
Ashqar terbangun dan mendapati hujan masih belum reda. Dia menoleh ke samping, tempat dimana seharusnya Safira berbaring, tapi ternyata kosong. Keadaan kamar masih temaram, di kasur samping Alvin dan Zain bergelung nyaman di dalam selimut. Namun, selain Safira, Harsha juga tidak ada di dalam box portabel yang biasa mereka bawa saat bepergian.
Ashqar menyibak selimut, merenggangkan otot-otot kaku bangun tidurnya lalu menyeret langkah ke ruang sebelah yang jauh lebih terang. Dia bisa memastikan jika istri dan putri bungsunya berada disana.
Senandung lagu tidur menyambut Ashqar, Safira sedang membuai Harsha berkeliling ruangan.
“Mah,” panggil Ashqar lirih. Dia bersandar pada tembok antara kamar tidur dan ruang tamu.
“Mas udah bangun?” gumam Safira, memeriksa jam pada ponselnya. “Ini masih jam empat, loh.”
Masih setengah jam lagi sebelum jam bangun pagi Ashqar yang biasanya. Suaminya itu tipe orang yang akan bangun dijam yang sama hampir setiap harinya meskipun tidur sangat larut atau dini hari sekalipun.
Ashqar mendekat, membelai pipi Harsha yang kian hari kian gembil¹. “Yang kemarin . . . masih marah?” tanya Ashqar hati-hati.
Safira menatap wajah bangun tidur Ashqar cukup lama, lalu duduk di sofa terdekat. Helaan dan hembusan napas Safira mengusik ketenangan Ashqar, membuatnya harap-harap cemas.
Sejak kemarin siang hingga menjelang tidur, jika bukan hal penting, Safira tidak akan berbicara dengannya. Istrinya itu terus mendiamkan dirinya bahkan beberapa kali memperlakukan Ashqar seperti udara. Ada, tetapi tak terlihat.
“Aku minta maaf kalau sempat berlebihan dan mengancam Mas nggak akan kasih jaatah,” cicit Safira, menaruh atensi pada wajah terlelap Harsha.
“Nggak apa-apa, Mah. Aku juga minta maaf udah bikin kamu khawatir.” Ashqar meraih dagu Safira, manatap matanya dalam. “Jadi kamu udah nggak marah?”
Safira memperhatikan Ashqar yang kini mengambil duduk di sampingnya. “Nggak, sih. Tapi aku masih sebel aja,” katanya, berjalan menuju kamar tidur.
__ADS_1
“Kemana, Mah?” tanya Ashqar buru-buru.
“Mindahin Harsha.”
Ashqar mengulum senyum. Kelegaan menghampirinya seperti sejuk dan dingin udara pagi yang diguyur hujan, Ashqar bahkan tidak ragu untuk melebarkan senyum. Kejengkelan Safira jauh lebih mudah dihadapi daripada kemarahan perempuan itu.
Istrinya akan mendiamkan Ashqar tiga hari penuh, terkadang benar-benar tidak mengajaknya bicara meski semua kebutuhan dipenuhi. Hal itu jauh lebih menyiksa ketimbang Safira tidak memberikan jatah. Walaupun kalau benar-benar tidak diberi Ashqar juga bisa sakit kepala.
“Mas adanya cuma kopi, nggak apa-apa?”
Ashqar menoleh, Safira berjalan ke arahnya dengan secangkir kopi di tangan.
“Kamu kasih aku air kran aja pasti aku minum, kok.”
Safira berdecih. “Ya kali, aku kasih suami sendiri air kran,” dumel Safira, menyerahkan cangkir pada Ashqar dan duduk di sampingnya.
“Iya, soalnya kalau Mas sakit aku juga yang repot. Mas kalau sakit, ‘kan, udah kayak Zain. Manja.”
Mendengar penjelasan Safira, Ashqar terbatuk dan menyemburkan kopi hingga mengotori meja. “Yang, jahat banget, sih,” rengek Ashqar, melemparkan tatapan anak kucing pada Safira.
Safira bergidik geli. “Mas sadar umur, sadar status. Malu sama anak-anak kalau tahu papah mereka kelakuannya nggak jauh beda.”
“Mulutnya, mulutnya.” Ashqar mencubit pipi Safira gemas. “Kalau lagi nggak mood gini suka tajem kata-katanya.”
__ADS_1
“Aku masih sebel sama kamu, Mas.”
“Iya, iya. Aku minta maaf, Sayang.”
Ashqar mengulurkan tangan ke belakang punggung Safira, mencoba merangkul pundak istrinya. Namun, dengan cepat Safira menghindar.
“Aku maafin, tapi rasa kesel aku belum hilang.” Safira merengut. “Mas tahu, ‘kan, aku bakal panik banget kalau anak-anak sampai kenapa-napa. Aku kesel sendiri karena nggak tahu harus marah sama Mas yang nggak jelas kasih tahu info ke Mbak Rahma, atau harus marah ke Mbak Rahma yang salah denger.”
Ashqar meringis mendengar omelan Safira. Kesalahpahaman kemarin memang salahnya yang hanya meminta Rahma menyampaikan pada Safira untuk ke kamar segera karena Zain kedinginan setelah masuk ke dalam kolam renang. Sementara Rahma menangkap ucapan Ashqar yang saat itu terdengar panik secara negatif dan membuatnya mengira bahwa Zain tenggelam.
“Aku salah, Sayang. Tapi sebenernya Mbak Rahma lebih salah, soalnya Mbak Rahma yang bikin kamu salah paham.”
Itu niat bulus Ashqar. Dia tidak ingin menjadi satu-satunya yang disalahkan atas insiden kemarin, belum lagi dia sempat kena semprot ipar dan ibunya, juga ceramah panjang mertuanya.
“Iya juga. Kalau dipikir-pikir Mbak Rahma juga salah.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Pojok Diksi :
¹Gembil : tembam (pipi) a Jawa