Gaung Rasa

Gaung Rasa
Yang Tidak Diketahui


__ADS_3

Kebahagiaan yang Gyandra rasakan harus berakhir saat yang dicintainya bertunangan dengan kakaknya sendiri. Mampukah Gyandra menjalani kehidupannya kembali?Atau terpuruk dalam masalalu?


Yang diatas itu blurb dari Anak Pelakor karya Dandelion, salah satu temen penulis aku. Kalau kakak-kakak kepo dan tertarik sama ceritanya bisa dibaca di *******, akunnya D_Dandelion. Makasih ( ꈍᴗꈍ)


﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏


Yang tidak Ashqar dan Safira ketahui adalah bahwa Rafa menemui Budi begitu mereka meninggalkan hotel. Rafa adalah salah satu tamu tetap Hotel Cendana dan dia beberapa kali menggunakan jasa Budi.


Jadi saat mengetahui jika Budi melakukan kesalahan hingga membuat mobil Ashqar rusak parah, dia merasa cukup terkejut. Namun, alih-alih ikut campur, Rafa memilih untuk tidak terlibat dan justru menemui Budi secara diam-diam.


Rafa meminta maaf untuk sikap adiknya yang sedikit kasar, tetapi pria paruh baya itu justru meminta maaf balik karena merasa tidak enak dan sungkan hanya memberikan seratus ribu dari dua lembar uang di dompetnya. Segera Rafa meluruskan agar Budi tidak perlu khawatir.


Rafa pikir obrolannya dengan Budi akan berhenti sampai disitu seperti niat awalnya. Namun, perkataan Budi setelahnya membebani Rafa.


“Sebenarnya waktu saya mau mundur, di belakang mobil tiba-tiba ada sepeda motor. Karena kaget, refleks saya maju dan akhirnya nabrak tembok pembatas.”


“Kenapa Pak Budi nggak bilang ini sama adik saya?”


“Saya takut nanti adik bapak mikir saya cari-cari alasan. ‘Kan, biar bagaimanapun saya yang bawa mobilnya, Pak. Kalau ada apa-apa ya, saya yang bertanggungjawab.”


“Jadi, maksud kamu kerusakan mobil Ashqar itu disengaja?” tanya Ranee.


“Aku mikirnya sih, gitu. Soalnya aneh kalau motor sampai masuk ke area parkir khusus mobil.” Rafa memijit pangkal hidungnya dan menyandarkan kepala di jok mobil. “Aku takut warning dari Bapak tentang masalah kemarin benar-benar bakal kejadian.”


Ranee mengusap bahu tegang Rafa. “Tapi mungkin juga itu memang faktor kebetulan, ‘kan? Agak berlebihan kalau kamu langsung berpikir buruk. Masalah seperti ini harus dipikirkan hati-hati, Fa.”


“Fa! Fa! Fa!” Rafa mencubit bibir Ranee. “Kamu kayak Fira aja, manggil suaminya nggak sopan.”


Ranee memutar bola mata. “Iya. Iya. Mas Bo.”


“Bojo?”


“Ke-bo,” kata Ranee kemudian disusul tawa renyah.

__ADS_1


Saat ini keduanya berada di mobil milik Ranee yang mengekor di belakang mobil hitam Edi dan keluarga besan. Rencana mereka untuk berwisata tetap berlanjut meski harus tertunda beberapa jam.


Rafa tersenyum tipis, menaruh atensi penuh pada wanita yang kini berhasil menjadi miliknya setelah banyak hal yang harus mereka lalui. Hingga tatapan intens Rafa membuat Ranee salah tingkah sendiri.


“Ke-kenapa?”


Rafa menggeleng. “Nggak papa. Aku cuma masih nggak nyangka akhirnya papah kamu ngasih restu buat kita.”


Ranee berdecak. Itu adalah perkataan Rafa yang sekian kalinya sejak mereka bertunangan. “Sadar, Mas Bo. Disini nggak cuma ada kita aja.”


Lirikan Ranee ke arah supir membuat tawa Rafa pecah. “Maklum njeh, Pak. Nganten anyar.”¹ Ucapan Rafa disambut tawa halus si supir. Kemudian ia menggenggam tangan Ranee. “Maaf, disaat kayak gini aku justru mikirin hal lain. Harusnya aku fokus sama kita dan rencana bulan madu kita.”


“Nggak apa-apa,” ucap Ranee lirih, antara malu dengan perlakuan Rafa dan malu kepada supir pribadi ayahnya.


✿✿✿


Sementara itu, mobil dengan plat AD yang dikendarai Ashqar tengah berhenti di Taman Pandanalas Boyolali atas desakan Zain. Putra tengah Ashqar dan Safira itu mengeluh karena tak jadi berwisata, maka jadilah Ashqar mencari objek terdekat dari rutenya.


“Mah, bentar.” Ashqar menahan tangan Safira ketika istrinya itu hendak menyusul kedua putra mereka yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


“Kamu masih marah? Aku minta maaf.”


Safira menatap Ashqar lamat. “Nggak, kok. Aku juga minta maaf ya, Mas.”


Senyum Ashqar kontan merekah. “Sama-sama, Sayang. Ayo, susul Alvin sama Za—”


“Baa ... baa ... Paa!”


“Eh?” seru Ashqar dan Safira bersamaan, keduanya pun sama-sama menoleh ke arah Harsha.


“Harsha panggil siapa, Nak?” tanya Ashqar antusias.


“Baa! Paa!” jerit bayi gembil pasangan Baswara. Suara nyaring dan senyum merekahnya membuat Ashqar segera turun dari mobil dan membawa Harsha keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Berbeda dengan Ashqar, Safira sedikit merasa kecewa karena yang pertama kali Harsha panggil bukanlah dirinya.


“Harsha kok, malah panggil papah?” protes Safira saat Ashqar menghampirinya. Setelah menutup pintu mobil, ia berjalan berdampingan dengan Ashqar. “Panggil ‘mamah’ gitu, Nak.”


Sayangnya, Harsha hanya mengulangi kata yang sama dan hal itu membuat Safira menyerah.


Diam-diam, di kejauhan, di balik tanaman hias setinggi 1,5 meter, seorang pria mengintai Safira dari jauh. Compact Camera berada di tangannya, mengarah tepat pada Ashqar dan Safira, sementara di telinga kanan terpasang earphone bluetooth yang tersambung dengan seseorang.


“Pak, ini targetnya bener? Kok, laki-lakinya sama perempuan lain, mana anaknya tiga lagi,” bisik laki-laki itu.


“Iya.” Pria yang sebelumnya mengambil foto Nita dan Ashqar itu terdengar tidak senang. Andai saja rekannya yang lain tidak dipanggil atasan sudah pasti dia tidak perlu repot-repot meminta bantuan anak magang.


“Tapi, Pak ....”


“Nggak usah pakai tapi! Kamu tahu nggak saya lagi ngebuntutin Nita?” omelnya. “Yang penting kamu ikutin mereka dari jarak aman dan jangan sampai ketahuan.”


Kemudian sambungan telefon itu terputus begitu saja. Menyisakan laki-laki pertengahan dua puluhan yang kebingungan.


.


.


.


✄................................................


¹“Maklum ya, Pak. Pengantin Baru.”


Nara Corner :


Aku sempet baca komentar tentang visual. Mungkin buat yang udah follow IG aku udah tahu visual keluarga cemara, yang belum tau bisa follow IG ku yaa.. ILY♡


Visual Ashqar, Safira, Alvin, Zain, Double R, ada semua kok. Yang belum ada Harsha doang 👉🏻👈🏻

__ADS_1


ps. atau haruskah aku masukin foto visual di update selanjutnya?


__ADS_2