
Melihat keseluruhan kamar Alvin membuat Safira teringat jika kamar anak laki-lakinya adalah kamar yang Edi siapkan khusus, baik desain dan furniturenya. Cerita dimana Safira menjemput paksa Alvin dari tangan Edi kembali mampir diingatannya, bagaimana kisruh dan tegangnya tensi saat itu.
Dia belum selapang seperti saat ini dalam berhadapan dengan Edi. Jika saat ini Safira bisa lebih santai dan cukup memberikan tanggapan pedas untuk tingkah bapaknya, lain halnya saat itu. Bahkan untuk sebuah panggilan telfon saja Safira bisa meledak-ledak, apalagi saat itu Edi sengaja memprovokasinya dengan mengatakan telah mengadopsi Alvin dan membawa anak itu untuk tinggal bersama. Hal yang tidak Safira duga adalah bahwa Edi diam-diam menguntit kehidupannya.
“Mah?”
Panggilan Alvin membawa Safira kembali dari lamunan. Dia menurunkan pandangan dan mendapati Alvin tengah memandangnya dengan tatapan bingung. Kemudian Safira dengan cepat memaksa untuk menguasai diri, digandenganya tangan Alvin dan menuntun untuk duduk di pinggir ranjang.
“Mas Alvin nggak apa-apa?”
Alvin menggeleng. “Uti ... pasti udah cerita sama mamah, ‘kan?” cicit Alvin.
“Uti bilang kalau Mas Alvin bertengkar sama temen dan mukul anak itu sampe mimisan. Apa bener?” Alvin kembali mengangguk dan Safira tidak tahan untuk tidak menjewer ringan telinga Alvin. “Anak mamah kenapa berani banget sekarang? Pake berantem sama anak orang lagi. Mas Alvin mau jadi jagoan?”
“Alvin cuma membela diri aja, kok.” Alvin merengut, melepaskan jari Safira dari daun telinganya. Meski tidak sakit, tapi dia harus waspada dengan serangan dadakan. “Lagian bukan Alvin yang salah.”
“Jadi yang salah temennya Mas Alvin?”
Alvin mengangguk.
“Emang temenmu buat salah apa?”
“Dia bawel, berisik, banyak tanya.”
__ADS_1
Safira mengerutkan kening. Ucapan Alvin persis seperti saat anak itu mengadu perihal Zain yang sering mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaannya. Namun, selama ini hal seperti adalah sesuatu yang mudah ditangani Alvin kecuali jika Zain mengganggu disaat belajar.
“Mas Alvin lagi ngomongin Zain?”
“Bukan,” sergah Alvin. “Temen yang Alvin pukul, dia berisik.”
“Zain juga berisik, suka tanya ini-itu, tapi Mas Alvin nggak pernah mukul Zain. Jadi kenapa anak itu kamu pukul?” tanya Safira dengan nada selembut mungkin.
“Ya karena dia bukan Zain. Zain sih nggak usah dipukul, dibentak aja pasti nangis.”
Safira hampir menyemburkan tawa mendengar ucapan pedas Alvin. Namun, dia dengan cepat mengendalikan diri. “Jadi apa alesannya? Kenapa Mas Alvin bertengkar?”
“Tadi Alvin ‘kan, udah bilang. Dia berisik, banyak tanya yang nggak penting.”
“Mas Alvin udah janji loh sama mamah mau selalu jujur.”
Alvin melirik-lirik Safira beberapa kali. “Dia tanya-tanya soal mamah dan Alvin nggak suka,” ucapnya cepat.
Saking cepatnya Safira perlu beberapa detik untuk mencerna. “Tanya-tanya soal mamah? Emang tanya apa?”
“Mah,” rengek Alvin, raut wajahnya terlihat keberatan untuk menjawab.
“Kalau kamu nggak bilang jujur sama mamah, gimana mamah bisa tahu kamu salah atau nggak.” Safira membelai wajah Alvin kemudian menggenggam kedua tangannya. “Daripada mamah tahu dari orang lain, lebih baik mamah tahu dari Mas Alvin sendiri.”
__ADS_1
Alvin membuang napas kasar dan berkata dengan pelan, “Dia tanya soal mamah, papah sama Zain yang ada di TV.” Alvin menoleh, menatap lurus pada wajah Safira. “Dia banyak omong dan bikin Alvin sebel, jadi Alvin nggak salah sendirian soalnya dia juga salah.”
Safira mendadak kelu. Dia sangat tahu apa yang Alvin maksud dan ia tidak menduga jika gosip yang beredar saat ini sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Bahkan pada lingkungan sosial mereka.
Safira berdeham setelah bisa menenangkan diri lalu menarik kedua ujung bibirnya. “Mas Alvin menunjukan ekspresi itu nggak salah. Mas Alvin kayak gitu karena merasa terganggu, ‘kan? Tapi caranya nggak seperti itu, Nak. Mas Alvin bisa menghindar, bisa juga kasih tahu temennya itu buat diem atau dimarahin juga nggak apa-apa.”
“Alvin udah kasih tahu, Mah. Tapi dia tanya-tanya terus. Dia ngintilin Alvin terus. ‘Kan Alvin jadi risih, Mah.”
“Tapi mukul orang itu tetep salah, Nak. Apalagi ini temen kamu sendiri,” ucap Safira. “Mas Alvin boleh marah, boleh nggak suka. Tapi bukan berarti Mas Alvin boleh mukul orang, paham?”
Alvin terdiam sejenak lalu tak lama kemudian ia mengangguk. “Paham. Alvin minta maaf, Mah.”
“Satu lagi.” Safira memegang kedua pipi Alvin dan menatap wajahnya lembut. “Mas Alvin nggak perlu khawatir tentang berita yang ada di TV atau omongan-omongan orang, papah sama mamah baik-baik aja. Tante Nita ‘kan artis, jadi banyak orang yang mau tahu tentang Tante Nita makanya banyak berita di TV tentang dia atau keluarga kita. Tapi semuanya baik-baik aja, Mas Alvin bisa mengerti?”
“Bisa, Mah.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Bersambung