Gaung Rasa

Gaung Rasa
Numpang Makan


__ADS_3

“Kamu ngapain di depan pagar rumah orang?” tanya Rafa, mengekori Safira melewati gerbang. “Kamu nggak nyuri bunga itu, ‘kan?”


Tangan Safira berhenti di udara. “Kakak pikir aku kriminal apa?” jawab Safira ketus, menaruh pot pemberian Hendra di ujung jajaran tanaman hias lainnya.


Safira sebenarnya tidak begitu telaten mengurusi tanaman apalagi beberapa miliknya adalah jenis tanaman yang memerlukan perawatan khusus, dan tanaman-tanaman itu merupakan pemberian Harti saat ia masih hamil Harsha. Katanya untuk melatih kesabaran dan gerak tubuh.


Safira sendiri tidak yakin apa hubungan semua itu dengan kehamilan. Namun, melihat Harti begitu perhatian dan memikirkannya, Safira tidak tega untuk menolak mentah-mentah. Dan sekarang ia mulai kecanduan dengan tanaman-tanaman hias, meskipun masih kalah jauh dengan ibu mertuanya.


“Dulu kamu sering bawa pulang tanaman-tanaman hias.” Rafa bersandar di tembok sambil melipat tangan di dada. “Dan setiap kali ditanya kamu pasti bilang dikasih sama orang. Padahal aku yakin kamu nggak mungkin dikasih, mana ada orang yang kasih tanaman hias hampir setiap hari.”


“Masa, sih?”


Rafa memandang jauh pada langit biru. “Mawar merah, mawar putih, mawar pink, anggrek, sedap malam, melati, dan yang paling bikin heran kamu bawa bibit pohon kamboja.” Suara Rafa terdengar renyah diiringi tawa.


“Eh?” Safira melirik Rafa dari bahunya. “Kok, aku nggak ingat? Emang itu kapan? Aku umur berapa?”


“Sembilan atau sepuluh tahun kayaknya.”


Setelah mengatakannya, Rafa menyadari perubahan suasana dan merasakan sesuatu yang berbeda dari Safira.


“Aku nggak ingat. Kayaknya nggak ada kejadian apapun.” Nada suara Safira berubah datar. Kemudian dia berdiri, menatap kuncup mawar dengan minim emosi. “Kakak salah ingat kali,” katanya, menoleh sambil tersenyum. Lalu dia berjalan melewati Rafa masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Rafa menatap punggung Safira dengan tatapan bingung. Dia yakin jika hal itu bukan ingatan yang keliru, tentang Safira membawa pulang beberapa tanaman hias. Namun, bagaimana bisa adik perempuannya melupakan hal itu? Padahal sembilan atau sepuluh tahun bukan usia dimana mudah melupakan ingatan.


“Kakak! Aku dapet bunga.”


Nyaring suara Safira memenuhi seisi rumah seirama dengan derap langkahnya yang berlari menuju kamar Rafa.


“Kakak, lihat! Aku dapet bunga,” katanya, memamerkan senyum dan pot berisi bunga mawar di tangan.


“Kamu nggak kapok-kapok, ya?” Rafa berkacak pinggang, menatap Safira lelah. “Kalau Ibu tahu kamu nyuri bunga lagi, nanti kamu dihukum.”


Safira merengut. “Fira nggak nyuri, Kak!” sungutnya. Kuncir kudanya bergoyang saat menolak tuduhan Rafa. “Fira dikasih sama pakde ganteng.”


Rafa tidak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan adik perempuannya. Safira hampir setiap hari membawa tanaman-tanaman berbeda. Entah dalam pot atau hanya setangkai bunga. Dan ibu mereka sangat marah setiap kali Safira membawa pot-pot kecil ke rumah, karena menurutnya tidak ada orang yang akan memberikan tanaman-tanaman itu secara gratis. Hal itu juga yang membuat ibu mereka khawatir, takut kalau Safira melakukan sesuatu untuk mendapatkan pot-pot itu.


Lalu ketika Rafa diminta untuk menjemput Safira pulang dari sekolah beberapa kali, dia justru tidak bertemu dengan orang yang memberikan tanaman pada adiknya. Safira juga tidak pernah mengambil tanaman orang lain saat mereka pulang bersama.


“Kakak nggak mau masuk?”


Rafa tersentak. Dia kembali dari ingatan beberapa tahun yang lalu. Kemudian dengan cepat Rafa mengatur ekspresinya saat menoleh pada Safira. Sambil tersenyum lebar, dia berkata, “Ada makanan nggak? Kebetulan kakakmu yang ganteng ini belum sarapan.”


Rafa memasuki rumah. Dia selalu terkesan dengan cara Safira melakukan pekerjaan rumah, rapih dan bersih. Semua barang tertata dengan rapih sesuai porsinya dan hal itu mengingatkannya pada mendiang ibu mereka. Jelas bahwa Safira memiliki sentuhan itu.

__ADS_1


Lalu langkah Rafa terhenti saat tanpa sengaja menangkap sosok mungil kesayangannya, Harsha, yang sedang tertidur di atas sofa. Keponakan kecilnya itu sukses mengalihkan rasa lapar Rafa.


“Kakak kesini cuma mau numpang sarapan doang?” tanya Safira dari dapur, memperhatikan Rafa yang duduk bersila di hadapan Harsha.


.


.


.


✄................................................


Hi, maap ya dari dua hari lalu baru bisa update hari ini.


Buat yang lihat IG Story aku mungkin tahu alasannya, dan makasih juga buat doa baik kalian. Lemah teles, gusti Allah sing bales 🥺😘


But for ow, I’m back!


Makasih udah mau nunggu kelanjutan ceritanya. Peluk online satu-satu 🤗


ps. jaga kesehatan ya gaes, sehat mahal!

__ADS_1


__ADS_2