Gaung Rasa

Gaung Rasa
Cemburu


__ADS_3

Safira terpaku. Mengabaikan nyeri di bagian selatannya, dia sedikit mencondongkan tubuh lebih dekat dengan Zain.


“Kok, Mas Zain bilang gitu?” tanya Safira, suaranya hampir tercekat di tenggorokan. “Harsha masih kecil, belum bisa mandiri kayak Mas Zain makanya mamah bantu.”


Zain memandang Safira dengan muram. “Tapi Zain juga masih kecil. Kenapa Mamah nggak bantu?”


“Bukannya mamah nggak bantu, Sayang. Tadi Harsha nangis, mamah harus kasih susu buat Harsha.” Safira bersimpuh saat rasa nyeri perlahan mengganggunya. “Mas Zain bisa ngerti, ‘kan? Harsha masih kecil, belum bisa apa-apa selain nangis.”


“Harsha cengeng. Zain juga mau Mamah bantu Zain, bukan Harsha terus.”


Safira tampak agak pucat. Dia kehilangan kata-kata untuk menjelaskan pada Zain bahwa dia tidak bermaksud untuk mengabaikan putranya itu. Namun, Zain adalah anak lima tahun yang masih terbatas pemahamannya dan dia juga sama terbatasnya.


Menyadari keadaan semakin buruk jika ia terus mencoba menjelaskan, Safira terdiam sambil mengatur napas. Zain mungkin akan benar-benar membenci Harsha jika ia terus memberi alasan. Satu-satunya yang bisa Safira lakukan saat ini adalah mengalah dan berharap jika Zain akan bersikap seperti biasanya.


“Mamah minta maaf. Ayo, sekarang mamah bantu buat cari pensil warnanya,” bujuk Safira, mengulurkan kedua tangan hendak meraih lengan Zain. Namun, Zain dengan cepat menghindar.


“Nggak mau!” serunya, mundur dua langkah hingga membuat Safira hampir tersungkur.

__ADS_1


Sambil menopang sebagian berat tubuhnya di telapak tangan, Safira menatap Zain nanar. Perasaannya terluka dan amarah perlahan menghampiri Safira seperti serigala berbulu domba.


Safira memejamkan mata dan sekali lagi mengatur napas, begitu kelopak matanya terbuka dia sadar tengah berhadapan dengan siapa. Zain adalah putranya dan tidak seharusnya dia melampiaskan kemarahan meskipun tingkah Zain saat ini hampir mendobrak batas kesabaran.


Safira menggigit sedikit bibir bagian dalamnya lalu tersenyum tipis. “Mamah minta maaf. Mamah nggak bermaksud buat nggak mau bantuin Zain.” Safira perlahan menegakan tubuh dan duduk bersimpuh, manik matanya menatap lurus pada wajah Zain yang mendung. “Sekarang mamah bantuin Zain baut cari pensil warna, ya?”


Zain hanya diam dan hal itu membuat Safira cemas. Biasanya Zain akan luluh jika ia memeluknya atau mengusap kepalanya saat sedang merajuk seperti ini. Jadi dengan hati-hati Safira mendekatkan diri, membuka kedua lengannya dan siap membawa Zain ke dalam pelukan.


“Nggak mau!” Zain refleks mendorong tubuh Safira hingga jatuh terduduk. “Zain nggak suka Harsha! Harsha dibuang aja!”


“Zain!” bentak Alvin, menghampiri Safira. “Mamah nggak apa-apa?”


“Kok, kamu dorong Mamah?” serunya pada Zain yang terlihat ketakutan. “Kamu tahu dosa nggak?”


“Zain nggak sengaja?” cicit Zain, menundukan kepala.


“Mas bakal bilangin ke Papah kalau kamu dorong Mamah, biar kamu dihukum.”

__ADS_1


“Zain nggak sengaja.” Zain memandang Alvin dengan mata berkaca-kaca. Namun, Alvin tidak membatalkan niatnya. “Mas Alvin nakal!”


Setelahnya Zain pergi begitu saja dari hadapan Alvin dan Safira meninggalkan kamar dengan membanting pintu. Suara yang keras itu pada akhirnya kembali membangunkan Harsha yang baru saja terlelap. Bayi usia seminggu itu kembali menangis kencang.


Dan bukan hanya Harsha yang terkejut, tapi juga dengan Alvin dan Safira. Keduanya menatap tak percaya ke arah pintu yang menelan keberadaan Zain.


“Mamah nggak apa-apa?” tanya Alvin sekali lagi.


“Nggak apa-apa.” Safira melirik Harsha lewat bahunya. “Alvin, mamah minta tolong—”


“Alvin tahu,” potong Alvin. “Mamah jangan khawatir nanti Alvin bujuk Zain buat minta maaf.”


Safira menatap bingung Alvin yang berjalan ke luar kamar, sebenarnya bukan itu yang Safira ingin minta. Namun, perhatian Safira teralihkan oleh tangis Harsha yang harus segera diatasi.


.


.

__ADS_1


.


✄................................................


__ADS_2