Gaung Rasa

Gaung Rasa
Menyesal


__ADS_3

Hi!


Maaf sebelumnya karena aku kasih note diawal bab. Aku sadar ternyata banyak yang bingung di bab kemaren, Side Story 2. Bab itu sebenernya ekstra chapter yang aku selipin di tengah cerita, tapi kayaknya banyak yang bingung sama alurnya. Jadi judulnya bakal aku ubah dan aku taroh ekstra chapter kalau cerita ini udah tamat aja.


Dan buat alur cerita, memang lambat dan aku udah kasih note dibab jauh sebelum ini. Jadi kembali ke kalian yang membaca, putus atau terus 🤭 Sekian. Terimakasih dan selamat membaca (◍•ᴗ•◍)


﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏


“Kamu ngapain disitu? Cepat masuk!” titah Roby, pria tambun dari kursi samping kemudi.


Danu terpaku di tempat, jemarinya bertaut gelisah. Dia masih bingung dan ketakutan, tak pernah diseumur hidupnya ia menyaksikan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri.


“Pak, maaf. Bisa Pak Roby aja nggak yang nyetir?”


“Hah? Yang bener aja, Dan. Kamu nyuruh saya jadi sopir kamu?”


Danu menelan ludah sambil mengangkat kedua tangannya yang bergetar hebat setinggi wajah. “Maaf, Pak. Tapi saya nggak bisa nyetir sekarang.”


Roby mendengus. “Dasar, sialan,” maki Roby, langsung berpindah posisi.


Meski sungkan, Danu berusaha menyamankan diri di kursi penumpang. Namun, bagaimanapun ia mencoba menenangkan diri, bayangan Roby yang bertindak anarkis terus terbayang di benaknya. Satu dari banyak hal yang membuat Danu ketakutan adalah jika ia sampai terseret dalam hal ini dan berakhir masuk bui.


Danu menggelengkan kepala, menatap visual hotel tempat mereka menginap dari sepion mobil. Mobil sewaan dengan plat B itu melaju semakin cepat menuju jalan tol. Dia tidak ingin jika masa magangnya ini bukan berakhir dengan menjadi karyawan tetap, tapi menjadi seorang tahanan.

__ADS_1


“Dan, laporan pengamatan kamu gimana? Udah dikirim ke kantor, ‘kan?”


Danu terperanjat. Mentalnya yang masih terguncang tak siap menerima tekanan lain saat ini dan itu membuatnya hanya berdengung tanpa satu patah katapun yang terucap.


“A! Eu! A! Eu!” seru Roby jengkel. “Kamu itu kenapa? Takut? Baru begini aja udah ngeper kamu.”


“Sa-saya takut dilaporin ke polisi, Pak.”


Roby tertawa congak mendengar cicitan Danu dengan suara bergetar. “Mereka nggak akan sempat bikin laporan ke kantor polisi. Karena saat mereka bangun besok pagi, mereka bakal sibuk bersembunyi dari orang-orang yang mereka kenal karena semua orang akan tahu wajah mereka dan gosip tentang Nita bakal lebih besar dari sebelumnya.”


“Lebih besar, Pak? Tapi ....”


“Hush! Udah diem aja.” Roby mengibaskan tangan kirinya. “Pokoknya kamu nggak usah khawatir, saya tanggungjawab. Terus, ingat! Masalah ini nggak boleh sampai ada yang tahu, paham?”


Ketakutan kini semakin menekan Danu. Dia bahkan sudah berpikir untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru. Itu terasa lebih lebih baik daripada harus terus dibawah tekanan Roby yang temperamental.


Danu sendiri sudah mendengar desas-desus Roby sejak ia pertama kali bekerja sebagai karyawan magang. Pria tambun itu sering membuat anggota tim terutama karyawan baru merasa tidak betah dengan tempramen dan cara kerjanya yang sembrono.


Danu bahkan sempat mendengar bahwa Roby pernah melakukan beberapa hal yang diluar batas untuk sebuah berita artis. Dan kini ia menyesal karena tak mengindahkan peringatan rekan kerjanya yang lebih senior untuk lebih berhati-hati.


◍◍◍


Kursi tunggu di luar ruangan UGD terasa dingin, ditambah hujan masih rintik-rintik dan Ashqar sudah kehilangan selera makan membuat tubuhnya gemetar menahan lapar sekaligus kedinginan.

__ADS_1


Ashqar menyisir rambut dengan jarinya kemudian ia remas helaian rambutnya yang sudah lepek akibat keringat dan air hujan yang bercampur. Wajahnya yang tertunduk menyembunyikan kekecewaan dan kemarahan. Bukan hanya pada orang-orang yang bertanggungjawab atas keadaan istrinya saat ini, tapi juga pada dirinya sendiri yang lalai sebagai seorang suami.


Ada alasan mengapa ia pergi begitu lama hanya untuk membeli makan siang. Alasan bodoh yang membuatnya abai untuk segera pulang; mengobrol dengan teman yang sudah lama tidak bertemu.


Tepat setelah Ashqar memesan makan siang, seorang teman lama menghampirinya. Jadilah mereka mengobrol ini-itu. Keadaan warung makan memang sedang ramai, bangku-bangku panjang diisi penuh oleh karyawan pabrik, pegawai swasta bahkan negeri. Dan karena hal itulah Ashqar sangat santai melanjutkan obrolannya.


Dan setelah pesanannya selesai, karena hujan sangat deras, Ashqar memilih berteduh di warung bahkan saat ia menggunakan mobil. Tak lain karena obrolannya sedang seru.


“Mas Ashqar, diminum dulu.”


Ashqar menaikan wajah. Sebotol air berkarbonasi ada di hadapannya. Pandangannya terus naik, ke arah tangan berkulit coklat kemudian pada wajah paruh baya yang sudah mulai berkeriput.


“Makasih, Pak Hendra,” katanya lirih, meraih botol yang disodorkan ke arahnya.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2