Gaung Rasa

Gaung Rasa
Adu Mulut


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya Ashqar melirik Safira, yang tertidur di sampingnya, saat istrinya itu melenguh dalam lelap. Dia mengulurkan tangan, menyelipkan rambut Safira yang jatuh menutupi wajah ke belakang telinga.


Melihat wajah damai Safira membuat Ashqar mengulum senyum dalam, teringat bahwa orang yang sama pula yang melayangkan tatapan permusuhan padanya beberapa jam yang lalu.


“Papah kenapa senyum-senyum sendiri?”


Ashqar berkedip, sedikit terkejut dengan pertanyaan Alvin. Menoleh sebentar ke belakang, Ashqar mengerutkan kening. “Alvin nggak ikut tidur?” tanyanya heran.


“Alvin nggak ngantuk,” jawabnya, memalingkan wajah ke jendela.


Hamparan pepohonan rimbun menutupi bukit-bukit, diantaranya ada bagian yang gundul dan Alvin tak tahu kenapa bisa demikian. Namun, ketimbang alasan dibalik gundulnya sebuah bukit, Alvin lebih penasaran dengan hal lain.


“Pah, Alvin boleh tanya sesuatu?”


Ashqar melirik putra pertamanya itu dari spion tengah. Kemudian ia kembali kedepan, pada jalanan yang cukup lengang di Hari Minggu. Mungkin karena yang lainnya menuju Semarang sementara mereka sebaliknya.


“Boleh. Alvin mau tanya apa?”


Alvin menegakan badan, memeriksa apakah Safira benar-benar tertidur atau tidak. Lalu ia juga melirik Zain yang tertidur di sisi pintu lainnya, dipisahkan oleh Harsha yang berada di tengah.


“Uang seratus ribu ... emangnya cukup buat beresin mobil yang rusak, Pah?”


“Hah?” Ashqar memutar otak, menjelaskan secara sederhana tidak akan membuat Alvin merasa puas. Putra pertamanya itu memiliki rasa ingin tahu yang kuat.


Namun, merangkai kejadian satu jam yang lalu pada anak sebelas tahun bukanlah hal mudah. Perlahan Ashqar kembali mengingat perdebatannya dengan Safira, membagi fokus pada kemudi di tangan.

__ADS_1


Begitu Budi meninggalkan kamar Rafa dan Ranee, Safira langsung berdiri, menyilangkan tangan di dada dan menatapnya garang. Sementara Ashqar pun tak ingin kalah, terutama ketika Safira dirasa salah dan cukup keterlaluan.


“Apa? Mas mau bilang aku keterlaluan, ‘kan?”


“Duduk,” ucap Ashqar dengan suaranya yang dalam dan penuh keseriusan.


Tatapan garang Safira meredup, kedua tangannya kembali ke sisi tubuh dan perlahan kembali duduk.


“Kamu itu udah salah masih aja ngotot.”


“Tapi aku nggak salah,” bela Safira. “Apa salahnya menuntut pertanggungjawaban dari orang yang udah bikin kita rugi?”


“Emang, tapi nggak begitu caranya, Fi. Pak Budi mau mengakui kesalahannya dan punya niat baik buat bertanggungjawab aja itu udah cukup, nggak perlu kamu mintai uang.”


Safira menatap Ashqar sinis. “Mas nggak dengar alasan Pak Budi tadi? Dia mau tanggungjawab karena nggak mau manajer hotel tahu dan dia akhirnya dipecat, jadi kalau nggak ada ketakutan bakal dipecat apa Mas yakin dia bakal mau susah payah nungguin di depan pintu dan minta maaf sama kita?”


Safira berdecih. “Darimana Mas tahu dia bukan orang kayak gitu?”


Ashqar menatap Safira lelah. “Sikap skeptismu itu harus disingkirin, Fi. Apapun alasan Pak Budi minta maaf, aku nggak peduli. Tapi paling nggak dia gantle mau mengakui kesalahannya dan bahkan mau bertanggungjawab. Kamu nggak bisa memperlakukan orang lain seperti itu, apalagi setelah kamu tahu kalau jumlah uang di dompetnya cuma segitu. Tapi apa? Kamu tetap ambil uangnya. Gimana kalau uang itu mau digunakan buat hal penting? Gimana kalau uang itu sisa untuk biaya hidupnya dan keluarganya sampai akhir bulan?”


“Gimana kalau semua perkiraan Mas itu salah?” Safira menatap lurus pada manik Ashqar. Dia ingin suaminya lihat betapa tidak senangnya ia dengan semua ucapan Ashqar yang menyudutkannya.


“Mas nggak bisa menilai seberapa banyak uang seseorang hanya dari penampilan dan pekerjaan. Terus Pak Budi mau bertanggungjawab jadi udah semestinya kita menghormati dia dan menjaga harga dirinya. Lagipula, apa Mas pikir mobil itu turun dari langit?”


Tentu tidak. Ashqar masih ingat jika ia juga sempat beradu pendapat dengan Safira perihal pembelian mobil. Ashqar menginginkan mobil yang lebih besar dan tentu harganya lebih tinggi, sementara Safira sebaliknya.

__ADS_1


“Kita punya lebih dari cukup kalau cuma urusan memperbaiki mobil dibandingkan dengan Pak Budi.” Suara Ashqar melembut.


“Jadi intinya Mas mau bilang kalau aku kejam, gitu?”


“Bukan gitu, Yang.”


“Terus apa?” Netra Safira bergetar. Entah bagaimana ia merasa sensitif kali ini dengan perkataan Ashqar, padahal biasanya ia “Kalau aku tega, aku bakal minta ganti rugi sesuai sama jumlah yang Mas sebutin.”


“Fi, bukan itu maksudnya, tapi ....” Mimik wajah Safira yang sendu menghentikan Ashqar untuk melanjutkan kalimat.


“Mas, kita beli mobil itu dengan banyak pertimbangan. Bahkan mobil lama Mas dijual dan ditambahin sama tabungan kita buat beli mobil itu. Meskipun bukan barang baru, tapi mobil itu kita beli pakai uang yang nggak sedikit. Mungkin bener pekerjaan Mas menghasilkan uang lebih banyak dari Pak Budi, tapi bukan berarti pekerjaan Mas ringan, ‘kan? Semakin besar penghasilan, semakin besar tanggungjawab dipekerjaan itu. Jadi atas dasar apa Mas melarang aku buat mengambil hakku atas kerja keras suamiku sendiri?”


Masih terbayang jelas di benak Ashqar bagaimana raut sedih Safira yang beranjak ke luar kamar setelah melontarkan rentetan kalimat itu. Meninggalkannya sendirian di president room yang lebih dulu ditinggalkan oleh si empunya bersama Alvin.


“Pah?”


Panggilan Alvin mengembalikan Ashqar dari lamunannya. Dia kembali melirik Alvin dari spion tengah dan menangkap visualnya yang juga menatap Ashqar dengan rasa ingin tahu.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2