
Safira merebut remote dari tangan Ashqar lalu duduk di sampingnya. “Itu acara konferensi peluncuran film barunya Mbak Nita, ‘kan?”
“I-iya,” jawab Ashqar tergagap. Sepertinya Safira tidak mendengar ucapannya, mungkin karena itu lebih seperti bisikan. Namun, dia juga seharusnya tidak perlu khawatir berlebihan.
Safira adalah tipikal orang yang tidak akan repot-repot menaruh curiga tanpa ada bukti dan bisa dibilang satu-satunya perempuan, tentu saja selain keluarganya, yang menaruh kepercayaan dengan baik. Bahkan jika Ashqar pulang terlambat dan tidak sempat mengabari, Safira hanya akan bertanya alasannya dan kemana dia pergi sebelumnya.
“Karena Mas udah kasih aku rasa aman yang cukup makanya aku nggak perlu repot-repot curiga dan cek HP agar hatiku tenang.”
Begitu yang Safira katakana saat pernah ia pulang terlalu larut dan tidak membawa power bank atau charger. Ashqar yang merasa bersalah sudah siap kalau harus mendengarkan omelan Safira atau lebih buruknya mendapatkan hukuman, tapi diluar dugaannya, Safira hanya memberinya dua pertanyaan. Kenapa dan darimana, lalu menyuruhnya mandi dan menemani makan.
Mengingat hal itu membuat Ashqar merasa bersalah. Safira sangat mempercayainya jadi seharusnya tidak ada alasan untuk tidak mempercayai Safira juga dengan berspekulasi bahwa istrinya itu akan salah paham hanya dengan mendengarnya bergumam. Lagi pula, Safira sendiri yang berusaha untuk mendekatkan Nita dengan Zain.
“Maaf ya, Sayang.” Ashqar merangkul pundak Safira erat.
Safira menoleh, ekspresi kebingungan ada di wajahnya. “Maaf buat apa?” katanya sambil melirik gelas Ashqar yang sudah kosong. “Bilang aja kalau mau nambah kopi. Buat hari ini aku izinin minum dua gelas.”
Ashqar terbengong saat Safira mengambil gelas dan berjalan ke dapur. Istrinya itu jelas mengartikan lain ucapannya, tapi hal itu tentu lebih baik karena Ashqar juga tidak bisa begitu saja membeberkan apa yang terjadi kemarin dan yang barusan sedang ia pikirkan.
“Mbak Nita nitip pesan, katanya makasih buat tumpangan kemarin. Terus dia juga bilang buat dua-tiga bulan kedepan nggak bisa ketemu Zain dulu, dia masih sibuk sama acara promosi buat film dan jadwal lainnya,” jelas Safira dari arah dapur.
“Dia nggak bilang apa-apa sama aku kemarin,” ucap Ashqar, mencoba mengingat-ingat apakah Nita memberitahunya tentang hal yang sama. Namun, sepertinya memang dia tidak dibertitahu. “Justru aku kemarin bilang kalau bulan depan nggak bisa ketemu dulu.”
“Acara Kak Rafa?” tanya Safira. Denting sendok dan gelas yang beradu terdengar nyaring lalu aroma kopi instan yang ditambahkan susu murni menyeruak memenuhi penjuru rumah. “Aku juga bilang kalau itu, terus Mbak Nita akhirnya bilang soal jadwalnya.”
Ashqar bergumam. Tangannya terulur meraih remot di atas meja kemudian memindahkan saluran ke acara kartun kesukaan Zain. “Ngomong-ngomong, gimana sama kerjanya Mbak Jum?”
“Kayak biasanya.”
__ADS_1
Ashqar melirik sebal Safira dari ujung matanya. “Kayak biasanya itu giamana, Sayang?”
Safira terkekeh. Sambil berjalan ke ruang televisi, dia sempat melirik Harsha di kamar. Putri bungsunya itu masih tertidur. “Bagus, rapih, bersih. Kayak biasanya, Mas,” jelasnya, menaruh gelas kopi di hadapan Ashqar.
Bunyi gelas dan permukaan meja yang beradu seirama dengan rengekan Harsha dari arah kamar dan membuat Ashqar setengah kelabakan. Namun, melihat Safira yang justru mengambil duduk di sampingnya membuat Ashqar urung untuk menghampiri Harsha.
“Fi, Harsha nangis loh itu.”
Safira menyilangkan kaki sambil menyesap teh hangat. “Tenang aja, Mas. Harsha nggak nangis, kok. Cuma ngelindur aja itu,” terang Safira, menaruh gelas di atas meja. “Mas tanya tentang Mbak Jum emangnya ada apa?”
Ashqar masih diliputi kebingungan tentang bagaimana Safira bisa begitu tenang menyikapi rengekan Harsha sementara dirinya sudah berniat untuk berlari ke dalam kamar, takut jika putrinya terbangun dan menangis.
“Bumi pada Kang Tikar? Halo? Ada orangnya nggak?” goda Safira, melambai-lambaikan telapak tangan di depan wajah Ashqar.
Hal itu tentu mengejutkan Ashqar, mengembalikannya dari lamunan yang mulai keluar jalur. “Nggak sopan kayak gitu tahu.”
Ashqar menyentil dahi Safira hingga membuat istrinya mengaduh. “Dasar, kebiasaan. Jangan kayak gitu di depan anak-anak, ya.”
“Ya nggak mungkin, ‘lah. Aku ini contoh yang baik buat mereka,” ucap Safira dengan senyum lebar sambil mengusap keningnya. “Mas belum jawab pertanyaanku sebelumnya. Kenapa tanya soal Mbak Jum?”
“Oh, nggak apa-apa. Mbak Rahma yang tanya, katanya kalau nggak cocok mau buru-buru dicariin yang lainnya. Tapi kalau hasil kerjanya bagus ya udah.”
Safira menghembuskan napas dan menyandarkan punggung. “Nggak usah cari orang lain lagi, Mas. Ini udah ketiga kalinya, loh. Lagian kerjanya Mbak Jum bagus nggak kayak yang sebelum-sebelumnya.”
Dua orang, sebelum Mbak jum, yang direkomendasikan Rahma ternyata tidak cocok dengan Ashqar dan Safira. Yang pertama terlalu centil dengan Ashqar. Padahal umurnya tidak lagi muda, tapi perempuan pertengahan tiga puluhan itu beberapa kali terang-terangan mencuri kesempatan kepada Ashqar.
Sementara yang kedua, dia bekerja lebih lama dari yang pertama. Hasil pekerjaannya juga bagus, mulai dari membersihkan rumah hingga menyetrika pakaian. Sayangnya, dia bukan orang yang baik. Safira sendiri sudah merasa aneh sejak kehilangan anting emas, tapi dia tidak bisa menuduh siapapun tanpa bukti karena bisa jadi dia sendiri yang teledor menyimpannya.
__ADS_1
Namun, setelah melihat sendiri bahwa ART yang ia pekerjakan membongkar laci di lemari bajunya. Safira langsung memecat orang tersebut tanpa persetujuan Ashqar. Baru setelah suaminya pulang dari peternakan, Safira mengatakan semuanya.
Ashqar sudah pasti tidak setuju dengan keputusan Safira yang terburu-buru. Menurutnya orang itu harus mendapatkan hukuman, tapi istrinya tidak ingin memperpanjang masalah terlebih orang yang merekomendasikan adalah kakak iparnya sendiri. Meskipun pada akhirnya Ashqar tetap memberitahu Rahma perihal pencurian itu.
“Ya udah kalau gitu. Nanti aku bilang ke Mbak Rahma kalau kamu cocok sama Mbak Jum,” katanya sambil mengusap kepala Safira lalu menuntun agar bersandar di pundaknya. “Kayaknya udah lama kita nggak kayak gini, ya?”
“Kayak gini? Berduaan maksudnya?” tanya Safira, beringsut ke dada Ashqar. Daripada pundak, Safira lebih memilih untuk bersandar pada dada bidang suaminya sambil melingarkan tangan di pinggang.
“Iya, biasanya bisa berduaan kalau malem aja. Itu juga sekarang jarang sejak Harsha lahir.”
“Mas,” panggil Safira, mendongakan wajah. Saat Ashqar menurunkan pandangan, ia membuat wajahnya sejajar dengan wajah Ashqar kemudian mengecup bibir suaminya. “Mas kangen sama aku, ya?”
Ashqar berkedip, merasa tidak siap dengan serangan Safira yang tiba-tiba. Terlebih saat istrinya itu justru tertawa halus mendengar reaksinya.
“Mamah Safira, tanggung jawab loh ini.”
.
.
.
✄................................................
Dududu\~
Sampai ketemu besok lagi 🌚😌
__ADS_1