Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ngambek


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak kelahiran Harsha, rumah Keluarga Baswara semakin meriah dengan kehadiran si bayi mungil di tengah-tengah mereka dan tentu itu juga membuat Safira semakin sibuk.


Alvin dan Zain bersemangat menyambut kehadiran adik perempuan mereka. Dan seperti biasanya, Alvin selalu berhasil menipu umur. Dia hanya duduk di samping ranjang sambil menatap Harsa yang tertidur atau mengulurkan jarinya agar Harsha bisa menggenggamnya. Berbeda dengan Zain yang terus ingin dekat dan berusaha untuk memangku Harsha layaknya boneka.


Harsha, kok, bobok terus?


Harsha kayak bonek, ya, Mah?


Harsha suka makan coklat nggak?


Pertanyaan-pertanyaan Zain mau tidak mau mengundang tawa Safira dan Ashqar. Keduanya sampai kewalahan untuk menghadapi sikap antusias yang Zain tunjukan. Namun, hal itu justru menghangatkan hati.


Alvin dan Zain akan menghampiri Harsha sebelum berangkat ke sekolah dan akan buru-buru mendatanginya saat sampai di rumah, begitu juga dengan Ashqar. Safira bahkan dibuat iri dengan perhatian tiga laki-lakinya yang kini berpindah pada Harsha.


“Si perebut perhatian,” ucap Safira, duduk dari berbaring dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Harsha kemudian membuka dua kancing piyamanya dan mulai menyusui Harsha sebelum putrinya itu menangis.


Mengurus bayi ternyata lebih sulit dari yang Safira perkirakan. Dia harus bangun dua sampai tiga jam sekali saat tengah malam untuk menyusui dan mengganti popok kain Harsha. Setelahnya Safira tidak bisa kembali tidur terutama saat dia terbangun lewat tengah malam, dijam dua atau tiga dini hari, rasa kantuknya tiba-tiba menghilang entah kemana. Belum lagi dia masih harus menyiapkan keperluan suami dan anak-anaknya di pagi hari.

__ADS_1


Safira tidak ingin mengeluh dan tak terbiasa melakukannya, tapi rasa nyeri di bekas jahitannya setiap kali dia berjalan membuat Safira tidak tahan. Belum lagi dia masih was-was tentang buang air besar, khawatir jahitannya terbuka membuat Safira merasa sangat kesulitan untuk menuntaskan hajat.


“Mamah, pensil warna Zain di mana?” teriak Zain dari kamarnya.


Safira tersentak. Dia meringis, memejamkan mata saat Harsha mengatupkan mulut. Dilema menyerangnya saat teriakan Zain kembali terdengar dan membuat Harsha terkejut, sementara ia tidak bisa menghampiri putranya itu atau balas berteriak. Safira hanya berharap jika Alvin akan menghampiri Zain dan membantunya.


Namun, hal itu hanya sekedar harapan Safira. Tiba-tiba saja Zain berteriak lebih kencang dari sebelumnya dan membuat Harsha menangis keras. Terburu-buru Safira membenahi pakaian dan beranjak dari kasur kemudian menimang Harsha.


Tangis Harsha tidak kunjung reda meskipun Safira sudah membawa putrinya berkeliling kamar. Dan saat Safira duduk di tepi ranjang sekedar untuk mengistirahatkan kaki sebentar, Harsha menggeliat tidak tenang. Putrinya tambah rewel jika Safira berhenti menimang.


Hal itu berdampak cukup serius pada suasana hatinya, kelelahan dan kurang tidur ternyata sangat berpengaruh pada kondisi fisik Safira. Bukannya dia tidak memperkirakan hal ini, tapi sekali lagi, dia adalah ibu baru dan mengurus anak lima dan sepuluh tahun tidaklah sama dengan mengurus bayi baru lahir.


Saat Harsha kembali pulas, Safira dengan segera memindahkan putrinya ke atas kasur lalu dia juga menyadari bahwa ketenangan melanda seisi rumah.


“Kok, perasaanku jadi nggak enak gini. Biasanya kalau Zain tiba-tiba diem begini ….” Safira tidak ingin menduga-duga apa yang sedang terjadi di kamar putranya. Dia hanya berharap ketenangan ini karena Alvin yang sudah berhasil membantu Zain menemukan pensil warna.


Suara pintu yang di dorong mengalihkan perhatian Safira dari wajah Harsha. Pintu kamarnya memang sengaja tidak ditutup agar saat Harsa menangis, tetapi dia sedang melakukan pekerjaan lain di luar kamar, Safira bisa langsung tahu.

__ADS_1


“Mamah.”


“Zain? Udah ketemu pensil warnanya?” tanya Safira, duduk di tepi ranjang.


“Belum.” Zain mencebik, matanya yang sipit hampir seperti garis lurus sementara tangannya terlipat rapih di dada. “Mamah ngapain, sih? Zain panggil-panggil dari tadi, tapi Mamah nggak dateng-dateng.”


Safira tersenyum kaku sambil berjalan menghampiri Zain. “Maaf, Mas Zain. Tadi Harsha bangun dan mamah harus kasih adik Harsha minum,” terang Safira, berjongkok di hadapan Zain.


Wajah Zain makin keruh. Dia melirik tempat tidur, tepatnya pada Harsha yang baru saja melenguh kecil. “Harsha ngerepotin.”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Yang minta konflik ringan angkat tangan?


__ADS_2