Gaung Rasa

Gaung Rasa
Si Pembuat Onar dan Si Cengeng


__ADS_3

Saat Alvin membuka pintu kamar Zain, dia melihat adik laki-lakinya itu sedang tertelungkup di atas ranjang.Alvin tidak perlu repot-repot memastikan apa yang sedang Zain lakukan, jawabannya sudah pasti menangis.


Sejak pertama kali datang ke panti asuhan, Zain sudah dikenal sebagai anak yang mudah menangis. Karena dianggap cengeng, banyak anak-anak yang lebih tua senang menjahilinya dengan menyembunyikan barang-barang Zain dan menggodanya dengan kata-kata.


“Waktu itu juga dia kayak gini,” batin Alvin


Sambil mengingat saat pertama kali mereka akhirnya jadi begitu dengat,Alvin duduk di tepi ranjang. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu Zain berhenti menangis.


Alvin baru saja selesai membantu membuang sampah dapur sebagai bentuk hukuman karena berkelahi saat dia berjalan melewati koridor belakang hendak menuju dapur untuk mengembalikan tempat sampah dan melihat tiga anak laki-laki seusianya sedang meributkan sesuatu.


Berbekal rasa penasaran yang besar, Alvin menghampiri mereka. “Kalian ngapain?”


“Alvin!” ucap ketiganya hampir bersamaan.


Alvin melirik anak laki-laki dengan sarung kotak-kotak berwarna hijau tua. “Kamu ngumpetin apa, Bran?”


Gibran menggeleng saat kedua temannya yang lain serentak memelototinya. “Nggak ngumpetin apa-apa, kok.”


“Kalian habis ngejahilin Zain lagi, ya?” tanya Alvin penuh keyakinan. Pasalnya mereka sering dihukum, selain dirinya, karena menjahili Zain.


Ketiga anak di hadapannya terlihat tegang. Alvin terkenal sebagai anak yang suka bikin onar dan sering terlibat perkelahian dengan anak seusianya atau anak yang lebih tua, jadi tentu saja mereka merasa was-was kalau suasana hati Alvin tidak sedang baik dan akan memukul mereka.


“Nggak, kok! Jangan asal tuduh.”


Alvin menatap teman Gibran tak percaya kemudian pandangannya beralih pada Gibran yang terlihat baru saja memasukan seuatu ke dalam saku baju kokonya. “Kasih ke aku yang kamu sembunyiin di saku.”

__ADS_1


Gibran tersentak lalu menggeleng. “Hah? Sembunyiin apa?” Gibran melirik kedua temannya dan memberi kode. “Udah, ah. Kita mau ke mushola.”


Ketika Gibran berbalik, Alvin dengan segera menahan lengannya dan mengambil benda yang Gibran sembunyikan di saku bajunya. Sementara ketika segera pergi menjauh, Alvin terpaku menatan selembar foto kecil yang basah. Dia tidak yakin foto itu milik Zain, tapi melihat sikap Gibran dan kedua temannya membuat Alvin ragu.


“Coba aja, deh.”


Kemudian Alvin mencari Zain, bertanya pada beberapa orang termasuk pengurus panti asuhan. Alvin sebenarnya tidak suka berurusan dengan anak-anak yang lain terutama anak cengeng seperti Zain. Namun, Zain yang hanya diam saja saat dijahili membuatnya kadang gemas sendiri.


“Mas Alvin ngapain ke sini?”


Alvin tersentak. Wajahnya terangkat menatap Zain yang beranjak duduk di atas kasur, persis seperti waktu dia mengembalikan foto itu pada Zain.


“Udah nangisnya?”


Alvin menghembuskan napas pelan. “Kamu tahu kenapa mas bentak kamu?” Wajahnya yang minim ekspresi membuat nyali Zain menciut, padahal dia sudah bertekad tidak akan kalah dari Alvin.


“Nggak tahu,” ucap Zain ketus sambil memalingkan wajah.


“Zain udah nggak sayang Mamah, ya?”


Manik sendu Zain menatap lurus pada Alvin yang masih tanpa ekspresi kemudian dengan perlahan pandangannya turun. “Mamah yang udah nggak sayang sama Zain,” cicitnya.


Alvin tidak menjawab, dia diam memperhatikan Zain meremas seprai bercorak Spiderman hingga kusut di beberapa bagian. Kalau Safira tahu, ibu mereka itu pasti mengomel.


“Karena Mamah nggak dateng pas kamu panggil?” tanyanya, beranjak naik dan duduk bersila di hadapan Zain. Ketika Zain masih menunduk dan hanya menganggukan kepala, Alvin melanjutkan, “Pensilnya, ‘kan, udah ketemu. Mas yang bantuin Zain, kenapa masih nyalahin Mamah?”

__ADS_1


“Zain … Zain maunya Mamah yang dateng,” cicit Zain, melirik Alvin kemudian menundukan kembali pandangannya. “Mamah sibuk sama Harsha terus, Zain nggak suka.”


“Terus Zain mau Harsha dibuang? Atau Harsha dibawa ke panti asuhan kayak kita?”


Mendengar ucapan Alvin membuat Zain langsung mengangkat wajah. “Panti asuhan?” katanya, sedikit tercekat.


Ketimbang rumah pamannya, Zain lebih suka di panti asuhan. Dia mendapat perlindungan yang cukup dan hidup yang lebih baik. Namun, jika dibandingkan dengan rumahnya saat ini, sudah tentu Zain berkali-kali lipat menyukai rumah kedua orang tuanya. Di panti dia memiliki bunda-bunda yang mengurusnya juga banyak teman, tapi di sini dia memiliki mamah dan papah.


“Zain mau Harsha di panti asuhan terus nggak tahu Mamah sama Papah kayak Zain dulu? Zain nggak inget pernah cari-cari Mamah? Emangnya Zain nggak sayang sama Harsha?”


Mendung kembali menghampiri Zain. Bibirnya tertekuk dan air mata kembali menetes satu-satu. “Zain sayang Harsha. Zain cuma sebel.”


Ketika tangis Zain pecah, Alvin memeluknya. “Udah jangan cengeng. Nanti Zain minta maaf sama Mamah,” katanya. Sayangnya hal itu tidak begitu didengar Zain yang tenggelam oleh kesedihan.


.


.


.


✄................................................


Nulis chapter kemaren sama chapter init uh berdasarkan pengalaman pribadi aku yang waktu kecil sebel banget sama adek karena merasa tersaingi wkwkwkk


Ada yang sepengalaman? Atau udah punya anak dua/tiga, apa anak-anaknya kayak Zain – Harsha juga?

__ADS_1


__ADS_2