Gaung Rasa

Gaung Rasa
Penolakan


__ADS_3

“Ini mamahnya Zain!” seru Zain, menatap Ashqar penuh permusuhan.


Ashqar kebingungan. Sangat sulit rasanya menjelaskan hal ini pada anak-anak seusia Zain. Putranya itu kadung berpikir jika Safira adalah ibu kandungnya.


Sejujurnya hal itu bukan masalah bagi Ashqar. Sayangnya, mantan istrinya adalah seorang selebritis dan masalah kemarin sangat bedampak besar bagi mereka semua. Meski ia dan keluarga semaksimal mungkin untuk menjaga lingkungan mereka tetap kondusif, tapi kabar burung tak bisa ia tahan. Apalagi jika yang bertanya adalah anak-anak yang notabenenya masih polos dan rasa ingin tahu.


“Iya, yang Zain peluk emang mamahnya Zain.” Ashqar berbicara selembut mungkin, menaruh harapan agar Zain mau mendengarkan barang sebentar. “Tapi, Nak. Mamah kandung Zain bukan Mamah Safira.”


Zain menggeleng keras dan kembali mengulangi ucapannya beberapa kali. Hal itu membuat Ashqar menghembuskan napas kasar kemudian diliriknya Alvin yang terlihat ingin mendekati Zain. Namun, entah apa yang menghalangi anak itu.


Menyadari ekspresi di wajah Alvin, Ashqar membuka mulut, berharap jika putra sulungnya dapat membantu untuk membujuk Zain. Akan tetapi, belum juga satu kata keluar dari mulutnya, Safira sudah menyela.


“Zain sayang. Anaknya mamah yang ganteng,” ucap Safira lembut, membuat Zain mnenatap wajahnya.


“Zain anaknya mamah. Bukan anaknya Tante Nita,” rengek Zain.


Safira tertegun saat netra mereka bertubrukan. Manik bening Zain berkilau karena air mata yang tertahan di pelupuk mata, ekspresinya menggambarkan kesedihan yang membuat Safira terenyuh.


Safira menguatkan hati untuk mengembangkan senyum tipis dan membelai pelipis Zain hingga ke pipinya yang gembil. “Mamah sayang banget sama Mas Zain. Mas Zain juga sayang sama mamah. ‘kan?”

__ADS_1


Zain mengangguk.


“Zain ingat waktu Harsha belum lahir, Harsha ada dimana?”


Zain berdengung. “Disini,” cicitnya, menunjuk perut Safira.


“Mas Zain juga sama. Sebelum lahir dan besar seperti sekarang yang pinter berhitung, pinter membaca, Mas Zain juga ada di dalam perut. Tapi bukan di perut mamah, tapi di perut Tante Nita.”


Safira tanpa sadar menahan napas menunggu reaksi Zain. Hal ini pernah Zain tanyakan padanya, tetapi Safira berhasil menjawab dengan aman saat itu.


“Tapi, tapi ... Zain anaknya siapa?” kata Zain dengan suara bergetar.


Sebilah belati menusuk Safira tepat di jantung dan membuat tak hanya dada saja yang terasa nyeri, tapi juga seluruh tubuh. Safira dengan sengaja menggigit sedikit lidahnya, ia tak ingin tiba-tiba terisak di depan kedua putranya dan membuat mereka semakin bingung.


“Zain anaknya mamah dan papah, tapi Zain juga anaknya Tante Nita,” ucap Ashqar, membelai surai Zain.


Zain lagi-lagi menggeleng. Bocah itu kembali memberikan penolakan. “Nggak mau! Mamah cuma satu aja!” jeritnya sambil memeluk leher Safira dan menenggelamkan wajahnya disana.


“Zain.”

__ADS_1


“Pah,” ucap Safira, menahan Ashqar yang sudah terlihat hampir putus asa. “Kasih waktu sebentar buat Zain.”


Ashqar menyisir rambut ke belakang lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Setelah beberapa kali mengatur napas, Ashqar memejamkan mata dan bersandar pada sofa.


Ashqar tahu bahwa menjelaskan hal ini bukan pekerjaan yang mudah, tapi jelas ia tak menduga akan sesulit ini setelah benar-benar menghadapinya. Sejak awal Zain sudah berpikir jika ibu yang ia cari adalah orang yang sama dengan ibu yang telah melahirkannya. Bahkan mungkin saja rasa sayang Zain terhadap Safira mengalahkan rasa sayangnya pada Nita.


Andai saja gosip itu tidak menjadi besar atau malah tidak pernah ada, maka sudah pasti keluarga kecilnya tak akan menghadapai situasi seperti ini. Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Seperti nasehat ibunya, Harti, sesuatu yang sudah terjadi tidak boleh disesali karena hal itu adalah perbuatan yang sia-sia. Waktu tak bisa diputar mundur atau dipaksa untuk maju.


“Zain meluknya jangan kenceng-kenceng, mamah sakit nanti.”


Suara Alvin yang tenang menarik Ashqar dari lamunannya. Tanpa membuka kelopak mata, Ashqar memasang telinga.


“Zain,” panggil Alvin lagi karena adiknya itu tak mau menuruti ucapannya. “Kamu mau mamah kesakitan.”


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Bersambung~


__ADS_2