Gaung Rasa

Gaung Rasa
Mas Tikar dan Tali Rafia


__ADS_3

Tidak ada yang lebih menyebalkan dari Rafa dan Ashqar yang adu mulut. Dua pria beda usia beberapa bulan itu memperdebatkan boleh atau tidak bolehnya Safira memiliki mobil pribadi sendiri. Sementara Ashqar bersikeras menolak gagasan itu, Rafa sudah tentu menjadi pihak yang paling bersemangat menyetujuinya. Ngomong-ngomong, gagasan itu juga berasal dari Rafa.


“Fi, berhentiin mereka, gih. Berisik banget, udah kayak dua kucing garong mau berantem,” keluh Ranee, melempae dirinya ke sofa.


Safira mencebik. “Ogah! Yang ada aku ikut terseret ditengah-tengah perdebatan mereka.”


“Tapi kalau dibiarin terus nanti kita semua bisa terlambat, Fi.”


Ranee terbiasa melakukan segalanya secara terkoordinir, rencana yang sudah dibuat sebisa mungkin dilakukan dengan baik. Jadi dia cukup sebal dengan kelakuan suami barunya bersama si ipar yang sudah seperti bocah taman kanak-kanak.


Padahal mereka berencana untuk pergi ke Gedongsongo sebelum keluarga mertuanya kembali ke Solo, tidak termasuk Safira. Karena mereka berencana untuk mampir ke tempat lain yang memiliki wahana anak-anak.


“Mbak Vera,” panggil Safira dengan nada dan lirikan dramatis. “Yang lagi mereka perdebatkan itu menyangkut aku yang bahkan nggak peduli sama sekali dan kalau Mbak minta aku kesana!” Tunjuk Safira ke arah suami dan kakak laki-lakinya di ruang kerja kamar president suite milik pengantin baru. “Itu sama aja bunuh diri. Mending Mbak Ve aja yang kesana.”


“Males, ah.”


Safira memutar bola matanya, menyamankan diri dengan berbaring di atas sofa. Menunggu Ashqar dan Rafa selesai berdebat akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan mereka sudah seperti itu sejak sepuluh menit lalu.


Perlahan ia memejamkan mata, menikmati me time yang mulai jarang dirasakan. Untungnya Harsha sedang tidur dan dalam pengawasan Rahma, bersama Alvin dan Zain yang tengah asik bermian video game dikamar mereka.


KLIK!


Suara pintu yang dibuka menarik kembali nyawa Safira yang baru akan meninggalkan tubuh. Sambil menghembuskan napas kasar, ia menegakan tubuh lalu menoleh ke arah pintu.


“Alvin?” panggial Ranee.

__ADS_1


“Bude—”


“Tante, Alvin. Panggil tante jangan bude,” koreksi Ranee.


Alvin terdiam sebentar, menatap Ranee datar. Kemudian berjalan menuju sofa dan duduk di samping Safira. “Iya, Tante.”


“Ada apa, Mas Alvin?” tanya Safira, membenahi ikat rambutnya. “Zain mana?”


“Zain di kamar sama Bude Rahma, sama Uti Harti juga.” Alvin menoleh pada Ranee. “Tante, di luar ada bapak bapak pakai seragam hitam mondar-mandir di depan pintu.”


Baik Ranee maupun Safira sama-sama mengerutkan kening. Keduanya saling bertukar pandang. Ranee lebih dulu berdiri dan melangkah ke pintu kamar dan Safira mengekor.


Begitu pintu terbuka, seorang laki-laki setengah baya dengan seragam hitam langsung menghampirinya.


“Mobil?” ulang Ranee, menoleh pada Safira. “Ashqar pakai jasa valet parkir?”


“Nggak tahu, Mbak. Aku tanyain dulu siapa yang pakai valet parkir, mungkin aja Kak Rafa.”


Safira segera kembali kedalam, menghampiri Ashqar dan Rafa yang sepertinya sudah selesai dengan perdebatan mereka tentang mobil untuknya. Namun, bukan berarti keduanya duduk tenang membahas sesuatu. Justru suami dan kakaknya itu terlalu asik dengan game aksi di ponsel mereka sampai-sampai panggilan Safira tidak digubris sama sekali.


“Mas Tikar. Kak Rafia,” panggil Safira, menarik earphone dari telinga keduanya. “Ikut ke depan pintu sebentar.”


“Ada apa, Fi?”


“Ada apa, Yang?” tanya keduanya bersamaan.

__ADS_1


“Siapa yang paki jasa valet? Ditunggu bapaknya di depan,” kata Safira berbalik dan diikuti Ashqar dan Rafa.


“Pak! Pak! Anu ... saya ganti pakai uang pribadi, tapi tolong jangan lapor ke manajer ya, Pak?” sambar petugas valet.


“Ada apa, Pak? Apa yang mau diganti?” tanya Ashqar, menyelip diantara Safira dan Ranee.


Melihat sepertinya yang ditunggu petugas valet adalah Ashqar, ketiga lainnya kembali masuk ke dalam.


“Jagi gini, Pak. Tadi saya ambil mobil Bapak dari parkiran, tapi waktu keluar nggak sengaja nabrak pembatas dan bagian depannya penyok. Saya tahu mobil Bapak bukan mobil murah, tapi saya bakal ganti pakai uang pribadi saya, Pak. Jadi tolong jangan lapor sama manajer ya, Pak. Saya takut kena pecat.”


Ashqar terdiam sejenak, memperhatikan gerak-gerik pria di depannya yang terlihat begitu ketakutan. Tangan pria itu bergetar, saling bertaut saat berbicara, pandangan matanya juga tak fokus.


“Mobil itu punya istri saya. Saya tanyakan sebentar.”


Ashqar mungkin berdebat dengan Rafa perihal mobil pribadi untuk Safira. Namun, sebenarnya mobil yang saat ini ia gunakan atas nama istrinya. Mobil lama Ashqar dijual karena tak lagi muat untuk membawa semua anggota keluarganya yang sudah mulai besar. Jadilah uang hasil penjualan mobil ditambah tabungan pribadi mereka, ia belikan mobil second lain yang lebih luas dan besar.


.


.


.


✄................................................


See next week, guys~

__ADS_1


__ADS_2