Gaung Rasa

Gaung Rasa
Kebenaran Yang Sesungguhnya


__ADS_3

“Bagaimana kalau yang membunuh ibu sebenarnya bukan Pakde Teguh?”


“Apa maksud kamu, Rafa?”


Ashqar tersentak dan tanpa sadar keluar dari persembunyian, menghadap kearah Edi dan Rafa yang masih bersitegang. Dihadapannya punggung Edi berdiri tegak menutupi setengah tubuh Rafa, menyisakan satu netra yang terlihat tajam dan dingin menatap pada Edi.


Hingga saat Rafa berkedip, Ashqar menyadari kesalahannya dan segera kembali bersembunyi. Dia berharap bahwa Rafa tidak benar-benar menyadari kehadirannya.


Sementara itu, Rafa menoleh ke belakang Edi, tapi tak menemukan siapapun disana. Padahal ia yakin melihat seseorang melalui ujung matanya. Rafa menaikan bahu, dengan cepat mengabaikan hal itu.


“Pembunuh ibu bukanlah Pakde Teguh.” Rafa mengulang ucapannya. “Dia disaat dan ditempat yang tidak tepat saat itu.”


Edi menggeleng keras dan mundur beberapa langkah. “Jangan main-main,” kata Edi gamang. “Semua bukti menunjuk Mas Teguh sebagai pembunuh ibumu. Nggak ada yang bisa disalahkan selain dia.


“Tapi apa motifnya?” todong Rafa. Dan sebelum Edi berhasil menyela, Rafa berkata, “Pertengkaran kalian? Seberapa besar dan apa yang sebenarnya kalian ributkan? Selama ini aku nggak pernah dengar detailnya dari bapak.”


“Kamu masih kecil saat persidangan itu. Mas Teguh sendiri mengakui di persidangan bahwa dia pembunuh ibumu dan motifnya adalah sakit hati. Memang benar dia tidak bermaksud membunuh ibumu karena target sebenarnya adalah bapak, tapi apa hasil akhirnya? Yang akhirnya menjadi korban adalah ibumu sendiri. Jadi berhenti mengatakan hal-hal yang tak masuk akal.”


“Aku punya bukti dari kejadian hari itu meskipun bukti-bukti penting udah nggak bisa ditemukan dan ada kemungkinan sengaja dihilangkan supaya hanya mengarah pada Pakde teguh.”

__ADS_1


Ashqar kembali mengintip. Rasa penasaran dan ketidakpercayaan menggerogoti kesabarannya, tapi ia harus menahan diri jika ingin mendengar lebih banyak informasi yang tentu saja tidak akan mudah ia dapatkan jika bertanya langsung pada Rafa atau Edi.


Dia melihat Rafa menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Edi yang duduk lemas sambil memandangi benda ditangannya. Ayah mertuanya tampak tak yakin saat membua amplop itu. Namun, ekspresi Edi berubah, terkejut saat menarik selembar kertas yang tak bisa Ashqar tebak apa itu dan ia semakin penasaran.


“Darimana kamu mendapatkan ini?”


“Dari rumah lama kita.”


Dengan cepat Edi mengeluarkan isi amplop, menumpahkannya di atas meja. Ashqar tak yakin, tapi ia bisa melihat beberapa kertas yang sudah usang.


Edi mengambil satu, membacanya lalu kembali mengambil satu lagi. Begitu seterusnya sampai tiga kali. Kemudian setelahnya, Edi menatap Rafa dengan pandangan tak percaya. “Kamu ... selama ini, sejak kapan kamu menyelidiki hal ini?”


“Sejak lama.” Rafa duduk tak jauh dari Edi. “Tapi belum lama ini aku mengetahui bahwa pengirim surat-surat itu adalah Pakde Teguh dan bukannya Om Eko, surat-surat yang nggak pernah ibu balas.”


“Itu hanya sedikit dari bukti yang berhasil aku kumpulkan. Semua bukti memang terkesan mengarah pada Pakde Teguh, tapi aku merasa sebenarnya nggak begitu. Seakan-akan semuanya sudah diatur supaya pelaku aslinya lolos,” lanjut Rafa. “Yang jelas, Pakde Teguh bukan pembunuh ibu dan siapa penjahat sesungguhnya ... meski nggak ada bukti kuat, tapi aku yakin bapak bisa menduganya.”


Ashqar semakin menarik diri lebih jauh saat mendengar langkah kaki kian mendekat. Dia menduga itu adalah Rafa karena suasana menjadi begitu hening setelah pria itu berbicara.


Diliputi rasa cemas karena takut tertangkap basah, Ashqar berpikir untuk melarikan diri. Dia menoleh ke segala arah, memastikan lagi bahwa tak ada orang di sekitarnya. Namun, langkah keras menahan pergerakan Ashqar.

__ADS_1


Kaki kanan Ashqar terangkat di udara dan membatu di tempat. Takut-takut ia melirik ke samping dan betapa terkejutnya Ashqar mendapati Rafa berdiri disana, diam dan menatap lurus kedepan.


“Dasar nggak sopan,” kata Rafa singkat lalu melenggang pergi.


Ashqar terhuyung ke belakang sambil menghembuskan napas kasar. Karena begitu terkejutnya Ashqar sampai tak sadar telah menahan napas. Dia kemudian bersandar pada dinding, menekan dada dan mengatur napas. Ashqar sangat berharap jika Rafa tidak mengenali dirinya karena ia sudah menjauhkan diri dari pintu yang mengarah ke halaman belakang, apalagi Rafa tak melirik kearahnya tadi. Ya, tak ada salahnya berharap meski hati kecilnya berkata yang sebaliknya.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Yang bingung silahkan merapat 🤭


Yep! Bener banget, 2 bab sebelumnya, bab ini dan mungkin bab selanjutnya bakal bahas masa lalu yang masih belum keliatan hilalnya.

__ADS_1


Kalau kalian inget, di Ansu dibahas tentang sejarah kenapa Safira dipisahin dari bapak dan kakaknya dan kenapa Eyang Suprapti benci sama Safira, ya inilah alasannya. Sekedar mengingatkan, Suprapti punya 2 anak. Teguh atau Hendra sama Eko, Teguh anak pertama yang nggak diakui Keluarga Sumarno dan Eko anak kesayangan Suprapti.


Intinya cerita masa lalu Safira bakal tutup buku. Ok, see u on next chapter~


__ADS_2