku nggak ngapa-ngapain.” Safira merengut dan sialnya terlihat menggoda di mata Ashqar.
“Apa sekarang kamu mau main kucing-kucingan, Fi?” tanya Ashqar dari sela-sela giginya yang terkatup. Sementara itu tangannya membelai di sepanjang tulang punggung Safira yang melengkung indah. “Kamu paling tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, ‘kan?”
Wajah Safira sontak memerah. Bayangan-bayangan erotis berkelebat di kepalanya, adegan antara dirinya dan Ashqar yang beberapa bulan belakangan tidak pernah terjadi lagi.
__ADS_1
Kemudian ketika Ashqar merapatkan tubuhnya, Safira bisa merasakan gairah Ashqar menekan bagian selatannya. “Aku nggak lagi mau main kucing-kucingan, tapi Mas sendiri yang nolak aku dua hari lalu,” ungkap Safira. Suaranya mengecil dikalimat terakhir.
Seketika rasa bersalah menggerayangi Ashqar. Dia melepaskan cekalan tangannya di tangan Safira, merendahkan tubuh dan memeluk tubuh istrinya. “Kalau kamu bahas hal itu sekarang, aku jadi nggak berniat buat lanjut.”
Bisikan Ashqar ditelinga Safira membuatnya merasa tergelitik, bukan hanya karena sentuhan, tapi juga rasa sesal karena mengatakan hal yang melukai perasaan suaminya.
“Mas, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat—”
“Aku yang harus minta maaf, Sayang.” Ashqar mengeratkan pelukannya kemudian mengangkat wajah untuk menatap mata Safira. “Maaf karena menolak kamu.”
Safira menggigit bibir dalamnya lalu mengulurkan kedua tangan, memeluk tubuh Ashqar. Penyesalan suaminya terasa menyakitkan, bukan hanya karena iangatan tentang merasa ditolak saat dua hari lalu Safira berinisiatif untuk memenuhi kewajiban dan haknya sebagai istri. Juga karena ia tahu bahwa alasan Ashqar adalah karena takut melukainya.
Mendengar kata ‘diperbaiki’ Ashqar teringat dengan mobilnya, tapi tentu hal itu berbeda dari yang bisa dia bayangkan. Saat persalinan Ashqar menemani Safira di sisinya, tetapi ketika istrinya itu mendapat jahitan baru dokter menyuruhnya untuk menyaksikan.
Biar njenengan juga tahu bagaimana kondisi istrinya. Jadi istri dan ibu itu sulit dan sakit, kalau njenengan lihat begini jadi lebih sayang dan menghargai istrinya, ya.
Ucapan dokter paruh baya itu terdengar santai bahkan diselingi tawa ringan. Namun, berhasil mengobrak-abrik perasaan Asqar. Hingga puncaknya ia merasa kesulitan untuk menyentuh Safira meski istrinya sendiri yang menawarkan.
__ADS_1
Plak!
Sebuah tamparan di punggung menggugah Ashqar untuk mengangkat wajah. Senyum tipis Safira dan matanya yang bersinar menatap penuh sayang. “Sekarang Mas nggak akan menolak aku, ‘kan?”
Ashqar berkedip. “Tapi jahitannya?” ucap Ashqar tercekat.
“Udah aman, Mas.” Safira mengalungkan tangan di leher Ashqar. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja rasanya mendebarkan saat Safira lebih berani ketimbang Ashqar yang terbiasa memimpin. “Mumpung rumah sepi dan Harsha juga masih tidur. Mas nggak akan menolak kewajiban dan hak Mas sebagai seorang suami, ‘kan?”
.
.
.
✄................................................
Maapkan update ngaret yak..
__ADS_1
Akhir-akhir ini kayaknya makin nggak karuan jadwal update-ku, tapi mudah-mudahan masih bisa menghibur buat kalian yang setia nunggu novel ini.
Luv! 🖤