
Wajah lugu Harsha juga gerak-geriknya membuat Safira dipenuhi kebahagiaan. Putrinya sedang mendapatkan asupan nutris setelah menangis keras karena tidurnya diganggu oleh kembar Ratih dan Ratri. Soalnya Harsha lucu, perkataan Ratih yang terdengar manis ditambah senyum polos tanpa dosa meredam kekesalan Safira yang hampir meluap.
Harsha sudah rewel sejak satu jam sebelum acara. Bayi dua minggu yang biasanya tenang dan hanya menangis saat lapar atau buang air itu entah kenapa tiba-tiba sulit untuk diajak bekerja sama. Sampai-sampai Safira harus menggendong Harsha selama lebih dari setengah jam agar dia tenang saat dipotong rambutnya. Mungkin juga karena ini adalah pertama kalinya rumah Ashqar dan Safira dipenuhi banyak orang.
“Harsha sehat terus, ya.” Safira membelai pipi Harsha ketika bayi itu melenguh di tengah kegiatan menyusunya.
Suara riuh di luar kamar membuat Safira sedikit tidak tenang. Acara aqiqah sudah berakhir lima belas menit yang lalu dan saat ini suami juga anggota keluarganya yang lain sedang beres-beres rumah, mungkin juga dibantu tetangga sekitar. Safira berharap Harsha bisa segera kembali tidur jadi dia bisa membantu yang lain.
Suara pintu kamar yang terbuka mengalihkan perhatian Safira dari wajah Harsha. Suaminya yang masih mengenakan pakaian koko lengkap dengan peci berjalan masuk dengan sebuah nampan di tangan.
“Beres-beresnya udah selesai, Pah?”
“Belum.” Ashqar menaruh nampan di atas nakas lalu duduk di dekat Safira, saling berhadapan. “Harsha kayaknya haus banget.”
Safira membelai pipi Harsha dengan telunjuk. “Habisnya tadi sempet molor, sih. Harsha jadi rewel tadi ya, Nak? Gara-gara Om Rafa, sih.”
Acara yang seharusnya dimulai setelah magrib harus mundur satu jam karena Rafa lupa meminta karyawannya untuk menjemput anak-anak panti asuhan yang sengaja Ashqar dan Safira undang. Dan Harsha yang memang sudah rewel semakin tidak tenang karena suasana rumah yang riuh.
“Gara-gara biang kerok satu itu. Untung aja masih sempat dijemput karyawannya Bapak,” keluh Ashqar. “Ngomong-ngomong, aku sampai lupa kalau kesini tujuannya nganterin kamu makan. Dari tadi siang kamu belum makan, ‘kan?”
Safira menaikan kedua sudut bibirnya mendengar nada suara Ashqar yang penuh perhatian dan rasa khawatir. “Tadi belum sempet, Pah. Kalau Harsha udah kenyang nanti aku pasti makan.”
__ADS_1
“Kamu sering begitu. Bilangnya nanti makan, tapi ujung-ujungnya pasti lupa terus keterusan sampai malem.” Ashqar mengambil mangkuk dari nampan yang dibawanya kemudian kembali ke hadapan Safira.
Untuknya Safira adalah istri yang luar biasa. Ashqar seperti melihat gambaran ibunya dalam diri Safira. Setiap malam terbangun untuk menyusui Harsha, paginya masih menyiapkan keperluan untuknya juga kedua putra mereka dan saat pulang pun rumah sudah terlihat rapih. Jadi, dia ingin lebih membantu istrinya itu.
“Coba buka mulutnya,” pinta Ashqar. Ketika Safira melakukannya, Ashqar memasukan sesendok sup matahari. “Nah! Kalau gini kamu juga bisa makan. Harsha kenyang, Mamahnya juga kenyang.”
Safira berkedip. “E-eh?”
Keterkejutan tergambar jelas di wajah Safira. Wajahnya perlahan terasa panas dan dia tidak sanggup untuk memandang wajah Ashqar saat suaminya itu kembali menyodorkan sendok.
Safira tidak siap menerima perhatian Ashqar yang tiba-tiba, terlebih ada Harsha di tengah-tengah mereka. Harsha yang sedang menyusu membuatnya semakin salah tingkah.
“Kenapa kaget gitu?”
Ashqar terlihat muram. “Maaf,” bisiknya. “Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan kamu.”
“Mas udah cukup perhatian, kok. Maaf, aku nggak bermaksud kasar.” Safira menundukan wajah. Tiba-tiba rasa bersalah menghampirinya. Dia sungguh tidak pernah menganggap Ashqar tidak pengertian, suaminya itu bahkan memperhatikan dan memikirkannya dengan sangat baik.
Ashqar mengulurkan tangan, meraih dagu Safira agar menatapnya. “Terimakasih karena kamu selalu berusaha yang terbaik.”
Safira terhipnotis kemudian terhisap ke dalam obsidian Ashqar yang menatapnya dalam. Dia tahu bahwa selama ini dia telah hanyut di dalamnya. Namun, kali ini berbeda. Ada yang lain yang membuat hatinya hangat lebih dari biasa.
__ADS_1
“Harsha!”
Panggilan nyaring dari arah pintu mengeruhkan suasana di antara Ashqar dan Safira. Keduanya kembali pada kesadaran penuh dan serentak menoleh ke arah pintu. Zain sedang berdiri di sana bersama Alvin yang membekap mulut adiknya itu.
“Jangan teriak-teriak. Nanti Harsha bangun,” bisik Alvin penuh peringatan.
Dengan kasar Zain menyentak tangan Alvin. “Tangan Mas bau sate kambing,” katanya, kemudian menghampiri ranjang. “Harsha. Harsha.”
Safira mendesah lelah. Dia melirik Harsha yang entah sejak kapan melepaskan kulumannya dan jatuh tertidur. “Untung aja nggak bangun dan nangis,” batinnya, membaringkan Harsha di atas kasur kemudian meraih tubuh Zain dalam pangkuannya. “Mas Zain panggilnya pelan-pelan aja, nanti Harsha bangun. Oke?”
Zain mengangguk antusias sambil meraih tangan mungil Harsha. “Oke. Maaf ya, mah?” katanya, menoleh pada Ashqar. Lebih tepatnya pada mangkuk yang Ashqar bawa. “Papah, aaa ….”
Ashqar tersentak dan memandang Zain bingung.
“Papah, Zain minta disuapin.”
Ucapan bernada datar dari Alvin membuat Ashqar menyuapkan sesendok penuh sup yang seharusnya untuk Safira. “Ya, ampun. Mereka ini,” batin Ashqar.
.
.
__ADS_1
.
✄................................................