
Ashqar menatap lurus pada manik Safira dan melihat pantulan wajahnya disana. Tatapan istrinya begitu tulus meski ada lapisan tipis yang ia tebak adalah air mata yang ditahan. Lalu dengan perasaan bersalah sekaligus lega, Ashqar menarik Safira kedalam pelukannya.
“Maaf. Maaf. Aku terlalu ingin masalah ini cepat berlalu, aku ingin Zain bisa memahami keinginan kita. Tapi melihat reaksinya tadi, aku jadi bingung sendiri. Aku nggak tahu bagimana lagi menghadapai situasi-situasi tak terduga seperti ini.” Ashqar melepaskan pelukannya lalu mencium kening Safira lama. “Makasih udah mengingatkan aku, Sayang,” bisik Ashqar di depan wajah Safira.
Safira mengangguk halus. “Sama-sama. Itu udah jadi kewajiban aku buat mendukung dan mengingatkan mas disaat-saat seperti ini. Ngomong-ngomong, aku kepikiran buat ngobrol sama Mbak Rahma besok tentang hal ini. Menurut mas gimana?”
Ashqar terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna saran Safira, tetapi otak cerdas kebanggannya enggan diajak bekerja sama.
“Aku pikirin dulu, ya.”
“Ada apa, mas?”
Ashqar menggeleng. “Nggak apa-apa. Cuma sekarang mas nggak bisa berpikir jernih. Mas mau keluar sebentar.”
Safira bergumam sebagai jawaban, pandangannya mengikuti pergerakan Ashqar yang beranjak dari kamar dan menghilang di balik pintu yang sudah tertutup. Dia sebenarnya menginginkan jawaban pasti saat ini juga, tapi sepertinya Safira harus menunggu untuk itu. Jadi lebih baik ia menyusul Zain sementara Harhsa masih terlelap sebelum putri kecilnya itu menangis karena lapar atau buang air.
✿✿✿
Ashqar mendapatkan setengah dari kesadaran saat sesuatu menyelimuti setengah tubuhnya. Dengan perasaan enggan Ashqar membuka kelopak mata, terasa berat dan penuh penolakan. Samar-samar ia melihat bayangan buram dari visual anak kecil.
“Alvin?” panggilnya, mengerjap beberapa kali. Kemudian setelah Ashqar berhasil menyesuaikan diri, ia perlahan duduk dan membuat selimut turun di pangkuan. “Mas Alvin udah bangun?”
Alvin yang sudah beringsut mundur sejak Ashqar memanggil namanya mendekat kembali dan berdiri di depan sang ayah. “Alvin ngelilir, pah.”
Ashqar melirik jam di dinding, pukul 03.15 menit dini hari. Rupanya ia tertidur di sofa dan tidak kembali ke kamar setelah merenung beberapa saat, bahkan Ashqar tak ingat sama sekali apa hasil dari renungannya.
Ashqar mengusap wajah dan menatap Alvin dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, lalu ia menepuk sisi kosong dari sofa yang ditempatinya. “Duduk sini, mas.”
__ADS_1
Alvin tanpa berkata apapun langsung mengambil tempat di sisi Ashqar.
“Mas Alvin yang kasih papah selimut?” tanya Ashqar yang dijawab anggukan halus oleh Alvin. Sambil mengusap puncak kepala Alvin, Ashqar melanjutkan, “Makasih, ya. Sekarang Mas Alvin bisa balik ke kamar dan tidur lagi.”
“Terus papah? Nggak masuk ke kamar?”
“Papah juga nanti balik ke kamar.”
Alvin mengangguk, tapi anak itu tak kunjung beranjak dan membuat Ashqar kebingungan. Apalagi saat Ashqar bertanya apa yang membuat anaknya itu menahan diri untuk kembali ke kamar dan tak mendapatkan jawaban melainkan kebisuan Alvin, itu membuat Ashqar semakin bingung. Seakan-akan ada hal lain yang mengganggu putranya, tapi tak bisa disampaikan.
“Ada apa, Jagoan? Apa ada yang mau Alvin kasih tahu ke papah?” pancing Ashqar.
Alvin menatap Ashqar lamat. “Papah baik-baik aja?” tanyanya, yang dijawab lembut oleh Ashqar. “Terus kenapa papah tidur di luar? Apa papah sama mamah lagi marahan?”
Diam-diam Ashqar meringis. Berkat perdebatannya dengan Safira beberapa bulan lalu perkara model baju, ia diberi punggung dingin. Sehebat apapun seorang laki-laki, lebih dari 90% tidak akan mengerti soal mode pakaian wanita dan itu termasuk dirinya.
Akan tetapi, Safira masih tak merasa senang. Sementara Ashqar tidak tahu harus begaimana meyakinkan. Pertama, Ashqar memang tidak ingin pusing-pusing memilih kalau pada akhirnya pilihannya tidak dipakai atau kemungkinan terburuk ia akan disalahkan kalau pakaian itu dirasa tidak cocok oleh Safira. Kedua, Ashqar selalu merasa bahwa ia adalah suami yang pengertian.
Dia tahu terkadang saat wanita meminta prianya untuk memilih satu diantara dua pilihan barang itu artinya wanita itu ingin dibelikan keduanya. Meskipun itu tak selalu benar. Maka hasilnya adalah Ashqar dihadiahi punggung Safira. Dan bagaimana Alvin bisa melontarkan pertanyaan itu, karena setelahnya Ashqar memilih keluar kamar dengan membawa selimut.
Bukan untuk ikut memerangi Safira, tapi karena Ashqar ingin memberi ruang dan waktu bagi istrinya untuk tenang dari kesal dengan meninggalkannya ke ruang keluarga. Hanya saja, sayangnya Alvin memergokinya menonton televisi sambil menggunakan selimut dan memberikan asumsi pada anak itu bahwa ia dan Safira sedang bertengkar.
“Papah sama mamah nggak lagi marahan.” Ashqar mengacak surai Alvin. “Tadi waktu papah mau tidur, mamah sama Zain udah tidur pules. Karena papah takut ganggu mereka jadi papah pilih tidur di sini.”
Alvin masih menatapnya lamat dan Ashqar tidak tahu apa yang sedang putranya itu pikirkan. Namun, saat Alvin bergumam pelan sambil mengangguk, entah kenapa ia merasa lega.
“Alvin mau balik ke kamar ya, pah?”
__ADS_1
“Iya, Nak.”
Alvin berdiri. “Papah juga balik ke kamar, nanti papah bisa masuk angin kalau terus di ruang keluarga,” katanya, berbalik dan berjalan menuju kamar.
Akan tetapi, langkah Alvin terhenti tepat di depan pintu dan terdiam beberapa saat samapi akhirnya anak itu berbalik pada Ashqar yang sedang menatapnya bingung.
Alvin kembali memperlihatkan tatapan yang sama yang membuat Ashqar bingung. “Ada apa, mas?”
“Papah sama mamah nggak usah khawatir. Nanti Zain juga ngerti kalau Tante Nita adalah mamah kandungnya, tapi ....”
Ashqar mengerutkan kening. “Tapi?”
“Tapi kayaknya bakal susah buat Zain menerima itu. Karena mamah lebih baik dari ibu kandung kami.”
Setelah mengatakan itu Alvin langsung masuk ke dalam kamar tanpa menoleh ke belakang. Sementara Ashqar, pria itu terpaku ditempat untuk waktu yang cukup lama, mencoba mencerna dengan baik ucapan putranya.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Hi, I'm back! 🤭
__ADS_1
Dilanjut besok dan semoga minggu ini bisa tamat ya 🤧