
“Pah, Zain kemana?”
“Zain? Zain a … da, kok.” Ashqar berubah pias. “Loh? Zain kemana?” tanya Ashqar heboh.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa ketidak beradaan Zain bukan hanya ilusinya saja. Kemudian saat Ashqar menyadari situasi yang terjadi, dia dengan cepat menahan pintu lift yang hampir tertutup lalu menarik Alvin keluar bersamanya. Ashqar tidak boleh membiarkan dirinya menghadapi dua masalah secara bersamaan.
“Mas Alvin tahu nggak Zain kemana?” tanya Ashqar begitu mereka menjauh dari lift, agak di sudut ruangan dekat pintu ruang rapat pegawai hotel.
“Nggak tahu. Kalau Alvin tahu, Alvin nggak akan tanya sama papah tadi.”
Ashqar seketika panik. Sementara Alvin tetap kalem seperti biasanya. Berulang kali Ashqar melontarkan pertanyaan yang sama, lirih dan hanya bisa didengar olehnya. Dimana keberadaan Zain saat ini?
Tanpa banyak bicara Ashqar menggandeng tangan Alvin, melangkah perlahan menyusuri rute yang mereka ambil.
“Alvin coba dilihat sama diperhatikan sekeliling, ya. Siapa tahu Zain ada disekitar sini,” ucapnya, mengawasi orang-orang yang berada di lobi hotel terutama anak-anak.
Alvin berjalan lebih pelan. Namun, bukan karena melakukan apa yang Ashqar minta, melainkan karena ia takut mangkok pudding di tangannya tergelincir. “Papah nggak usah khawatir. Zain pasti baik-baik aja, kok.”
“Gimana papah nggak khawatir. Tadi Zain masih di samping papah, tapi tiba-tiba aja anak itu udah nggak ada,” sembur Ashqar.
__ADS_1
Dia hampir meraih pundak seorang anak kecil dengan jas dan perawakan yang mirip dengan Zain, sampai anak itu berbalik dan berlari ke arah orang tuanya, Ashqar baru menyadari kekeliruannya.
Ashqar beristigfar dengan suara lirih. “Aku pikir itu Zain,” batinnya, meneruskan langkah.
Kemudian ia terpikirkan kemungkinan dimana Zain berada. Kolam renang. Satu-satunya tempat di hotel ini yang ingin anak itu kunjungi dan sangat ngotot beberapa saat lalu. Hanya saja Ashqar berharap jika anaknya itu benar-benar ada disana, karena dengan begitu ia tidak harus memikirkan tempat-tempat lain yang mungkin Zain kunjungi. Atau memikirkan kemungkinan-kemungkinan tidak mengenakan jika Zain sampai berada di tempat yang berbahaya.
Memikirkan hal itu membuat pikiran Ashqar semakin carut-marut hingga tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya dan mempercepat langkah. Sampai pertanyaan Alvin sukses membuat pria tiga anak tersebut menghentikan langkah dan tertegun di tempat.
“Kalau aku yang hilang, apa Papah juga khawatir?”
“Pasti!” jawab Ashqar mantap, setelah beberapa saat dan tanpa memandang wajah Alvin.
“Papah nggak suka Mas Alvin tanya kayak gitu. Papah udah sering bilang kalau Mas Alvin jangan sampai berkecil hati. Alvin, Zain sama Harsha itu anak-anak papah dan Mamah, kalau kalian kenapa-napa kami pasti khawatir.”
“Maaf, Pah.”
“Janji ini yang terakhir kali, dan jangan tanya hal-hal kayak gitu ke Mamah atau nanti Mamah bisa sedih. Oke?”
Untuk kesekian kalinya, Ashqar meyakinkan hal yang sama pada Alvin, bahwa anak itu tidak perlu merasa khawatir atau rendah diri. Meski Dokter Andre sudah memperingatinya jika Alvin bisa saja merasa cemas tanpa dirinya sendiri sadar dan memintanya juga Safira untuk menjelaskan posisi Alvin bagi mereka, tapi rasanya tetap menyakitkan mendengar pertanyaan anak itu.
__ADS_1
“Oke. Aku minta maaf, Pah.” Alvin menjatuhkan diri pada lengan terbuka Ashqar.
Anak sebelas tahun itu tidak begitu mengerti mengapa papahnya merasa tidak suka dengan pertanyaan yang ia ajukan. Padahal dalam benak kecilnya, Alvin hanya penasaran bagaimana jika saat ini dirinya lah yang hilang. Apakah papahnya itu akan sama khawatirnya seperti sekarang, atau justru sebaliknya.
“Ashqar? Alvin? Kalian ngapain disini?”
Sebuah suara familiar menyela momen Ashqar dan Alvin. Keduanya seketika menoleh pada sumber suara.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Buat yang belum tahu, kemarin malem aku kasih pengumuman di feed instagram kalau Gaung Rasa bakal update dua hari sekali.
__ADS_1