Gaung Rasa

Gaung Rasa
Berubah-Ubah


__ADS_3

Safira berdesis kemudian melenguh ketika kram perut tiba-tiba menyerangnya. Dengan eggan ia membuka perlahan kelopak mata sambil berusaha untuk menggerakan tubuhnya yang terasa kaku.


“Kamu nggak apa-apa, Fi?”


Safira tidak punya tenaga untuk merespon pertanyaan Ashqar, kesadarannya masih dalam proses isi ulang. Dibantu Ashqar, dia memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan. Seketika nyeri dan panas merajam setiap sendi di panggulnya, membuat Safira sedikit menggigit bibir.


“Kram? Atau adik menendang?” tanya Ashqar, mengusap panggul Safira.


“Kram.” Netra segaris Safira melirik Ashqar, meskipun tidak ada yang bisa ia lihat dalam keadaan kamar yang remang. “Maaf bikin Mas jadi bangun.”


“Nggak, aku belum tidur,” ucap Ashqar, menyalakan lampu utama. “Aku ambilin air hangat, mau?”


Safira menggeleng. Kedua kelopak matanya kembali terpejam, menikmati nyeri yang berangsur-angsur berkurang. Beruntung usapan Ashqar di panggulnya selalu bisa jadi obat mujarab.


“Udah enakan, Mas.” Safira menghentikan gerakan tangan Ashqar, kemudian merubah posisinya kembali agar dapat menatap wajah suaminya. “Kok, Mas belum tidur?” tanyanya, mengulurkan tangan dan meraih sisi wajah Ashqar.


Tiba-tiba saja Safira merasa terenyuh kala menatap wajah lelah Ashqar. Dia teringat beberapa bulan terakhir, sejak kehamilan yang semakin tua, jam tidur Ashqar menjadi berantakan dan pekerjaannya semakin menumpuk karena harus menemaninya begadang.


Safira menyentuh kelopak mata Ashqar hati-hati kemudian beralih pada kantung matanya yang sedikit hitam. Dia memiliki suami yang sungguh luar biasa pengertian. Entah berapa banyak wanita yang beruntung seperti dirinya, mungkin hanya sedikit dari yang bisa Safira perkirakan.


“Aku baru selesai mengecek pembukuan. Ada apa? Apa kamu mau sesuatu?” tanya Ashqar, meraih tangan Safira yang berada di wajahnya untuk ia kecup.


Safira menggeleng. “Maaf aku sering ngajak Mas begadang tiap malam.”


Mendengar nada sendu Safira membuat Ashqar mengernyitkan dahi. Namun, setelahnya dia mendaratkan kecupan dalam di pipi kanan Safira. “Ibu hamil ini emang paling susah ditebak suasana hatinya,” katanya, menatap lurus pada mata Safira.


Ashqar kemudian menyimpan ponselnya ke atas nakas lalu berbaring sambil mengusap perut Safira. Dari telapak tangannya dia bisa merasakan bayi mungil mereka bergerak lincah.

__ADS_1


Keheningan menyelimuti keduanya dalam hangat yang menentramkan, dengan diiringi harmoni tengah malam juga hembusan halus napas Safira.


Ashqar melirik Safira. Istrinya sudah tertidur sepolos bayi, dadanya naik-turun dengan irama pelan yang membuat hatinya ngilu. Safira yang mandiri adalah sosok yang sangat Ashqar kagumi, sementara Safira yang manja dan sensitif adalah pribadi yang membuat Ashqar semakin jatuh cinta juga kelimpungan.


Ingatan tentang permintaan Nita membuatnya merasa bimbang, dia takut kalau Safira berpikiran buruk tentang hal itu. Istirnya yang memang pada dasarnya mudah menyimpulkan sesuatu semakin menjadi-jadi sejak kehamilannya memasuki usia tua, Dan Ashqar tidak ingin mengambil resiko dengan suasana hati Safira yang sulit ia tebak.


“Kalau Mas ngelirik aku terus, lama-lama matanya bisa juling.”


Ashqar tersentak. “Kamu belum tidur?”


“Hampir.” Safira membuka kelopak matanya kemudian berusaha untuk bangkit dari berbaring dengan bantuan Ashqar. “Aku merasa ada yang merhatiin dari tadi makanya jadi nggak bisa tidur.”


Ashqar terdiam, mengambil duduk berhadapan dengan Safira. Sambil memijat kaki istrinya, dia menyusun kalimat yang tepat untuk memberitahukan tentang Nita.


“Ada apa, Mas?” tanya Safira saat Ashqar hanya terdiam.


“Kenapa?” tanya Safira, tanpa sadar menaikan nada suaranya. “Dua hari yang lalu dia bilang bisa, kok. Terus kenapa juga Mbak Nita harus telefon Mas? Biasanya, ‘kan, dia telefon aku?”


Respon Safira hampir seperti yang Ashqar perkirakan, tetapi dia tetap saja merasa terkejut. Setelah mengatur napas, Ashqar mengambil sebelah tangan Safira untuk dia genggam.


“Kayaknya jadwal dia padat, tadi saat telefon dia juga seperti sedang bersiap-siap buat pergi ke luar kota. Terus kalau masalah kenapa Nita menelefon aku, itu karena … dia menyampaikan bahwa manajemennya meminta dia buat merahasiakan statusnya juga Zain.”


“Ke … napa?”


“Nita sekarang sedang naik daun, mungkin manajemennya berpikir bahwa status dia akan mempengaruhi citra dan popularitasnya saat ini,” terang Ashqar, menatap lurus manik Safira. “Nita menelefon aku karena dia nggak mau kamu kepikiran dan khawatir makanya dia minta aku yang menyampaikan.”


Safira merengut, menepis tangan Ashqar dan melipatnya di dada. “Terus kalau dia minta mas yang bilang, emang aku nggak kepikiran apa?”

__ADS_1


Ashqar menahan diri untuk tersenyum. Namun, ekspresi Safira yang terlihat menggemaskan menggodanya habis-habisan. Sambil melirik lampu tidur, Ashqar berdeham. “Tapi senggaknya kamu nggak panik atau mikirin hal ini berlebihan. Untuk aku sendiri yang terpenting Zain aman dari efek popularitasnya Nita buat aku itu nggak masalah. Menurutmu bagaimana, Fi?”


“Mas benar, yang terpenting Zain.” Safira dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Sambil terus membenarkan ucapan Ashqar, dia menyusun beberapa bantal di sekelilingnya. Membuat sarang, begitu menurut Ashqar. “Ya udah, nanti aku buat jadwal baru lagi kalau Mbak Nita udah nggak sibuk.”


“Kamu nggak marah?”


Safira mengerutkan kening. “Marah kenapa?”


“Nita telefon aku.”


Kerutan di kening Safira semakin dalam. Namun, hal itu tidak menghentikannya dari membuat sarang yang nyaman. “Aku nggak cemburu, kalau itu yang Mas khawatirkan. Memang udah seharusnya hal yang menyangkut Zain, Mbak Nita bicarakan lebih dulu sama Mas. Zain, ‘kan, darah daging kalian,” terangnya, perlahan-lahan kembali berbaring di atas ranjang. “Yah … selama nggak neko-neko aja, sih.”


Ashqar menatap Safira dengan degup menyenangkan yang membuncah. Sudut bibirnya melengkung tinggi mendengar ucapan Safira, dadanya terasa hangat. Safira bisa saja sesekali memujinya sebagai suami pengertian hanya karena dia menjalankan tugas sebagai suami siaga, tetapi Ashqar merasa justru sebaliknya. Istrinya itu memiliki pengertian dan kelapangan hati luar.


“Love you, Sayang.” Ashqar mengecup kening Safira kemudian ikut berbaring di sampingnya, mengabaikan tatapan bingung yang Safira lemparkan.


.


.


.


✄................................................


Chapter terakhir hari ini 😌


Terimaksih untuk dukungannya gaes 🤗🖤

__ADS_1


__ADS_2