
Malam harinya, Alvin menunggu Ashqar untuk menyambangi kamarnya. Setelah siang tadi dia menasehati Zain, dia pikir adik dan mamahnya akan berbaikan. Namun, tidak, dan dia juga tidak tahu kenapa. Jadi dia memutuskan untuk berbicara dengan Ashqar.
Alvin duduk di depan meja berlajarnya sambil memeriksa sekali lagi buku yang akan dibawa besok. Saat pintu terbuka dari luar, Alvin menoleh.
“Ada tugas yang belum selesai?” tanya Ashqar, masuk ke dalam tanpa menutup pintu.
Alvin menggeleng. “Nggak, Pah. Tugasnya udah aku selesaiin semua.”
“Terus kenapa masih di meja belajar?”
Alvin menatap Ashqar lamat kemudian dia berjalan melewati Ashqar yang berdiri di depannya untuk menutup pintu. Berjaga kalau-kalau Zain belum tidur dan menyusul ke kamarnya.
Menyadari tingkah Alvin yang lain dari biasanya, Ashqar bertanya, “Ada apa?”
“Alvin mau ngobrol sama Papah,” katanya, setelah yakin pintu terkunci.
Alvin berjalan menuju Ashqar dan hendak kembali ke kursi saat tiba-tiba Ashqar mengangkat tubuhnya tinggi dan mendudukannya di atas ranjang.
“Kelihatannya penting,” ucap Ashqar, menarik kursi belajar Alvin dan duduk di atasnya. “Apa ada masalah?”
Alvin menyamankan diri. Kakinya menggantung di tepi ranjang sementara kedua telapak tangannya ia taruh di sisi tubuh untuk menopang berat badan dan ketika manik matanya bertemu dengan obsidian Ashqar, Alvin merasa aman.
Selama ini Alvin tidak mengenal orang tua kandungnya sama sekali, pengalamannya sebagai anak angkat pun terasa abu-abu. Dia hanya diadopsi beberapa bulan sebelum kemudian akhirnya dikembalikan ke panti, jadi baginya menjadi anak adalah formalitas tanpa basa-basi.
Namun, bersama Ashqar dan Safira, Alvin belajar bagaimana menjadi seorang anak yang memiliki orang tua. Bagaimana caranya menunjukan kasih sayang atau mengutarakan pendapat, meskipun terkadang ada beberapa hal yang ia rasa masih canggung untuk diungkapkan kepada Ashqar.
“Alvin mau tanya soal Mamah, boleh?”
Kening Ashqar berkerut. “Boleh. Mau tanya apa?”
__ADS_1
“Karena sekarang ada Harsha , apa Mamah udah nggak sayang lagi sama Alvin dan Zain?”
Ashqar sedikit terkejut lalu tertegun untuk beberapa saat. Manik matanya masih bersibobrok dengan milik Alvin dan dia menyadari bahwa tak ada keraguan yang putranya lakukan, meskipun Ashqar juga bisa melihat cemas setipis helaian rambut di sana.
Ekspresi Ashqar melembut. “Mamah atau Papah akan selalu sayang sama kalian meskipun sekarang ada Harsha. Justru karena ada Harsha, kasih sayanag mamah dan papah bertambah berkali lipat buat kalian bertiga.” Ashqar memperdalam senyum. “Sekarang papah yang tanya. Kenapa Alvin berpikir kalau Mamah nggak sayang kalian karena ada Harsha?”
Alvin melirik tas sekolah di belakang Ashqar. Pandangannya mengabsen benda-benda di atas meja sampai sebuah robot mobil di ujung meja menarik perhatiannya. Robot itu pemberian Safira saat mereka belum menjadi keluarga.
“Soalnya Mamah sama Harsha terus. Harsha sedikit-sedikit nangis jadi nggak bisa lagi nemenin Alvin sama Zain main sama ngerjain tugas pas pulang sekolah.”
Ucapan Alvin yang terdengar ragu-ragu mengundang Ashqar untuk berpikir cepat. Dia ingat bahwa ada yang aneh dari gerak-gerik anak dan istrinya bahkan sejak ia masuk ke dalam rumah sore tadi.
“Apa terjadi sesuatu saat papah kerja? Apa ada masalah?”
Alvin membola, tetapi tetap menghindari tatapan Ashqar. Saat ini dia merasa seperti seorang pengadu dan jika dia benar-benar menceritakan tenang Zain yang marah terhadap Safira, Alvin akan sangat merasa bersalah kepada adiknya itu. Namun, dia juga tidak ingin jika Safira dan Zain terus-terusan bertengkar.
“Kenapa?” tanya Ashqar dengan nada yang pelan.
Butuh waktu beberapa saaat dan bujukan Ashqar sampai akhirnya Alvin mau bercerita. Dan begitu Alvin selesai bercerita, senyum Ashqar kembali terkembang.
Dia mengulurkan tangan untuk mengusap suarai hitam Alvin. “Makasih, Mas Alvin udah mau cerita sama papah.”
“Kenapa Papah bilang makasih?” tanya Alvin bingung. Hal ini tidak seperti dugaannya. Dia pikir Ashqar akan marah dan langsung menghampiri Zain.
“Karena Alvin udah cerita sama papah. Sebenarnya papah juga merasa aneh, biasanya Mamah banyak bicara, tapi dari papah pulang Mamah malah jadi pendiam. Papah pikir Mamah sakit. Tapi sekarang papah tahu kenapa mamah begitu karena Alvin yang kasih tahu.”
“Oh. Tapi … Papah nggak akan hukum Zain, ‘kan?”
“Papah nggak akan hukum Zain, tapi papah nanti kasih tahu Zain supaya nggak begitu lagi. Mamah masih sakit habis melahirkan makanya Mamah nggak boleh capek. Harsha juga masih kecil, belum bisa apa-apa kalau nggak dibantu sama Mamah. Jadi, papah minta tolong sama Alvin buat bantu Mamah, ya?”
__ADS_1
“Alvin, ‘kan, bantu Mamah setiap hari. Bantu cuci piring sama nyapu lantai.”
Ashqar tergelak. “Bukan itu maksud papah, Jagoan.” Ashqar mengacak surai Alvin gemas. “Maaf, papah salah bilang. Papah minta tolong jagain Mamah, oke?”
Alvin mengangguk. Meski sebenarnya dia tidak begitu paham maksud ucapan Ashqar.
“Alvin jangan berpikir lagi kalau papah sama mamah nggak sayang lagi sama kalian karena ada Harsha, ya?” tanya Ashqar. Saat Alvin kembali mengangguk, dia berdiri dan membimbing Alvin utnuk tidur. “Sekarang waktunya tidur.”
Alvin menikmati perhatian Ashqar yang menghangatkan hatinya. Meskipun ini sudah menjadi kegiatan rutin sejak ia menjadi bagian keluarga. “Pah, Mamah sama Zain bakal baikan, ‘kan?”
Tangan Ashqar menggantung di udara. Dia melihat kekhawatiran di wajah Alvin. “Pasti,” jawabnya mantab, menaruh selimut hingga menutupi dada putranya. “Selamat malam, jangan lupa berdoa.”
Kemudian Ashqar pergi meninggalkan kamar Alvin setelah mematikan lampu. Ashqar melirik jam dinding di atas televisi. Sudah pukul 21.30 malam, seharusnya Safira sudah tidur.
“Siapa tahu belum,” bisiknya, kemudian memutar arah menuju dapur. Segelas susu hangat mungkin akan sedikit menghibur Safira jika istrinya itu benar-benar belum tertidur.
.
.
.
✄................................................
Bersambung
Sampai jumpa besok lagi 👋🏻
Makasih buat semua yang udah baca dan kasih dukungan, maaf banget novel ini updatenya nggak bisa maksimal kayak Ansu.
__ADS_1